Penyebab Antraks yang Tidak Boleh Diabaikan

Oleh dr. M. Dejandra Rasnaya pada 24 May 2019, 15:40 WIB
Tahukah Anda bahwa penyebab antraks tak melulu berkaitan dengan makan daging yang sudah terkontaminasi? Lalu apa saja penyebab lain antraks?
Penyebab Antraks yang Tidak Boleh Diabaikan (Kateryna-Kon/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Baru-baru ini di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, tepatnya di Desa Bejiharjo, Dusun Grogol IV, ditemukan 5 ekor sapi mati secara mendadak. Setelah diperiksa lebih lanjut, diketahui ternyata penyebab kematian sapi tersebut adalah akibat positif terinfeksi spora antraks.

Antraks merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Bacillus anthracis. Bakteri ini menghasilkan spora yang biasanya ditemukan di lingkungan, seperti tanah, rumput atau air, dan dapat bertahan dengan keadaan lingkungan selama bertahun-tahun bahkan dekade.

Hewan ternak seperti sapi, kambing, dan kerbau merupakan yang paling sering terinfeksi antraks. Ini karena habitat hewan-hewan tersebut sangat berdekatan dengan lingkungan yang dijadikan tempat berkembang biak spora penyebab antraks.

Sebelum terinfeksi, hewan ternak biasanya terpapar spora antraks melalui udara atau makanan (rumput dan air) yang terkontaminasi. Awalnya, spora bersifat tidak aktif. Tetapi ketika masuk ke dalam tubuh hewan dan mendapat banyak gizi, spora tersebut menjadi ganas, menyebar dengan cepat dan mengeluarkan racun yang menimbulkan penyakit mematikan.

Penularan antraks pada manusia

Sama halnya dengan hewan ternak, manusia juga bisa terinfeksi penyakit antraks apabila spora sampai terhirup, termakan, atau masuk melalui kulit yang terluka. Selain itu, antraks juga bisa terjadi apabila Anda mengonsumsi daging hewan ternak yang sudah terjangkit penyakit ini.

Konsumsi daging lebaran yang meningkat saat Idul Fitri – maupun Idul Adha – tentu patut dicermati menyusul kejadian antraks di wilayah Gunungkidul. Karena daging sapi dan daging kambing sama-sama rentan terkontaminasi antraks.

Kendati begitu, perlu diketahui bahwa antraks tidak menular pada sesama manusia seperti halnya flu. Dengan kata lain, manusia yang terinfeksi antraks tidak dapat menularkan penyakitnya ke manusia lainnya.

Adapun beberapa faktor yang meningkatkan risiko terjadinya antraks pada manusia, di antaranya:

1. Bekerja di industri hewan ternak

Bekerja di industri hewan, termasuk tempat penjagalan dan pabrik wol atau kulit, membuat Anda lebih rentan terhadap penyakit antraks.

Pada tempat penjagalan atau pemotongan sapi maupun kerbau, para pekerja bisa terpapar dengan daging yang masih mentah dan tidak steril. Jika daging tersebut sudah terkontaminasi, spora antraks bisa menyebar dan terhirup oleh pekerja.

Sementara itu, pada orang yang bekerja di pabrik wol atau kulit hewan ternak, spora bisa menyebar melalui udara pada saat proses pemangkasan bulu dari hewan yang terkontaminasi.

1 of 2

Selanjutnya

2. Dokter hewan

Tidak hanya mengurus hewan peliharaan yang sakit, dokter hewan juga turun tangan dalam membantu hewan ternak yang sakit. Dokter hewan yang lebih sering bekerja dengan hewan ternak meningkatkan risiko terkena penyakit antraks.

3. Bekerja di laboratorium

Ketika antraks baru terjadi di Kabupaten Gunungkidul, pemeriksaan laboratorium pada sapi, kondisi lingkungan dan warga yang pernah berkontak dengan sapi perlu dilakukan. Para pekerja laboratorium yang melakukan pemeriksaan ini bisa saja terjangkit spora antraks, apalagi jika tidak menggunakan alat pelindung diri yang memadai.

4. Pihak militer

Para tentara yang ditempatkan di daerah-daerah rawan antraks juga berisiko terinfeksi. Antraks banyak menyerang daerah pertanian, seperti Amerika bagian Tengah dan Selatan, Afrika sub-sahara, Asia Tengah dan Barat, dan Eropa Selatan maupun Timur. Selain itu, penyakit ini juga lebih sering terjadi pada negara berkembang, termasuk Indonesia.

5. Suntikan

Di Eropa ditemukan kasus antraks akibat penggunaan heroin suntik. Pada dasarnya, jika menggunakan jarum suntik secara bersamaan atau dengan cara yang tidak steril, risiko penyakit ini dan kondisi berbahaya lainnya bisa saja terjadi.

6. Makan daging yang tidak matang

Makan daging yang tidak sepenuhnya matang memang nikmat. Akan tetapi, jika daging tersebut terjangkit spora antraks, maka Anda juga akan langsung terkena dampaknya. Hal ini umumnya terjadi jika pihak penyedia daging tidak melakukan pemantauan sesuai standar.

Antraks memang jarang ditemukan. Namun penyakit ini dapat dengan cepat menggerogoti tubuh penderitanya hingga menyebabkan kematian. Oleh karena itu, lindungi diri dengan vaksinasi antraks, dan pastikan pula Anda tidak melakukan kontak langsung dengan hewan ternak yang tampak sakit. Jika Anda mengalami gejala antraks seperti mual, kehilangan selera makan, dan diare berdarah, segera berobat ke dokter. Semakin cepat diobati, kemungkinan sembuh semakin tinggi.

(NB/ RVS)

Lanjutkan Membaca ↓