Hubungan antara Mata Minus dan Mata Malas

Oleh dr. Valda Garcia pada 11 Jun 2019, 11:15 WIB
Mata minus beda dengan mata malas, tetapi keduanya berhubungan. Ketahui penjelasan medis selengkapnya di sini.
Hubungan antara Mata Minus dan Mata Malas (ShotPrime Studio/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Selama ini Anda mungkin kurang mengenali hubungan antara mata minus dan mata malas. Mata minus merupakan bahasa awam dari miopia (rabun jauh) atau nearsightedness. Istilah mata minus lebih populer karena untuk mengoreksi kondisi tersebut, diperlukan penggunaan lensa sferis negatif atau lensa minus.

Sedangkan mata malas (ambliopia) adalah suatu gangguan perkembangan penglihatan ketika mata gagal untuk mencapai tajam penglihatan normal, meski sudah menggunakan kacamata atau lensa kontak yang sesuai.

Untuk lebih jelasnya, simak pemaparan berikut:

Mata minus

Miopia atau mata minus merupakan penyebab utama gangguan penglihatan pada usia di bawah 40 tahun. Beberapa tahun belakangan ini, prevalensi miopia atau rabun jauh ini kian meningkat.

Suatu penelitian menyatakan pada tahun 2000, sekitar 25 persen populasi dunia memiliki mata minus. Pada tahun 2050 nanti, diperkirakan akan terjadi peningkatan signifikan, yaitu setengah populasi dunia akan memiliki kondisi mata minus.

Rabun jauh disebabkan oleh beberapa faktor, seperti:

  • Ukuran bola mata lebih panjang dibandingkan dengan ukuran normal
  • Kelengkungan kornea
  • Kelengkungan lensa

Kondisi di atas menyebabkan berkas cahaya yang masuk ke dalam mata jatuh pada satu titik di depan retina. Mata minus dapat disebabkan oleh salah satu atau kombinasi beberapa faktor tersebut.

Risiko memiliki mata minus akan lebih tinggi jika memiliki orang tua yang juga memiliki riwayat miopia. Pada mayoritas kasus, kondisi mata minus akan stabil pada saat dewasa, tetapi tidak menutup kemungkinan terjadinya progresivitas seiring bertambahnya usia.

Berbagai gejala yang dikeluhkan orang-orang yang memiliki mata minus antara lain:

  • Sulit melihat benda dalam jarak jauh, tetapi tidak memiliki gangguan dalam melakukan aktivitas dalam jarak dekat seperti membaca atau menggunakan komputer.
  • Memiliki kebiasaan menyipitkan mata ketika melihat benda dalam jarak jauh.
  • Mata mudah lelah.
  • Sakit kepala.
  • Mata lelah ketika berkendara atau berolahraga.

Jika Anda mengalami gejala-gejala di atas, sebaiknya segera periksa ke dokter spesialis mata.

1 of 2

Mata malas

Ambliopia atau mata malas mulai terjadi pada saat bayi hingga pada awal masa kanak-kanak. Mayoritas kasus hanya melibatkan salah satu mata. Namun, tidak menutup kemungkinan ambliopia dapat terjadi pada kedua mata.

Jika ambliopia terdeteksi pada fase awal dan memperoleh terapi yang tepat, tajam penglihatan mata masih bisa diselamatkan. Namun jika tidak tertangani dengan baik, ambliopia dapat menimbulkan gangguan penglihatan yang berat pada mata yang terkena hingga dapat menyebabkan kebutaan. Berdasarkan data yang diperoleh dari populasi di Amerika Serikat, terdapat sekitar 2-3 persen populasi dengan ambliopia.

Karena ambliopia adalah masalah penglihatan pada bayi dan anak, diagnosisnya bisa cukup sulit. Namun, kondisi ambliopia sering kali disertai dengan kedudukan mata yang tidak sejajar (mata juling). Karenanya, jika terdapat kondisi tersebut, segera bawa anak ke dokter spesialis mata.

Selain itu, orang tua juga bisa melakukan pemeriksaan dengan menutup salah satu mata anak ketika ia sedang bermain. Anak dengan ambliopia akan cenderung menangis karena tidak dapat melihat dengan jelas karena selama ini ia terbantu oleh mata yang sehat.

Hubungan antara mata minus dan mata malas

Terdapat tiga tipe mata malas, yaitu:

  • Strabismic amblyopia, yaitu mata malas yang berkaitan dengan mata juling.
  • Deprivation amblyopia, yaitu mata malas yang berkaitan dengan kekeruhan media refraksi seperti katarak kongenital yang dapat menghambat masuknya berkas cahaya ke dalam mata.
  • Refractive ambliopya, yaitu kasus mata yang berhubungan dengan gangguan refraksi, salah satunya dapat disebabkan oleh mata minus.

Pada kasus refractive amblyopia, kondisi ini bisa terjadi ketika salah satu mata memiliki gangguan refraksi yang berat tetapi tidak terkoreksi dengan baik meski sudah memakai kacamata ataupun lensa kontak.

Pada kondisi tersebut, otak akan bergantung pada mata yang normal atau memiliki gangguan refraksi lebih ringan dan tidak menghiraukan kondisi buramnya penglihatan pada mata yang lain. Jika kondisi tersebut terjadi dalam jangka panjang, akan terjadi mata malas sehingga tidak dapat mencapai tajam penglihatan optimal meskipun sudah diberikan ukuran kacamata atau lensa kontak yang optimal.

Oleh karena itu, pemeriksaan mata sedini mungkin penting untuk mendeteksi adanya gangguan refraksi pada mata anak, terlebih pada anak yang orang tuanya punya kondisi mata minus. Nantinya, anak akan diberikan ukuran kacamata yang sesuai untuk membantu menjaga tajam penglihatan anak.

Itulah hubungan antara mata minus dan mata malas yang perlu Anda ketahui. Dengan melakukan pemeriksaan rutin, anak dengan risiko mata malas bisa terdeteksi pada fase awal dan memperoleh terapi yang tepat. Sehingga, gangguan tajam penglihatan dapat dihindari.

(RN/ RVS)

Lanjutkan Membaca ↓