Kebiasaan Seks Oral Bisa Picu Radang Tenggorokan?

Oleh dr. Nadia Octavia pada 16 May 2019, 15:20 WIB
Seks oral berisiko menularkan penyakit HIV, chlamydia, dan sifilis. Tapi, bisakah kebiasaan ini juga memicu radang tenggorokan?
Kebiasaan Seks Oral Bisa Picu Radang Tenggorokan? (Andrey_Popov/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Setiap pasangan memiliki cara tersendiri dalam melakukan kontak seksual. Termasuk ketika memutuskan untuk melakukan seks oral. Namun, stimulasi alat genital menggunakan mulut tersebut berisiko tinggi menularkan infeksi menular seksual, seperti HIV, chlamydia, sifilis, dan gonore. Tak hanya bisa menimbulkan gejala pada kelamin, kebiasaan seks oral juga dapat memicu radang tenggorokan.

Bakteri pemicu radang tenggorokan karena seks oral

Infeksi tenggorokan akibat kebiasaan seks oral paling sering disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae (penyebab infeksi gonore). Infeksi tenggorokan yang disebut pharyngitis gonorrhea (faringitis gonore) ini bisa terjadi melalui kontak langsung dengan cairan kelamin yang mengandung bakteri Neisseria gonorrhoeae.

Bakteri itu kemudian menyebabkan peradangan di jaringan tenggorokan dan menimbulkan gejala radang tenggorokan. Gejala faringitis gonore hampir mirip dengan peradangan tenggorokan yang disebabkan bakteri lainnya, seperti nyeri menelan, demam, dan batuk.

Jika diperiksa, tenggorokan yang terkena akan terlihat merah dan terkadang terdapat cairan berwarna keputihan atau kekuningan. Pada pemeriksaan tenggorokan akan tampak mirip dengan radang tenggorokan yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus.

Risiko terkena faringitis gonore

Aktivitas seks oral dengan penis (fellatio) akan lebih berisiko tinggi untuk mengalami infeksi faringitis gonore, dibandingkan dengan vagina atau klitoris (cunnilingus). Adapun, lelaki yang berhubungan seks dengan sesama lelaki juga berisiko tinggi untuk alami faringitis gonore sebanyak 10-25 persen.

Faringitis gonore dapat sembuh dengan sendirinya dalam kurun 1 minggu hingga 3 bulan. Namun, pada beberapa orang, jika infeksi ini tidak diobati dapat menyebar ke area tubuh lain (gonore diseminata).

Gejala faringitis gonore pada pria dan wanita sama dan terjadi setelah adanya kontak oral (sekitar 7-21 hari) dengan area genital atau anal pasangan seksual yang terinfeksi gonorrhea. Faringitis gonore umumnya tidak menular saat penderita berciuman.

Namun dalam kasus tertentu, bakteri di tenggorokan dapat "berpindah" ke objek lain melalui kontak langsung (misalnya jari, penis atau sex toys) dan kemudian objek tersebut menyentuh area tubuh lain seperti genital (penis atau vagina), area sekitar anus atau mata.

Pemeriksaan Neisseria gonorrhoeae

Untuk mendiagnosis radang tenggorokan yang disebabkan bakteri Neisseria gonorrhoeae dibutuhkan pemeriksaan rapid throat swab atau apusan dari tengorokan. Jika memang terbukti disebabkan oleh bakteri penyebab gonore, penanganannya sama dengan infeksi gonore di kelamin, yaitu diberikan antibiotik.

Selain itu, pasangan seksualnya juga harus diperiksa, diobati, dan disarankan untuk tidak melakukan hubungan seksual dalam bentuk apa pun (termasuk seks oral) hingga masa pengobatan selesai dan terbukti sembuh.

Pencegahan infeksi menular seksual secara umum adalah mencegah adanya kontak seksual karena bakteri yang ada di cairan vagina atau semen dapat "memfasilitasi" penularan bakteri ke orang lain. Penggunaan kondom (meski tidak 100 persen efektif) dapat menurunkan risiko penularan infeksi menular seksual, termasuk faringitis gonore. 

Selain itu, infeksi gonore juga biasanya disertai dengan infeksi patogen (bakteri, virus, parasit) lainnya seperti bakteri Treponema pallidum (penyebab sifilis) dan Chlamydia Trachomatis (penyebab infeksi klamidia). Oleh karena itu, pemberian obat-obatan harus mencakup untuk infeksi lainnya agar efektif.

Infeksi menular seksual tak hanya dapat menimbulkan gejala di area kelamin (penis atau vagina) saja, tetapi juga di area tubuh lain seperti tenggorokan. Radang tenggorokan akibat bakteri Neisseria gonorrhoeae dapat dihindari dengan tidak melakukan aktivitas seks oral atau menggunakan kondom sebagai langkah pencegahan.

[HNS/ RVS]