Sejuta Manfaat Bersyukur untuk Kesehatan Mental

Oleh dr. Nadia Octavia pada 10 May 2019, 10:00 WIB
Dengan bersyukur pada apa yang dimiliki saat ini, kesehatan mental Anda bisa menjadi semakin baik lagi. Ini alasannya.
Sejuta Manfaat Bersyukur untuk Kesehatan Mental (Hrecheniuk Oleksii/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Setiap manusia di dunia dianjurkan untuk banyak-banyak bersyukur. Apapun keadaan yang yang dirasakan ini, rasa syukur diharapkan terus terlontar dari dalam hati dan mulut Anda. Bukan tanpa alasan, bersyukur nyatanya mampu meningkatkan kesehatan mental, lho!

Hal tersebut dibuktikan oleh sebuah studi yang dipublikasikan di Harvard Health Publishing: Harvard Medical School, Amerika Serikat. Tim peneliti yang tergabung mencari tahu manfaat bersyukur terhadap kesehatan mental seseorang.

Pada penelitian tersebut, responden dibagi menjadi tiga. Kelompok pertama diminta untuk menulis mengenai hal-hal yang membuat mereka bersyukur dalam satu minggu, kelompok kedua diminta untuk menulis segala sesuatu yang sudah mengecewakan, dan kelompok ketiga diminta untuk menulis kejadian yang sudah berpengaruh positif maupun negatif dalam hidup.

Setelah 10 minggu, tim peneliti menemukan hasil bahwa kelompok dengan tulisan tentang rasa bersyukur mampu merasa lebih optimis, lebih baik, dan lebih semangat dalam menjalani kehidupan. Bahkan, kelompok tersebut juga cenderung berolahraga lebih sering dan lebih jarang berobat ke dokter.

Lebih dari itu, peneliti juga mengatakan bahwa kelompok responden yang sering bersyukur memiliki kualitas tidur yang lebih baik. Ini karena rasa syukur yang selalu ada di dalam hati membuat pikiran selalu positif dan tubuh selalu merasa relaks. Alhasil, kemudahan untuk tidur sangat mungkin dicapai.

Bersyukur bisa optimalkan kualitas tidur

Pada studi lain yang dimuat di jurnal Applied Psychology: Health and Well-Being, disebutkan bahwa menulis jurnal yang berisi hal-hal positif dan mensyukurinya selama 15 menit sebelum tidur akan benar-benar mampu mengoptimalkan kualitas tidur.

Senada dengan itu, penelitian lain yang dilakukan oleh the University of Manchester di Inggris juga mendukung hal yang sama. Studi ini dilakukan pada 400 orang dewasa yang 40% di antaranya mengalami gangguan tidur.

Para peserta studi diminta untuk mengisi kuesioner mengenai hal-hal positif yang disyukuri dan pikiran apa saja yang sering mengganggu sebelum waktu tidur. Setelah hasilnya diakumulasi, peneliti mengatakan bahwa peserta studi yang bersyukur sebelum tidur terhindar dari gangguan cemas yang sering datang di malam hari sehingga mereka mereka bisa memiliki kualitas tidur yang lebih baik.

Tak berhenti di situ, penelitian lain oleh the University of Kentucky di Amerika Serikat juga menemukan manfaat bersyukur. Penelitian ini menemukan bahwa partisipan studi yang sering bersyukur bisa lebih berempati, tidak merasa dendam atau iri hati dan bersikap lebih positif dengan orang lain.

Tim peneliti juga mengatakan bahwa rasa syukur sejatinya mampu mencegah penyesalan berlarut-larut, sehingga tidak berujung pada perasaan depresi.

Seakan tak ada habisnya, bersyukur ternyata juga bisa mampu menurunkan tingkat stress. Bersyukur juga bisa mencegah dampak trauma di masa mendatang.

Hal ini dibuktikan oleh penelitian yang dipublikasikan di jurnal Behavior Research and Therapy. Penelitian tersebut menemukan bahwa bahwa veteran perang Vietnam yang sering mengekspresikan rasa syukur cenderung terhindar dari post-traumatic stress disorder (PTSD).

Kondisi tersebut berkaitan dengan pengalaman atau menyaksikan dengan kejadian-kejadian traumatic. Misalnya kondisi mengancam jiwa atau fisik, situasi saat Anda hanya bisa pasrah, atau keadaan sangat mengerikan yang bahkan bisa menyebabkan kematian.

Itulah sejuta manfaat yang bisa Anda rasakan selalu bersyukur. Jika memang Anda kesulitan untuk mengucap syukur dengan keadaan saat ini, cobalah lihat ‘ke bawah’. Renungkan sejenak, dan bandingkan kenikmatan yang Anda miliki dengan orang-orang yang kurang beruntung tersebut. Apakah setelah itu Anda bisa bersyukur dengan keadaan yang saat ini dimiliki? Jika masih kesulitan juga, jangan sungkan berkonsultasi lebih lanjut pada psikolog atau psikiater.

(NB/ RVS)