Mengapa Kurang Tidur Dapat Memengaruhi Persepsi Emosional?

Oleh dr. Nitish Basant Adnani BMedSc MSc pada 09 Jun 2019, 15:00 WIB
Kurang tidur ternyata dapat memengaruhi bagaimana seseorang memproses stimulus emosional yang bervariasi. Bagaimana caranya?
Mengapa Kurang Tidur Dapat Memengaruhi Persepsi Emosional? (Rostislav_Sedlacek/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Pernahkah Anda merasa lebih mudah marah setelah bergadang semalaman? Ternyata, saat seseorang tidak dapat memenuhi kebutuhan tubuhnya untuk beristirahat, otak dapat menunjukkan tanda-tandanya dengan berbagai cara.

Menurut literatur ilmiah yang ada, kurangnya waktu tidur dapat memiliki efek yang serupa dengan mengonsumsi beberapa gelas minuman anggur, karena dapat mengubah persepsi seseorang terhadap ruang dan memperlambat waktu bereaksi.

Bahkan, penelitian terkini yang ada juga menunjukkan bahwa individu yang memiliki kualitas tidur buruk cenderung membatasi interaksi sosial. Kurang tidur diketahui dapat memengaruhi persepsi seseorang terhadap suatu hal dan interaksi antara orang tersebut dengan orang lain.

Akibatnya, bukan suatu fakta yang mengejutkan bahwa hal tersebut dapat memengaruhi persepsi emosional seseorang dan membuatnya menangkap suatu situasi secara lebih negatif dibandingkan biasanya.

Kaitan kurang tidur dengan persepsi emosional

Dalam penelitian doktoralnya, Sandra Tamm dari Department of Clinical Neuroscience of Karolinska Institutet di Stockholm, Swedia, menggunakan hasil pemeriksaan positron emission tomography (PET) dan magnetic resonance imaging (MRI) untuk mengevaluasi aktivitas dan mekanisme yang berlangsung di otak pada konteks kekurangan tidur dan regulasi emosional.

Hasil dari serangkaian penelitian yang dilakukan tersebut menunjukkan bahwa individu yang kekurangan tidur memiliki kemungkinan yang lebih tinggi untuk menginterpretasikan suatu stimulus emosional secara negatif, yang dikenal dengan istilah bias negativitas.

Selain itu, individu yang kekurangan tidur juga memiliki kecenderungan untuk mengalami mood yang buruk dan lebih sulit untuk meregulasi respons emosional. Hal ini ditandai oleh transmisi yang buruk antara informasi yang diterima dan proses di otak yang mendorong perilaku emosional.

Namun, di sisi yang lain, penelitian tersebut juga menemukan bahwa penurunan waktu tidur tidak secara signifikan menghambat kemampuan seseorang untuk berempati terhadap rasa nyeri yang dialami oleh orang lain.

Selain itu, penelitian ini juga mendapatkan bahwa kurangnya waktu tidur yang berlangsung selama jangka panjang merupakan salah satu faktor risiko utama untuk gangguan kesehatan mental.

Gangguan tidur yang kronis, rasa kantuk, serta rasa lelah jangka panjang dapat berkontribusi terhadap terjadinya kondisi gangguan jiwa, salah satu contohnya adalah meningkatkan risiko seseorang untuk mengalami depresi.

Tidur yang ideal

Setiap harinya, seseorang disarankan untuk mendapatkan waktu tidur yang cukup, yakni setidaknya 7 sampai 8 jam pada orang dewasa. Angka tersebut dapat lebih tinggi pada remaja dan anak-anak, bergantung dari tahapan usianya.

Tidur yang cukup dapat membantu seseorang untuk menjadi lebih segar dan siap menjalani kegiatan dan rutinitas sehari-hari pada keesokan harinya. Oleh karena itu, sangat penting bagi seseorang untuk menerapkan pola tidur yang baik.

Oleh sebab itu, untuk bisa lebih positif dalam menilai suatu situasi agar terhindar dari masalah kesehatan mental seperti depresi, Anda disarankan untuk menjaga pola tidur agar mendapatkan waktu istirahat yang cukup setiap harinya. Dengan istirahat yang cukup, maka Anda pun akan siap menjalani hari dengan lebih produktif.

[MS/ RVS]