Kalau Tidak Mau Cepat Gemuk, Jangan Konsumsi Makanan Ini

Oleh Ruri Nurulia pada 20 May 2019, 16:15 WIB
Menurut sebuah studi, konsumsi makanan instan bisa bikin Anda kalap makan banyak sehingga bikin cepat gemuk. Berikut ini buktinya!
Kalau Tidak Mau Cepat Gemuk, Jangan Konsumsi Makanan Ini (Africa Studio/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Biasanya, puasa Ramadan juga dimanfaatkan untuk menurunkan berat badan. Namun, ini tergantung dari pola makan dan pola hidup Anda secara keseluruhan. Jika tak mau cepat gemuk, sebuah studi merekomendasikan Anda untuk tidak mengonsumsi makanan yang sudah melalui banyak proses pengolahan (ultra-processed food).

Baru-baru ini, sebuah studi dari Institut Kesehatan Nasional Amerika Serikat (NIH) menemukan fakta menarik. Orang-orang yang mengonsumsi makanan ulta-processed food berarti makan lebih banyak kalori, sehingga mengalami kenaikan berat badan lebih banyak ketimbang konsumsi makanan olahan minimal.

Perbedaan ini terlihat meski makanan yang diberikan kepada partisipan (yaitu makanan ultra-processed dan makanan olahan minimal) mengandung jumlah kalori dan makronutrien yang sama.

Studi skala kecil ini melibatkan 20 relawan dewasa, dan dilakukan oleh peneliti dari lembaga di bawah NIH, yaitu National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK).

Kriteria makanan olahan ultra-processed

Dikatakan bahwa studi ini adalah uji coba terkontrol acak yang meneliti efek makanan olahan ultra-processed sesuai dengan definisi sistem klasifikasi NOVA (klasifikasi makanan yang mengelompokkan makanan menurut tingkat dan tujuan pengolahan makanan, bukan dari segi nutrisinya).

Sistem ini menganggap suatu makanan tergolong ultra-processed jika terdapat bahan-bahan yang secara dominan ditemukan dalam industri makanan industri, seperti:

  • Minyak terhidrogenasi (hydrogenated oils),
  • Sirop jagung fruktosa tinggi (high-fructose corn syrup),
  • Zat penyedap rasa (flavouring agents),
  • Pengemulsi (emulsifiers)

“Meski partisipannya grup kecil, temuan dari eksperimen yang dikontrol secara ketat ini menunjukkan perbedaan yang jelas dan konsisten antara dua jenis diet,” kata Kevin D. Hall, Ph.D., NIDDK peneliti senior dan penulis utama studi seperti dikutip di laman NIH.

1 of 3

Mekanisme bagaimana makanan olahan ultra-processed bisa bikin gemuk

Untuk studi ini, partisipannya adalah 20 pria dan 20 wanita sehat di NIH Clinical Center selama sebulan penuh, dengan perintah acak selama dua minggu untuk masing-masing diet, yaitu diet makanan olahan ultra-processed dan makanan olahan minimal.

Sebagai contoh, sarapan makanan ultra-processed adalah bagel dengan keju krim dan bacon kalkun. Sedangkan sarapan olahan minimal atau tanpa proses (unprocessed) adalah oatmeal dengan pisang, walnut, dan susu skim.

Pada makanan ultra-processed – dan yang minimal melalui proses – sama-sama  mengandung kalori, gula, serat, lemak, dan karbohidrat yang sama. Partisipan boleh makan sebanyak atau sesedikit yang mereka inginkan.

Peneliti ingin tahu aspek spesifik bagaimana makanan olahan ultra-processed dan makanan minimal proses memengaruhi perilaku makan seseorang, dan membuat berat badan mereka bertambah.

Langkah selanjutnya, peneliti ingin mengadakan studi serupa untuk mengetahui apakah perubahan pola makan berefek pada asupan kalori dan penurunan berat badan. Hasil studi ini bisa dibaca selengkapnya di jurnal “Cell Metabolism” tahun 2019.

2 of 3

Bahaya terlalu banyak mengonsumsi makanan olahan

Merekomendasikan orang untuk berhenti mengonsumsi makanan olahan dan beralih ke makanan sehat memang tidak mudah. Ada faktor lain yang memengaruhi, misalnya efisiensi waktu dalam menyiapkan makanan olahan, harga lebih murah, dan lain-lain.

Meski demikian, jangan berhenti untuk memprioritaskan makanan sehat. Pasalnya, menurut dr. Dyah Novita Anggraini dari KlikDokter, konsumsi makanan olahan berlebihan bisa membawa dampak negatif, yaitu:

  • Hipertensi. Penyebab kondisi ini bisa karena makanan olahan tinggi garam. Penambahan garam dalam makanan tersebut bertujuan untuk mengawetkan makanan. Namun efeknya pada kesehatan justru fatal.
  • Penyakit jantung. Menurut dr. Dyah, makanan olahan banyak mengandung lemak trans, yang bisa berbahaya karena dapat meningkatkan kolesterol jahat (LDL) dan menurunkan kolesterol baik. Jika tidak ditangani, kondisi ini bisa berujung pada penyakit jantung.
  • Peningkatan berat badan. Sebagian makanan olahan tinggi gula, sehingga jika dikonsumsi berlebihan akan bikin berat badan naik.
  • Diabetes. Akibat mengonsumsi makanan olahan yang mengandung gula dan karbohidrat yang tinggi, Anda bisa terancam diabetes.
  • Konstipasi. Sebagian makanan olalahan tidak memiliki kandungan serat yang cukup tinggi, sehingga pencernaan jadi kurang lancar dan mudah terjadi sembelit.
  • Gangguan fungsi kognitif. Ini berkaitan dengan fungsi otak, misalnya kemampuan berpikir, belajar, atau memori. Hal ini bisa disebabkan oleh makanan olahan nyatanya tidak didukung nutrisi untuk kesehatan otak.
  • Kanker. Makanan olahahan kerap dihubungkan dengan bahan kimia sintetis yang merangsang pertumbuhan sel kanker.

Tak ada kata terlambat untuk memulai hidup sehat. Agar tidak merasakan dampak negatif seperti yang disebut di atas, dr. Dyah menyarankan Anda untuk:

  • Membatasi konsumsi makanan olahan, dan jangan sampai menjadi rutinitas Anda setiap hari.
  • Membaca label informasi nilai gizi di kemasan, khususnya gula, garam, dan lemak jenuh. Dikatakan tinggi jika:

- Melebihi 22,5 gram total gula per 100 gram produk.

- Melebihi 15,5 gram per 100 gram produk untuk garam.

- Melebihi 5 gram lemak jenuh per 100 gram.

  • Perhatikan tanggal kedaluwarsa produk.
  • Kombinasikan dengan sayur dan perbanyak makan buah.

Jadi, jika Anda tidak mau cepat gemuk, sebaiknya kurangi dan batasi makan makanan olahan, apalagi yang ultra-processed (misalnya permen, soft drinks, piza, keripik, sereal sarapan dengan pemanis, nugget, sup kemasan, sosis, dan masih banyak lagi). Ingat, makanan dari sumber segar atau yang pengolahannya minimal jauh lebih bermanfaat untuk kesehatan tubuh.

(RN/ RVS)

Lanjutkan Membaca ↓