Tips Kendalikan Emosi Saat Puasa agar Tak Mudah Marah

Oleh Ayu Maharani pada 16 May 2019, 17:00 WIB
Saat puasa, mengendalikan emosi agar tak mudah marah bisa jadi sebuah tantangan yang berat. Agar tak batal, ikuti caranya berikut ini.
Tips Kendalikan Emosi Saat Puasa agar Tak Mudah Marah (Vectorfusionart/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Di luar bulan puasa, saat ada kondisi yang tidak mengenakkan hati, Anda bisa langsung mengungkapkannya. Entah itu diungkapkan dengan cara menangis ataupun marah. Sayangnya, saat puasa, Anda harus bisa mengendalikan emosi dan tak boleh mengeluarkannya begitu saja.

Anda harus bisa mengendalikan emosi sebaik mungkin, sehingga ketika ada hal-hal yang menyulut emosi, Anda bisa tetap tenang dan berkepala dingin. Lagi pula, rugi ‘kan kalau puasa batal hanya karena tak bisa menahan marah?

Jadi, cobalah cara-cara mengendalikan emosi berikut ini agar puasa Anda tidak batal.

  • • Berwudu dan ganti posisi

Saat menjalankan ibadah puasa Ramadan, seorang mulim tidak hanya dituntut untuk bisa menahan lapar dan haus, tetapi juga meredam rasa marah. Dilansir islamreligion.com, salah satu cara menahan marah yang dituntunkan oleh Islam adalah dengan berwudu.

Jika Anda merasa marah atau emosi bergejolak karena suatu hal, disarankan untuk berwudu. Air yang mengalir mengenai wajah, tangan, kepala dan kaki akan menyalurkan perasaan sejuk ke seluruh tubuh. Sehingga rasa marah yang membakar bisa padam. Selain itu, perhatikan pula posisi Anda. Apabila keinginan marah timbul saat Anda berdiri, Anda disarankan untuk duduk. Dan ketika rasa marah itu masih ada saat Anda duduk, maka berbaringlah sejenak. Mengubah posisi seperti itu dipercaya bisa menenangkan diri dan menurunkan gejolak emosi.

  • • Cobalah untuk diam dan hindari pemicunya

Jika ada sesuatu yang menyinggung dan membuat Anda naik pitam, jangan langsung merespons balik dengan kata-kata yang kejam. Cobalah untuk berdiam diri dulu dan berikan waktu bagi tubuh serta pikiran untuk meredakan amarah dengan sendirinya.

Hal itu pun dibenarkan oleh dr. Resthie Rachmanta Putri, M.Epid dari KlikDokter. Menurutnya, ketika diam, Anda bisa sambil menarik napas dalam untuk meredakan emosi. “Setelah itu, ambillah jarak dari sumber penyebab kemarahan,” jelas dr. Resthie. Semakin Anda dekat dengan sumber api, makin sulit Anda meredakan emosi. Logis sekali, bukan?

1 of 2

Selanjutnya

  • • Berpikir sebelum berbicara

Jangan pernah merespons apa pun ketika kondisi emosi Anda sedang tidak stabil. Pikirkan dulu apa yang akan Anda katakan agar tidak menjadi bumerang yang justru merugikan diri Anda sendiri. Biasanya, kata-kata yang sudah dipikirkan dengan lebih masak akan lebih “mematikan”, sehingga orang yang membuat Anda marah itu akan terdiam dan tidak bisa membalas lagi. Tapi ingat, atur nada bicara dan jangan pakai umpatan!

  • • Lakukan aktivitas fisik ringan sejenak

Beraktivitas fisik ringan baik untuk mengendalikan emosi. Kegiatan tersebut sangat dianjurkan untuk mengurangi stres yang dapat berujung pada perasaan marah. Cobalah berjalan kaki sebentar ke luar rumah atau gedung kantor, berkeliling dan lihatlah pemandangan sekitar.

Akan lebih baik lagi jika ada alat olahraga di rumah Anda, misalnya treadmill atau samsak tinju. Anda bisa meluapkan emosi dengan menggunakan alat olahraga tersebut. Tapi ingat, tak perlu berolahraga terlalu keras. Bisa-bisa bukan marah yang membatalkan puasa, melainkan rasa haus karena terlalu lelah.

  • • Dengarkan lagu dan cobalah tidur

Pasang earphone dan pergilah ke tempat yang cukup tenang. Jika keadaannya memungkinkan, tidurlah sebentar. Sebab, menurut dr. Nabila Viera Yovita dari KlikDokter, tidur dapat memperbaiki suasana hati dan dapat membuat performa tubuh jadi jauh lebih baik. Bila Anda tipikal orang yang selalu membawa wewangian atau aroma terapi, Anda juga bisa mencium wangi tersebut agar kondisi menjadi lebih tenang.

Mengendalikan emosi saat puasa memang susah-susah gampang. Jadi, sebisa mungkin hindarilah percakapan ataupun perilaku yang memicu timbulnya rasa marah. Lakukan langkah-langkah di atas jika Anda perlukan. Satu hal yang perlu Anda ingat, tidak semua perselisihan atau konflik harus berakhir dengan emosi yang meluap-luap dan rasa marah yang membakar.

[MS/ RVS]

Lanjutkan Membaca ↓