Gejala Awal Difteri yang Jarang Diketahui

Oleh dr. Muhammad Iqbal Ramadhan pada 16 May 2019, 08:45 WIB
Difteri masih ada di Indonesia. Penyakit infeksi akut menular ini bisa berbahaya. Sayangnya, gejala awalnya jarang diketahui. Apa saja?
Gejala Awal Difteri yang Jarang Diketahui (Foto: healthand.com)

Klikdokter.com, Jakarta Difteri adalah infeksi yang menyerang tenggorokan atau saluran napas atas. Penyakit menular ini pun jika tidak ditangani dengan benar bisa begitu berbahaya hingga menghilangkan nyawa. Sayangnya, pengetahuan akan penyakit ini belum diketahui secara luas. Gejala awalnya pun masih tergolong jarang diketahui.

Difteri biasanya mengakibatkan sakit tenggorokan, demam, pembengkakan kelenjar, serta badan lemas. Ciri khasnya adalah adanya selaput putih berwarna putih keabu-abuan dan sedikit tebal, menutupi bagian belakang tenggorokan. Selaput khas tersebut dapat menghalangi jalan napas, sehingga penderitanya bisa kesulitan bernapas.

Kasus difteri sudah sangat jarang terjadi di negara-negara maju berkat program vaksinasi yang meluas. Obat-obatan pun sudah tersedia untuk mengobati penyakit yang sempat mewabah di Indonesia tahun 2017 ini.

Namun, pada stadium lanjut, difteri dapat merusak jantung, ginjal, dan sistem saraf. Bahkan dengan pengobatan pun, difteri bisa mematikan. Tercatat sebanyak 3 persen penderita meninggal dunia. Angka tersebut lebih tinggi untuk penderita anak-anak usia di bawah 15 tahun.

Penyebab difteri dan penularannya

Difteri disebabkan oleh infeksi bakteri Corynebacterium diphtheriae. Penularan biasanya menyebar melalui kontak orang ke orang, atau kontak dengan benda-benda yang terkontaminasi bakteri tersebut, misalnya cangkir atau tisu bekas.

Anda juga mungkin bisa tertular difteri jika berada di sekitar penderita ketika ia bersin, batuk, atau meniup hidung. Bahkan, jika orang yang sudah terinfeksi tidak menunjukkan tanda dan gejala difteri, ia masih bisa menularkan bakteri hingga 6 minggu setelah infeksi awal.

Corynebacterium diphtheriae paling sering menginfeksi hidung dan tenggorokan. Setelah Anda terinfeksi, bakteri melepaskan zat racunnya, lalu akan menyebar melalui aliran darah, sehingga sering mengakibatkan terjadinya lapisan putih keabuan tebal di area hidung, tenggorokan, lidah, ataupun jalan napas.

Dalam beberapa kasus, zat racun yang dilepaskan tersebut juga bisa merusak organ lain seperti ginjal, jantung, dan otak. Kondisi ini bisa memunculkan komplikasi yang berpotensi mengancam jiwa, seperti:

  • Miokarditis atau radang otot jantung
  • Kelumpuhan
  • Gagal ginjal
1 of 2

Gejala awal difteri yang mungkin jarang diketahui

Tanda dan gejala penyakit ini biasanya dimulai 2-5 hari  setelah setelah infeksi terjadi, yang meliputi:

  • Munculnya selaput putih keabu-abuanan tebal yang menutupi tenggorokan, lidah, dan tonsil (amandel).
  • Sakit tenggorokan dan suara serak.
  • Kelenjar bengkak (pembesaran kelenjar getah bening) di leher Anda.
  • Kesulitan bernapas atau napas menjadi cepat.
  • Adanya cairan pada hidung (nasal discharge).
  • Demam dan menggigil.
  • Rasa letih dan lemas.

Pada beberapa orang, infeksi dari bakteri penyebab difteri hanya menyebabkan penyakit ringan atau tidak ada tanda dan gejala sama sekali. Orang yang terinfeksi bisa tak sadar akan penyakitnya (dikenal sebagai pembawa atau carrier). Orang tersebut tetap dapat menyebarkan infeksi tanpa mengalami gejala penyakit itu sendiri.

Tipe kedua dari dari penyakit ini adalah difteri kulit. Penyakit ini dapat memengaruhi permukaan kulit, menciptakan rasa sakit, kemarahan, serta pembengkakan yang khas yang terkait dengan infeksi kulit akibat bakteri lainnya.

Ulkus atau luka yang ditutupi oleh membran abu-abu juga dapat berkembang pada difteri tipe ini. Meskipun umumnya lebih sering terjadi di daerah beriklim tropis, difteri ini juga bisa terjadi di negara dengan empat musim, terutama pada orang-orang dengan kesadaran kebersihan yang buruk atau padat penduduk.

Jika Anda, anak, ataupun orang-orang di sekitar Anda mengalami gejala-gejala yang disebutkan tadi, atau telah terpapar penderita difteri, segera periksakan diri ke dokter. Pencegahan paling efektif adalah dengan vaksin. Jika belum atau lupa pernah mendapatkannya atau tidak, konsultasikan dengan dokter dan jadwalkan vaksin difteri.

(RN/ RVS)

Lanjutkan Membaca ↓