Cacar Monyet Bisa Menular Lewat Cara Ini

Oleh dr. Atika pada 16 May 2019, 11:15 WIB
Kasus cacar monyet ditemukan Singapura. Kenali bagaimana cara penularannya agar Anda bisa melakukan langkah antisipasi dan pencegahan.
Cacar Monyet Bisa Menular Lewat Cara Ini (Foto: natural-health-news.com)

Klikdokter.com, Jakarta Penyakit cacar monyet yang beberapa waktu lalu terdeteksi di Singapura, dikhawatirkan masuk ke Indonesia melalui Batam. Beragam langkah antisipasi pun dilakukan, termasuk dengan mengenai cara penularan penyakit ini.

Penyakit yang disebabkan oleh virus monkeypox ini, ditemukan pertama kali pada tahun 1970 di negara Kongo. Awalnya, cacar monyet hanya endemis di daerah hutan hujan di Afrika Barat dan Tengah. Bahkan, 1996-1997 terjadi wabah cacar monyet di Kongo.

Kenali gejala awal cacar monyet

Periode inkubasi penyakit cacar monyet rata-ratanya adalah selama 12 hari, namun bisa terjadi dalam jangka waktu yang lebih singkat, yakni sekitar 4 hari hingga 20 hari. Biasanya pada fase prodromal yang berlangsung 1-10 hari, gejala yang muncul pertama kali adalah demam tinggi.

Orang yang terserang cacar monyet bisa mengalami gejala awal seperti demam, nyeri kepala, pembesaran kelenjar getah bening, nyeri punggung, nyeri otot, dan tubuh terasa lemas.

Sementara itu, ruam akan muncul pada hari pertama hingga ketiga setelah munculnya demam, biasanya bermula di wajah, hingga kemudian menyebar ke seluruh tubuh. Area yang paling sering terkena adalah tangan dan telapak kaki.

Angka kematian yang dilaporkan akibat cacar monyet terbilang cukup tinggi di Afrika, yaitu antara 1-10 persen.

Hal ini terkait dengan komplikasi yang bisa muncul dari penyakit cacar monyet, misalnya radang paru dan bronkus (bronkopneumonia), kesulitan bernapas, penyebaran kuman di darah (septicemia), hingga radang otak (ensefalitis). Angka kematian dari penyakit ini paling banyak dialami oleh anak-anak.

1 of 2

Penularan cacar monyet

Cacar monyet merupakan jenis penyakit yang berasal dari hewan (zoonotic disease). Penularan terjadi akibat kontak dengan hewan yang sakit, misalnya anjing, kelinci, tikus, mencit, monyet, landak, serta rusa.

Setelah terjadi wabah cacar monyet tahun 2003 di Amerika Serikat, CDC (Center for Disease Control and Prevention) memberlakukan embargo terhadap impor seluruh jenis hewan pengerat dari Afrika.

Sebab, kebanyakan dari pasien cacar monyet di Amerika pada waktu itu dilaporkan telah berkontak erat dengan tupai tanah yang dijadikan peliharaan (yang kemungkinan terinfeksi oleh hewan pengerat dari Afrika) dan diimpor ke negara tersebut.

CDC dan FDA (Food and Drug Administration) di Amerika juga juga mengeluarkan larangan untuk pelepasan jenis hewan pengerat yang berasal dari Afrika ke alam liar, misalnya tupai, landak, tikus, dan mencit.

Selain itu, mengolah atau menelan daging hewan yang terinfeksi terutama dalam keadaan tidak matang juga dapat berisiko terkena infeksi cacar monyet.

Pada beberapa kasus, infeksi juga terjadi akibat kontak langsung dengan darah, cairan tubuh, serta ruam kulit atau mukosa dari hewan yang terjangkit virus cacar monyet.

Penularan sekunder, yaitu antar manusia, dapat terjadi akibat kontak erat dengan lendir pernapasan, ruam kulit, serta cairan tubuh lain dari orang penderita cacar monyet. Infeksi bisa terjadi lewat kontak yang erat dan lama, sehingga anggota keluarga dari orang yang tertular cacar monyet memiliki risiko yang lebih besar.

Penularan pada janin juga dapat terjadi ketika ibu hamil mengalami cacar monyet (cacar monyet kongenital).

Terdeteksinya penyakit cacar monyet di Singapura dan dikhawatirkan masuk ke Indonesia lewat Batam, membuat masyarakat menjadi resah. Dengan mengetahui cara penularan penyakit cacar monyet, Anda akan bisa lebih waspada terhadap penyebaran penyakit ini.

[NP/ RVS]

Lanjutkan Membaca ↓