Pneumonia, Penyakit Paru yang Bisa Sebabkan Kematian

Oleh dr. Sara Elise Wijono MRes pada 20 May 2019, 11:00 WIB
Jangan sepelekan keluhan batuk Anda. Bisa jadi itu pneumonia, penyakit pada organ paru-paru yang berpotensi menyebabkan kematian.
Pneumonia, Penyakit Paru yang Bisa Sebabkan Kematian (Kateryna Kon/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Tidak banyak orang yang menyadari dirinya terjangkit pneumonia. Batuk yang dirasakan sering dianggap sebagai batuk biasa. Padahal gangguan kesehatan apa pun yang berhubungan dengan organ paru-paru tidak boleh dianggap ringan.

Pneumonia merupakan salah satu penyebab utama kematian pada anak-anak di bawah usia lima tahun di seluruh dunia. Pada orang dewasa pun pneumonia tidak dapat diacuhkan. Di Amerika Serikat sendiri pneumonia menempati urutan ke-8 dari penyebab kematian.

Paru-paru merupakan organ vital bagi kehidupan. Pada organ ini, terjadi pertukaran gas antara oksigen (O2) dan karbon dioksida (CO2).

Oksigen dari udara bebas akan dihirup dan masuk ke paru-paru, lalu dihantarkan ke seluruh tubuh. Sementara CO2 dari seluruh tubuh akan masuk kembali ke paru-paru, lalu keluar saat Anda mengembuskan napas.

Saluran pernapasan Anda serupa dengan terowongan. Pada ujungnya, terdapat kantong-kantong udara kecil yang disebut alveoli. Alveoli inilah yang membentuk paru-paru, dan merupakan lokasi pertukaran gas O2 dan CO2.

Yang terjadi pada paru ketika pneumonia menyerang

Saat seseorang terserang pneumonia muncul peradangan pada paru-paru. Kondisi ini sering kali disebabkan infeksi.

Infeksi bakteri merupakan penyebab umum pneumonia. Namun, pneumonia juga dapat disebabkan infeksi virus, bahkan jamur.

Pada keadaan tertentu, seseorang menghirup benda asing (misalnya muntahan, asap, makanan yang tersedak, dsb) yang menyebabkan peradangan paru-paru, kondisi ini dikenal dengan pneumonia aspirasi.

Saat infeksi mencapai paru-paru, maka sistem kekebalan tubuh akan bereaksi untuk melawannya. Tubuh akan mengirimkan sel darah putih untuk mengatasi infeksi ini. Sebagai akibatnya, muncul reaksi peradangan akibat perlawanan tubuh terhadap infeksi.

Jika tubuh kalah melawan infeksi, maka penyakit pneumonia muncul. Alveoli dalam paru-paru yang seharusnya kosong menjadi terisi cairan dan nanah, sehingga proses pertukaran gas menjadi tidak efektif.

Oksigen yang diperlukan tubuh sulit masuk ke dalam aliran darah, sementara karbon dioksida sulit dibuang keluar tubuh. Keadaan tersebut menyebabkan seseorang sulit bernapas.

Gejala yang umum ditemui pada seseorang dengan pneumonia adalah batuk, demam, dan kesulitan bernapas. Jenis batuk yang terjadi biasanya batuk kering maupun berdahak dengan dahak kental berwarna kuning, hijau, coklat, bahkan bercampur darah.

Sedangkan kondisi kesulitan bernapas umumnya napas menjadi cepat dan dangkal atau pendek-pendek. Penderita juga mengalami keluhan menggigil dan berkeringat, kehilangan nafsu makan, dan juga nyeri dada yang dapat terasa memburuk saat bernapas atau batuk.

1 of 2

Pneumonia ganggu pasokan oksigen

Jika kondisi pneumonia makin buruk, maka kadar oksigen darah akan semakin menurun hingga mencapai tingkat yang membahayakan. Semua organ tubuh, termasuk organ penting seperti jantung dan otak, sangat membutuhkan oksigen untuk dapat hidup dan bekerja dengan baik. Dengan kadar oksigen yang minimal, dapat timbul koma, gagal jantung, bahkan kematian.

Selain itu, infeksi pneumonia dapat menyebar ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah. Akibatnya bisa terjadi kondisi yang dikenal dengan sepsis atau keracunan darah.

Jika keadaan ini berlanjut, laju detak jantung akan semakin cepat dan tekanan darah semakin turun. Lama-kelamaan siklus ini tidak dapat bertahan untuk menopang kehidupan, sehingga menyebabkan kematian.

Pneumonia lebih berisiko pada orang dewasa di atas usia 65 tahun karena sistem kekebalan tubuh sudah tidak terlalu baik seperti saat muda. Anak-anak di bawah dua tahun juga sangat berisiko mengalami kondisi ini karena sistem kekebalan tubuh mereka yang belum “matang”.

Selain itu, kondisi medis tertentu juga meningkatkan risiko seseorang bisa terkena pneumonia. Misalnya saja penyakit paru kronis, penyakit kronis lainnya seperti penyakit jantung dan diabetes. Risiko ini akan makin tinggi jika kekebalan tubuh lemah  akibat adanya HIV/AIDS, sedang kemoterapi, pasca transplantasi organ), kesulitan menelan – akibat stroke atau Parkinson – dan kondisi lainnya.

Selain itu, kebiasaan merokok juga bisa menjadi faktor risiko karena bisa merusak paru-paru, sehingga rentan terkena pneumonia. Bahkan perokok pasif pun memiliki risiko lebih tinggi terkena pneumonia.

Mereka yang kecanduan alkohol dan obat terlarang juga rentan terkena pneumonia aspirasi. Paparan dengan bahan kimia dan polusi, juga mempertinggi risiko seseorang terjangkit penyakit paru ini.

Setelah menyimak paparan tentang penyakit pneumonia di atas, kini jangan lagi sepelekan batuk yang Anda alami. Segera periksa ke dokter jika batuk Anda tidak kunjung sembuh. Bisa saja itu memang batuk ringan yang perlu waktu untuk sembuh. Tapi dengan memeriksakannya ke dokter Anda bisa mencegah kemungkinan terjadinya pneumonia.

[RVS]

Lanjutkan Membaca ↓