Normalkah Menggunakan Kacamata Plus di Usia Muda?

Oleh dr. Valda Garcia pada 15 May 2019, 09:30 WIB
Tak sedikit orang yang sudah menggunakan kacamata plus di usia muda. Apakah Anda salah satunya?
Normalkah Menggunakan Kacamata Plus di Usia Muda? (Quality Stock Arts/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Kacamata plus menjadi suatu benda yang identik dengan usia tua. Sebab benda yang sering disebut dengan kacamata baca ini tersusun atas lensa positif atau plus, sehingga dapat membantu orang para lanjut usia atau lansia untuk melihat sesuatu yang jaraknya dekat.

Perlu Anda tahu, kebutuhan orang lanjut usia untuk memakai kacamata plus adalah karena mereka mengalami presbiopia. Ini adalah suatu kondisi penurunan derajat penglihatan yang berkaitan dengan usia dan proses penuaan.

Pada orang dengan presbiopia atau “mata tua”, lensa mata tidak dapat berakomodasi dengan baik. Sehingga, tidak dapat membiaskan sinar yang masuk ke dalam mata hingga fokus pada satu titik tepat di retina.

Presbiopia biasanya mulai terjadi ketika memasuki usia 40 tahun. Seseorang akan mulai mengeluhkan sulit untuk membaca atau melakukan kegiatan dalam jarak pandang yang dekat.

Kacamata plus pada usia muda

Anggapan bahwa kacamata plus hanya untuk orang lanjut usia rasanya sudah tidak berlaku lagi di zaman sekarang. Ini karena banyak usia muda, bahkan anak-anak yang juga mulai menggunakannya. Jangan-jangan, Anda salah satunya?

Jika ya, tenanglah. Penggunaan kacamata plus di usia muda tergolong sebagai hal yang normal. Dengan catatan, kacamata yang dimaksud adalah kacamata dengan lensa sferis positif yang digunakan untuk koreksi pada gangguan refraksi hipermetropia.

Hipermetropia atau farsightedness dengan nama lain rabun dekat adalah salah satu gangguan refraksi di mana sinar yang masuk melalui mata dibiaskan pada satu titik di belakang retina. Berbagai kalangan dan golongan usia dapat mengalami kondisi ini, termasuk bayi.

Pada hipermetropia, terapi jangka panjang yang dapat digunakan adalah kacamata dengan lensa sferis positif. Kacamata dengan lensa tersebut memungkinkan bayangan bergeser ke depan agar jatuh tepat di retina, sehingga orang dengan gangguan hipermetropia dapat melihat dengan jelas. Dengan kata lain, gangguan yang dialami pasien hipermetropia dapat dikoreksi menggunakan kacamata lensa positif alias kacamata plus.

Faktanya, berdasarkan Global Data on Visual Impairment yang dilansir oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO), penyebab masalah penglihatan terbanyak di dunia adalah gangguan refraksi dengan persentase 42%. Gangguan refraksi di dalamnya, termasuk hipermetropia. Bahkan, merupakan hal yang lumrah jika anak kecil mengalami hipermetropia.

Dari penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa penggunaan kacamata plus pada usia mudah adalah hal yang normal dan sah-sah saja. Anda tak perlu khawatir, apalagi jika kacamata plus yang digunakan terdiri dari lensa sferis positif yang bertujuan untuk membenahi gangguan refraksi hipermetropia.

Hal yang harus dikhawatirkan adalah jika orang usia muda menggunakan kacamata plus karena dirinya mengalami presbiopia prekoks alias “mata tua” yang terjadi sebelum usia 40 tahun. Bila kasusnya seperti ini, jangan tunda untuk segera memeriksakan diri ke dokter spesialis mata.

(NB/ RVS)