Kiat Sukses Menjalankan Pola Asuh Co-Parenting

Oleh dr. Fiona Amelia MPH pada 23 May 2019, 11:00 WIB
Pola asuh co-parenting kian populer dengan semakin tingginya angka pasangan suami istri yang berpisah. Berikut kiat suksesnya.
Kiat Sukses Menjalankan Pola Asuh Co-Parenting (Dmitry Molchanov/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Pernah mendengar istilah co-parenting? Bagi sebagian dari Anda, istilah ini mungkin cukup asing di telinga. Namun, pola asuh ini kini semakin banyak diterapkan, seiring dengan peningkatan angka perceraian di Indonesia.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), angka perceraian pada 2015 mencapai 347.256. Peningkatan yang terjadi kemudian diamini oleh data dari Kemenag yang menyatakan pada tahun yang sama diterima 398.245 gugatan perceraian, lalu meningkat menjadi 415.898 di 2017.

Co-parenting sendiri adalah salah satu jenis pola asuh yang sebetulnya lebih dikenal di kalangan pasangan yang telah berpisah. Tujuannya satu, memastikan anak tetap mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari kedua orang tuanya.

Semua pasti setuju, bahwa tak ada seorang pun yang ingin hubungan pernikahannya kandas. Meski demikian, ada kalanya perpisahan tak bisa dihindari. Mereka yang telah menjadi orang tua pasti menyadari konsekuensi dari keputusan bercerai.

Anak bisa menjadi baik atau buruk tergantung bagaimana hubungan kedua orang tua dan kesepakatan antara keduanya, termasuk seputar pola asuh yang diterapkan pasca berpisah.

Bila kepentingan anak adalah yang utama, maka pola asuh co-parenting bisa menjadi solusi yang baik.

Apa itu co-parenting?

Gagasan co-parenting berawal dari komunitas orang tua di Italia yang telah berpisah, yakni The Association for Separated Parents. Di komunitas ini, pasangan yang telah berpisah sepakat bahwa mengasuh, mendidik, dan membesarkan anak yang sehat lahir batin tetap membutuhkan peran ayah dan ibu yang seimbang.

Prinsip pola asuh co-parenting yakni bermitra dalam membesarkan anak dengan porsi tanggung jawab yang sama. Anak juga berhak untuk memiliki kualitas hubungan atau kedekatan yang sama dengan kedua orang tuanya.

Melalui pola asuh ini, harapannya anak dapat memiliki kehidupan yang aman dan stabil, meski kedua orang tua telah berpisah.

1 of 2

Tips agar co-parenting berjalan sukses

Sebelum memulai pola asuh co-parenting, kedua orang tua harus memiliki kesamaan persepsi dalam hal-hal yang berkaitan dengan anak.

Seperti misalnya, memastikan anak berada dalam lingkungan fisik dan sosial yang baik, mendapatkan pendidikan yang layak, menyepakati rutinitas yang stabil, serta menerapkan standar yang sama dalam mendisiplinkan anak.

Bila sudah, langkah berikutnya adalah melakukan hal-hal berikut agar co-parenting berjalan sukses dan produktif.

  1. Berkomitmen penuh

Pada mulanya, pasti ada rasa tidak nyaman saat Anda harus berhubungan dengan mantan pasangan meski hanya terkait kebutuhan anak. Hal ini wajar, namun jangan sampai perasaan pribadi mengaburkan komitmen utama Anda untuk memberikan kesejahteraan pada anak secara lahir dan batin.

  1. Tetapkan batasan yang jelas untuk kedua belah pihak

Akan lebih mudah ketika Anda dan mantan pasangan menetapkan batasan terkait apa yang bisa atau boleh dikontrol dan tidak.

Sebagai contoh, Anda tentu tidak bisa mengontrol siapa yang sedang didekati oleh mantan pasangan atau apakah ia mengenalkan orang tersebut pada anak. Kecuali, hal itu telah disepakati dalam dokumen hak asuh anak.

Sebaliknya, Anda bisa mengontrol atau menegur saat mantan pasangan mengajak anak melakukan aktivitas yang tidak sesuai dengan kesepakatan bersama.

  1. Terapkan satu aturan yang sama

Tuliskan hal yang telah didiskusikan bersama sehubungan dengan kewajiban dan hak anak. Hal ini penting agar anak tidak merasa ada perbedaan aturan yang diterapkan oleh ibu atau ayahnya.

  1. Berbagi tugas sesuai potensi masing-masing

Baik Anda maupun mantan pasangan pasti punya kelebihan masing-masing. Bila mantan pasangan lebih cermat dalam hal mengatur rutinitas dan kedisiplinan anak, biarkan ia yang mengajarkan konsep tersebut. Anda bisa mengambil peran lain, misalnya dalam menyiapkan detail keperluan atau kebutuhan sehari-harinya.

  1. Tentukan jadwal yang jelas dan bersikap fleksibel

Susun jadwal yang jelas terkait aktivitas anak, mulai dari jadwal sekolah, kegiatan ekstrakurikuler, hingga jadwal pemeriksaan kesehatan secara berkala. Adanya pengaturan ini tentu baik bagi semua pihak, misalnya siapa yang hari ini harus mengantar anak ke sekolah atau membawanya ke dokter.

Orang tua yang mampu bermitra pasti bisa mengandalkan satu sama lain untuk berkomitmen terhadap jadwal tersebut. Apabila ada hal-hal mendesak yang membuat rutinitas jadwal berubah, kedua orang tua pun sebaiknya bisa bersikap fleksibel.

Umumnya, orang tua akan berdiskusi terlebih dulu, sebelum menyampaikan perubahan jadwal tersebut kepada anak.

  1. Usahakan untuk selalu hadir dalam kegiatan anak

Meski telah berpisah, anak kerap mengharapkan kehadiran kedua orang tua dalam acara-acara yang dianggap penting baginya, misalnya pertemuan orang tua dan guru, saat anak mengikuti kompetisi olahraga atau tampil dalam resital musik.

Oleh sebab itu, setiap ada kesempatan, hendaknya kedua orang tua hadir. Ingat kembali untuk mengesampingkan perasaan tidak nyaman karena harus bertatap muka dengan mantan pasangan.

  1. Pahami kebutuhan anak

Anak-anak yang mampu tumbuh sehat secara fisik dan psikologis adalah hasil pola asuh yang baik dari kedua orangtuanya. Untuk bisa sampai di situ, orang tua perlu memahami dulu karakter anak dan cara berpikirnya agar tahu apa kebutuhan dan keinginannya.

  1. Saling terbuka akan kehidupan pribadi masing-masing

Ada baiknya bila Anda dan mantan pasangan tetap terbuka atas kehidupan pribadi masing-masing. Memang tak semuanya bisa disampaikan, namun yang penting jangan jadikan anak sebagai sumber informasi untuk mengetahui kehidupan orang tuanya pasca berpisah.

Hal tersebut hanya akan memantik kecurigaan dan pemikiran negatif terhadap mantan pasangan Anda. Hati-hati, anak juga bisa terdampak oleh situasi seperti itu.

Hindari melakukan ini saat menerapkan co-parenting

Salah satu hal yang harus dihindari dalam pola asuh ini adalah menjelek-jelekkan atau bertengkar dengan mantan pasangan di depan anak. Meski Anda memiliki konflik dengannya, jangan pernah melibatkan anak di dalamnya.

Banyak studi yang menunjukkan bahwa anak yang terjebak dalam lingkaran konflik orang tuanya akan tumbuh menjadi anak yang kurang percaya diri, tertutup, serta kerap bermasalah di lingkungan sosialnya.

Menjalankan pola asuh co-parenting memang tidak mudah. Dibutuhkan usaha keras, komitmen yang tinggi, serta kemauan untuk mengorbankan ego pribadi demi kepentingan anak. Namun, bila mengikuti berbagai tips di atas, Anda akan menuai hasilnya kelak, ketika anak tumbuh dewasa menjadi pribadi yang sehat, stabil, dan berkarakter baik.

[NP/ RVS]

Lanjutkan Membaca ↓