WHO Sebut Terjadi Satu Juta Kasus PMS Per Hari, Apa Indikasinya?

Oleh Krishna Mahendra Sudarmo pada 11 Jun 2019, 15:30 WIB
Dalam laporan terbarunya, WHO sebut ada satu juta kasus penyakit menular seksual atau PMS per hari. Kenali tanda-tanda penularannya.
WHO Sebut Terjadi Satu Juta Kasus PMS Per Hari, Apa Indikasinya? (Artemida-Psy/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) awal Juni lalu baru saja mengeluarkan data hasil studi terbaru yang menunjukkan bahwa terjadi lebih dari satu juta kasus penyakit menular seksual – atau PMS – per hari di seluruh dunia. Penyakit tersebut tersebar di kalangan laki-laki dan perempuan berusia 15-49 tahun.

Lebih jauh lagi, WHO melaporkan lebih dari 276 juta kasus baru klamidia, gonore, trikomoniasis, dan sifilis terjadi setiap tahun. Artinya, secara rata-rata ada satu di antara 25 orang di dunia yang mengidap salah satu infeksi tersebut, bahkan sebagian di antaranya lagi memiliki beberapa infeksi sekaligus dalam waktu yang sama.

Banyak penderita tidak sadar mengidap PMS

Seperti dilansir dari VOA Indonesia, pakar epidemiologi medis di Departemen Penelitian dan Kesehatan Reproduksi WHO, Melanie Taylor, yang memimpin penelitian tersebut mengatakan jika PMS dapat disembuhkan dengan konsumsi antibiotik. Namun masalahnya, banyak penderita yang tidak menyadari bahwa mereka telah menjadi pembawa PMS.

"Mereka tidak menyadari bahwa mereka berisiko, sehingga tidak melakukan pemeriksaan dan menjalani perawatan. Padahal peluang menularkan infeksi ini cukup tinggi, terutama peluang untuk menularkannya pada mitra seksual dan juga orang lain, seperti ibu pada bayi yang dikandungnya. Peluang tersebut sangat besar," kata Taylor.

Mungkin masih banyak orang yang tidak mengetahui jika penularan sifilis juga dapat terjadi pada ibu terhadap bayinya. Pada 2016 lalu, WHO sempat mengeluarkan laporan yang menyebut sifilis sebagai penyebab sekitar 200 ribu bayi lahir dalam kondisi meninggal serta meninggalnya bayi yang baru lahir.

Selanjutnya, WHO mengingatkan jika PMS yang tidak diobati dengan tepat dapat menimbulkan masalah kesehatan yang lebih serius dan kronis, seperti penyakit neurologis dan kardiovaskular, infertilitas, kehamilan ektopik atau kehamilan di luar rahim, dan meningkatnya risiko HIV.

1 of 2

Tanda-tanda penularan PMS

Oleh karena itu, dengan tingginya angka yang dijabarkan WHO tersebut, Anda harus lebih waspada dengan PMS dan lebih mengenal tanda-tanda penularannya.

Menurut dr. Adeline Jaclyn dari KilkDokter, penularan PMS terjadi saat ada kontak dengan cairan tubuh orang lain yang terinfeksi, seperti darah, cairan vagina, dan semen. Paling banyak terjadi saat melakukan hubungan seksual, baik secara vaginal, anal, maupun seks oral.

Infeksi ini juga dapat menyebar melalui kontak dengan kulit yang terinfeksi atau membran mukosa seperti sariawan di mulut, penggunaan jarum suntik secara bergantian, serta seperti yang sudah disebut sebelumnya, ibu pada anaknya saat melahirkan dan menyusui. Penyebab infeksinya sendiri bisa dari virus, bakteri, dan protozoa.

Salah satu hal yang membuat banyak penderita tidak sadar mengidap PMS karena sebagian besar PMS  bersifat asimptomatik, yang berarti tidak menimbulkan gejala. Gejalanya bisa hilang sendiri, sementara penyakitnya tidak akan hilang sampai dilakukan pengobatan.

Namun, tetap ada beberapa tanda yang mengindikasikan terjadinya penularan PMS yang harus Anda waspadai jika sampai terjadi. Tanda-tanda tersebut adalah:

  • Nyeri saat buang air kemih
  • Gatal, rasa terbakar, atau rasa kesemutan pada alat kelamin
  • Terdapat luka, bintik-bintik, atau benjolan pada alat kelamin dan anus
  • Serbuk hitam atau titik putih pada celana dalam yang Anda kenakan. Hal tersebut menandakan adanya telur kutu.

Harus diperhatikan pula adanya perbedaan tanda-tanda PMS yang terjadi pada laki-laki dan perempuan, meski penyakit yang tertular sama. Hal ini disebabkan adanya perbedaan fisiologis di antara laki-laki dan perempuan.

Adapun yang biasanya hanya terjadi pada perempuan adalah:

  • Keputihan yang berwarna kuning atau hijau.
  • Keputihan yang berbau.
  • Perdarahan di luar siklus haid atau setelah berhubungan seksual.
  • Nyeri saat berhubungan seksual.
  • Nyeri pada perut bawah.

Sementara yang biasanya hanya terjadi pada laki-laki misalnya keluarnya cairan dari penis dan iritasi pada alat kelamin.

Bila Anda mengalami tanda-tanda di atas, segera periksakan diri Anda ke dokter untuk segera mendapat penanganan yang tepat karena PMS masih bisa disembuhkan. Namun, perilaku seks yang aman atau menggunakan alat pengaman saat melakukan hubungan seksual yang berisiko adalah cara terbaik untuk menghindari penularan PMS.

[RVS]

Lanjutkan Membaca ↓