Perjalanan Panjang dengan Pesawat, Waspadai Serangan Jantung

Oleh dr. Valda Garcia pada 08 Jun 2019, 12:00 WIB
Anda yang punya masalah jantung harus berhati-hati. Pasalnya, perjalanan panjang dengan pesawat bisa sebabkan serangan jantung.
Perjalanan Panjang dengan Pesawat, Waspadai Serangan Jantung (Matej Kastelic/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Pesawat terbang merupakan salah satu moda transportasi yang dipilih untuk mudik Lebaran. Selain lebih cepat, menggunakan pesawat terbang juga menghemat waktu perjalanan. Namun begitu, rupanya Anda yang memiliki masalah jantung harus berhati-hati. Pasalnya, perjalanan panjang dengan menggunakan pesawat terbang dapat menyebabkan serangan jantung.

Fakta mengenai kondisi kabin pesawat

Menggunakan pesawat terbang berbeda dengan kebanyakan transportasi lain. Ketinggian serta tekanan dan kelembapan udara sangat jauh berbeda ketika Anda berada di darat ataupun laut.

Terkait kesehatan jantung, beberapa fakta mengenai kondisi di dalam kabin harus Anda ketahui:

  • Kadar oksigen di kabin lebih rendah dibandingkan berada di darat
  • Kelembapan udara di kabin pesawat sangatlah rendah, yaitu hanya mencapai 25 persen, sedangkan di darat 35 persen.

Dengan kondisi pesawat yang seperti itu, jantung akan dipaksa untuk bekerja lebih agar dapat memenuhi kebutuhan oksigen. Kebutuhan oksigen tidak bisa dipenuhi hanya dengan bernapas dengan efisien, tapi juga harus dibantu dengan aktif bergerak.

Terjadinya sumbatan pembuluh darah

Perjalanan panjang menggunakan pesawat – terlebih lagi jika tidak sering bergerak – akan meningkatkan risiko terbentuknya clot atau sumbatan pada pembuluh darah di tungkai bawah.

Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), perjalanan panjang di dalam pesawat lebih dari 4 jam akan meningkatkan pembentukan clot dua kali lipat. Peneliti mengatakan bahwa sekitar lima persen dari pengguna jasa pesawat terbang mengalami pembentukan clot.

Pembentukan clot paling sering terjadi pada pembuluh darah tungkai bawah atau kaki. Kondisi seperti ini disebut dengan deep vein thrombosis (DVT) dan sering disebut dengan istilah "economy-class syndrome".

Istilah ini muncul karena sempitnya ruang kaki di kelas ekonomi pesawat. Akibatnya, mobilitas penumpang terbatas sehingga terjadi hambatan aliran pembuluh darah vena di kaki sehingga dapat terbentuk clot.

Pada dasarnya, penyebab terjadinya DVT dipengaruhi oleh tiga hal, yaitu:

  • Ketinggian

Semakin tinggi posisi, semakin rendah kadar oksigen yang tersedia. Darah lalu akan menghasilkan respons untuk mengikat oksigen lebih banyak dengan meningkatkan jumlah trombosit dalam darah. Kondisi ini akan meningkatkan kekentalan darah yang dapat meningkatkan risiko terbentuknya clot.

  • Dehidrasi

Rendahnya kadar oksigen di ketinggian disertai dengan rendahnya kelembapan dapat menimbulkan dehidrasi. Selain itu, pada ketinggian, seseorang akan cenderung tidak merasa haus. Rendahnya komponen air di dalam tubuh, akan membuat darah menjadi lebih kental yang berisiko pada terbentuknya clot.

  • Kurang bergerak

Ketinggian dan dehidrasi merupakan beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terbentuknya clot pada pembuluh darah vena. Namun, dampak yang ditimbulkan tidak sebesar yang ditimbulkan oleh kurangnya pergerakan.

Ketika terjadi pembentukan clot di pembuluh darah vena, clot tersebut memiliki risiko untuk lepas dan mengalir melalui aliran darah hingga menyumbat pembuluh darah jantung hingga terjadi serangan jantung. Dengan rutin melakukan pergerakan peregangan pada daerah kaki, Anda dapat membantu melancarkan aliran pembuluh darah vena.

Kapan pasien serangan jantung boleh terbang?

Pasien dengan riwayat serangan jantung berisiko lebih besar terkena serangan jantung ketika melakukan perjalanan panjang menggunakan pesawat. Karena itu, sebelum terbang, Anda harus berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu.

Durasi seseorang diizinkan untuk terbang bervariasi, mulai dari dua minggu hingga delapan minggu setelah serangan jantung. Hal ini bergantung pada riwayat serangan jantung yang dialami dan kondisi pasien.

Melakukan perjalanan panjang menggunakan pesawat memang dapat meningkatkan risiko terkena serangan jantung. Namun, Anda bisa mengurangi risikonya dengan bergerak serta berjalan di dalam kabin secara berkala. Bila punya riwayat serangan jantung, Anda wajib memeriksakan diri ke dokter spesialis jantung sebelum terbang jauh.

[HNS/ RVS]