Kenali Bahaya Vacuum Challenge yang Kini Viral

Oleh Ayu Maharani pada 11 Jun 2019, 14:00 WIB
Muncul lagi tantangan viral di media sosial, vacuum challenge. Dianggap lucu, tapi tantangan ini bisa sangat berbahaya.
Kenali Bahaya Vacuum Challenge yang Kini Viral (Foto: @swoonzi dan @meatman80/Pinterest)

Klikdokter.com, Jakarta Tiap tahunnya ada saja challenge atau tantangan baru yang viral lewat media sosial. Kalau sekitar 2 tahun lalu ada skip challenge, yaitu tantangan untuk menekan dada hingga napas dan detak jantung berhenti sejenak, baru-baru ini ada tantangan baru, yaitu vacuum challenge. Dianggap lucu, tetapi tantangan ini ternyata bisa sangat berbahaya.

Vacuum challenge (atau juga disebut sebagai trash bag challenge) adalah tantangan membungkus tubuh dengan kantong plastik sampah berukuran besar, lalu sisa oksigen disedot dengan penyedot debu (vacuum cleaner) hingga kantong tersebut melekat ketat membungkus tubuh. Diunggah di media sosial, pelaku menuliskan hashtag #InMyBagChallenge.

Menurut para ahli dari lembaga National Institute of Neurological Disorders and Stroke (NINDS), challenge tersebut berbahaya bagi kesehatan. Pasalnya, vacuum challenge dapat memicu terjadinya hipoksia serebral, yakni kurangnya pasokan oksigen ke otak walau darah masih tetap mengalir. Otak memiliki sel-sel yang sangat sensitif. Apabila sampai kekurangan oksigen, sel tersebut akan mati dalam waktu 5 menit usai pasokan oksigen berkurang drastis.

“Tercekik, mati lemas, henti jantung, trauma kepala, keracunan karbon monoksida, dan komplikasi anestesi umum dapat menciptakan kondisi yang dapat menyebabkan hipoksia serebral,” seperti tertulis dalam laman NINDS.

Menurut dr. Alvin Nursalim dari KlikDokter, risiko terkena hipoksia serebral pasca melakukan tantangan viral itu sebenarnya hanya bisa terjadi bila seseorang menutupi seluruh tubuhnya dengan plastik (hingga kepala). Sehingga, mereka akan kesulitan bernapas.

“Jika tantangan itu dilakukan hanya dengan membungkus badan saja tak sampai kepala, risiko untuk mengalami hipoksia serebral kecil. Yang bahaya adalah kalau pelakunya sampai membungkus kepalanya juga, lalu plastik itu mengetat akibat disedot vacuum cleaner dan dia tidak bisa bernapas,” jelas dr. Alvin. 

1 of 2

Dilarang ikut-ikutan vacuum challenge bila punya kondisi ini

Meski sekilas terdengar tidak terlalu berisiko, tentu saja tidak disarankan untuk mengikuti tantangan tersebut. Apalagi bagi mereka yang memiliki sejumlah kondisi tertentu. Dikatakan oleh dr. Alvin, penderita penyakit jantung, asma, dan orang-orang yang memiliki gangguan kecemasan tidak disarankan untuk melakukan tantangan ini.

“Aksi tersebut bisa merangsang beberapa saraf, sehingga bisa memicu kekambuhan penyakit mereka. Lebih baik jangan dilakukan sama sekali,” dr. Alvin menegaskan.

Entah siapa yang memulai challenge ini. Tapi yang jelas, bila itu tidak bermanfaat dan berisiko bagi keselamatan serta kesehatan, sebaiknya tidak dilakukan. Media sosial tetap bisa menyenangkan tanpa mengikuti challenge tersebut apalagi jika hanya demi mengunggah konten menarik.

Mana lebih bahaya, skip challenge atau vacuum challenge?

Sempat disinggung sebelumnya, skip challenge lebih dulu beredar secara viral. Dokter Alvin mengatakan, ketimbang vacuum challenge, skip challenge sebenarnya lebih berisiko. Metode menekan dada pada skip challenge secara keras risikonya jauh lebih berbahaya, baik bagi orang-orang yang sudah memiliki riwayat penyakit maupun tidak.

“Menekan dada secara keras seperti skip challenge itu bisa membuat patah tulang rusuk, perdarahan paru, gangguan pompa jantung, sekaligus trauma keras. Itu sangat berbahaya,” pungkasnya.

Vacuum challenge yang tengah viral di media sosial mungkin memang terlihat menantang,  bikin penasaran, dan mungkin jika menjadi konten di media sosial Anda akan mendapatkan banyak like. Namun, tantangan seperti ini bisa berbahaya, apalagi jika sampai membungkus tubuh secara ketat tanpa oksigen hingga menutupi kepala. Bahaya lebih nyata jika memiliki kondisi tertentu seperti asma, penyakit jantung, dan gangguan kecemasan. Daripada repot-repot melakukan tantangan ini, apalagi cuma demi konten, lebih baik lakukan hal lain yang lebih positif tanpa perlu membahayakan diri.

(RN/ RVS)

Lanjutkan Membaca ↓