Ketahui Beda Cacar Monyet dan Cacar Air

Oleh dr. Nadia Octavia pada 14 May 2019, 08:00 WIB
Kasus cacar monyet yang tengah dibicarakan mungkin memantik pertanyaan dalam benak Anda: apa bedanya dengan cacar air?
Ketahui Beda Cacar Monyet dan Cacar Air (Foto: face2faceafrica.com)

Klikdokter.com, Jakarta Penyakit cacar monyet masih terdengar asing bagi masyarakat Indonesia. Lalu apa bedanya dengan cacar air yang merupakan kasus umum di Indonesia? Pertanyaan tersebut pasti muncul setelah maraknya pemberitaan mengenai kasus cacar monyet beberapa hari terakhir ini.

Kasus cacar monyet yang ditemukan di Singapura, kini memang dikhawatirkan akan masuk ke Indonesia melalui Batam. Pemerintah Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau kini tengah mengantisipasi penularan virus cacar monyet dengan berbagai cara agar tidak menyebar masuk ke Indonesia.

Cacar monyet dan cacar air

Cacar monyet merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus monkeypox. Adapun cacar air atau varisela merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh infeksi virus varicella zoster.

Sementara itu, gejala awal cacar monyet antara lain:

  • Demam
  • Nyeri kepala
  • Nyeri otot
  • Nyeri punggung
  • Pembesaran kelenjar getah bening
  • Menggigil

Gejala awal cacar air juga hampir sama dengan cacar monyet, yakni demam tidak terlalu tinggi, lemah, lesu dan nyeri kepala. Namun, setelah gejala ini, penderita cacar air juga akan mengalami timbulnya lesi kulit berupa lenting yang mirip tetesan embun.

Penyebaran lesi ini terutama di daerah badan, kemudian menyebar ke area wajah, kaki, dan tangan. Lesi ini bahkan dapat menyerang selaput lendir mata, mulut, dan saluran napas bagian atas. Jika terdapat infeksi bakteri, dapat terjadi pembesaran kelenjar getah bening. Penyakit cacar air biasanya disertai dengan rasa gatal yang mengganggu.

Sementara itu, pada cacar monyet dalam 1-3 hari (terkadang lebih lama) setelah adanya gejala demam, pasien akan mengalami ruam di kulit yang pertama kali terjadi di wajah, lalu menyebar ke seluruh tubuh. Ruam di kulit bisa berubah lenting, benjolan kecil, bintik kecil, benjolan yang disertai nanah dan disertai keluhan gatal di kulit.

Keluhan ini biasanya berlangsung selama 2-4 minggu. Di Afrika, penyakit cacar monyet dilaporkan menjadi penyebab kematian pada 1 dari 10 orang.

Penularan cacar monyet dan cacar air

Penularan cacar monyet terjadi ketika seseorang berkontak langsung dengan hewan, manusia, atau benda yang terkontaminasi virus. Adapun virus dapat masuk melalui kulit yang luka (meski luka tidak terlihat), saluran pernapasan, membran mukosa (mata, hidung, mulut).

Penularan dari hewan ke manusia dapat terjadi melalui gigitan atau goresan, konsumsi daging hewan liar, kontak dengan benda yang terkontaminasi (misalnya sprei), dan kontak langsung dengan cairan tubuh yang terkontaminasi.

Lantas, bagaimana dengan cacar air? Pada cacar air, penularan terjadi melalui kontak dengan droplet (batuk, bersin, dsb) orang yang terinfeksi dan masuk melalui saluran napas.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC) di Amerika Serikat, hingga kini belum ada obat spesifik untuk menangani penyakit cacar monyet. Namun, jika seseorang terbukti terjangkit penyakit cacar monyet, disarankan untuk langsung diberikan vaksin smallpox (penyebab penyakit variola) karena virus penyebab cacar monyet hampir mirip dengan virus penyebab variola.

Sejak 1984, World Health Organization atau WHO menyatakan seluruh dunia telah bebas penyakit variola. Namun dengan adanya penyakit cacar monyet, kewaspadaan terhadap virus variola perlu ditingkatkan. Selain vaksinasi, sama seperti cacar air, penderita cacar monyet juga diberikan obat-obatan antivirus.

Kasus cacar monyet yang kini sedang viral, tentu perlu diwaspadai. Meski memiliki nama yang mirip, tapi cacar monyet dan cacar air memiliki gejala, penanganan, dan cara penularan yang berbeda. Senantiasa jaga daya tahan tubuh Anda tetap baik agar tidak mudah terinfeksi penyakit.

[HNS/ RVS]