Menilik Bahaya Cacar Monyet pada Ibu Hamil

Oleh dr. Sara Elise Wijono MRes pada 15 May 2019, 14:30 WIB
Penyakit cacar monyet kini tengah diantisipasi penyebarannya. Jika menjangkiti ibu hamil, apa akibatnya?
Menilik Bahaya Cacar Monyet pada Ibu Hamil (cunaplus/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Penyakit cacar monyet yang terdeteksi di Singapura – dan dikhawatirkan masuk ke Batam – bisa menular kepada siapa saja, termasuk ibu hamil. Oleh karena itu masyarakat perlu mewaspadai penyebaran penyakit ini.

Fakta membuktikan, ibu hamil adalah salah satu golongan yang termasuk rentan terserang penyakit infeksi. Sebab kehamilan membuat sistem kekebalan tubuh menurun, di mana keadaan ini bertujuan agar tubuh tidak mendeteksi janin sebagai benda asing yang berbahaya.

Cacar monyet pada ibu hamil

Penyakit cacar monyet yang disebabkan virus orthopox – atau monkeypox – ini menimbulkan sejumlah gejala yang mirip penyakit cacar variola (smallpox). Penderita akan mengalami demam tinggi, pembesaran kelenjar getah bening, badan lemas, ruam merah, dan muncul lenting berisi air yang mudah pecah.

Sayangnya, meski sudah ditemukan sejak empat dekade lalu, informasi mengenai cacar monyet masih cukup terbatas. Pengetahuan mengenai penyakit infeksi ini pada ibu hamil dan efeknya pada janin juga sangat minimal.

Salah satu informasi berharga didapatkan dari penelitian di Republik Demokratik Kongo, di mana empat ibu hamil dengan cacar monyet diikuti perkembangannya. Keempat kasus ini menunjukkan, tidak ada hubungan antara tingkat keparahan penyakit dan efeknya terhadap janin.

Lebih spesifik, wanita pertama dilaporkan menderita cacar monyet ringan dan mampu melahirkan bayi sehat yang cukup bulan tanpa gejala infeksi cacar monyet. Sementara itu, wanita kedua dan ketiga yang terserang cacar monyet derajat menengah dan berat saat usia kehamilan trimester pertama berakhir, mengalami keguguran.

Bagaimana dengan wanita nomor empat? Wanita ini terkena infeksi cacar monyet derajat menengah dan mengalami kematian janin di dalam kandungan. Saat diperiksa lebih lanjut, janin yang lahir mati tersebut menunjukkan beberapa ciri khas infeksi cacar monyet, seperti ruam kulit berbentuk benjolan di kepala, batang tubuh, dan ekstremitas (terutama telapak tangan dan kaki).

Saat dilakukan evaluasi lebih lanjut, tim peneliti mendapati bahwa meninggalnya janin di dalam kandungan adalah akibat infeksi cacar monyet yang menembus plasenta.

Tak jauh berbeda dengan temuan tersebut, studi lain juga menyebut bahwa penularan cacar monyet dari ibu ke janin adalah sebuah kemungkinan. Pada kasus ini, subjeknya adalah ibu hamil 24 minggu yang terkena cacar monyet. Setelah 6 minggu kemudian, ibu tersebut melahirkan bayi prematur dengan ruam kulit menyeluruh yang serupa dengan penyakit cacar monyet. Beberapa minggu setelah dilahirkan, bayi tersebut meninggal akibat malnutrisi.

Dari beberapa penelitian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa virus orthopox dapat menyebabkan kematian janin. Pada wanita hamil dengan infeksi smallpox (disebabkan virus serupa orthopox) ditemukan lebih banyak komplikasi kehamilan, seperti persalinan prematur, kematian janin dalam kandungan, serta keguguran spontan.

Mengetahui bahwa cacar monyet sangat berbahaya – termasuk pada ibu hamil - Centers for Disease Control and Prevention (CDC) merekomendasikan setiap wanita untuk menerima vaksin smallpox tanpa memperhatikan status kehamilan. Vaksin tersebut dinilai efektif hingga 85% untuk mencegah kasus cacar monyet. Di sisi lain, vaksin smallpox memiliki potensi yang kecil untuk menyebabkan kelahiran prematur serta kematian janin. Karenanya, sebelum menerima vaksin ini, konsultasikan segala sesuatunya dengan dokter yang merawat Anda.

(NB/ RVS)