Mengenal Pola Asuh Co-Parenting untuk Pasangan Bercerai

Oleh dr. Sara Elise Wijono MRes pada 12 Jun 2019, 08:00 WIB
Pasangan bercerai tetap punya tanggung jawab dalam membesarkan anak. Salah satu solusinya adalah menerapkan pola asuh co-parenting.
Mengenal Pola Asuh Co-Parenting untuk Pasangan Bercerai (Mavo/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Perceraian bukanlah proses yang mudah, baik bagi pasangan maupun anak. Sering kali, proses ini diwarnai berbagai konflik antar-orang tua, tapi turut berimbas negatif pada anak. Namun, meski sudah bercerai, tanggung jawab sebagai orang tua dalam mengasuh anak tidak lantas hilang. Salah satu solusi yang baik dalam mengasuh anak untuk pasangan bercerai adalah sistem co-parenting.

Pola asuh co-parenting

Dalam pola asuh ini, kedua orang tua diharapkan berperan aktif dalam mengasuh anak serta terlibat dalam kesehariannya. Co-parenting membantu memenuhi semua kebutuhan anak serta memungkinkan anak memiliki hubungan akrab dengan kedua orang tuanya, meski sudah berpisah.

Manfaat bagi anak dengan orang tua bercerai yang menerapkan pola asuh co-parenting antara lain adalah:

  • Anak merasa aman dan dicintai kedua orang tua sehingga mudah beradaptasi dengan pola hidup baru setelah perceraian, serta memiliki kepercayaan diri yang lebih baik.
  • Memiliki kesehatan mental dan emosional yang lebih baik.
  • Memiliki contoh yang baik dari orang tuanya, termasuk kemampuan menyelesaikan masalah. Anak dapat melihat bahwa orang tua yang sudah berpisah dapat bekerja sama dengan baik, sehingga anak terbiasa memecahkan masalah dengan efektif dan konflik minimal.
  • Anak tetap memiliki kehidupan yang konsisten. Dalam pola asuh ini, kedua orang tua tetap menerapkan peraturan, hukuman, dan reward yang sama untuk anak, walau tidak dalam satu rumah tangga.

Pola asuh co-parenting tidak selalu berjalan mulus. Pasti muncul tantangan, terlebih jika Anda dan mantan pasangan menjalani perceraian yang penuh pertikaian. Sakit hati, rasa marah, dan dendam terhadap mantan mungkin masih ada.

Agar berhasil, ubahlah cara pandang Anda. Mulailah membina relasi baru dengan mantan, yang sepenuhnya mengutamakan kepentingan anak, serta tidak mengaitkannya dengan hubungan Anda dengan mantan.

Baik Anda maupun pasangan perlu memiliki empati, kesabaran, serta kemauan untuk berkomunikasi secara terbuka agar pola asuh ini dapat berhasil dijalani dengan baik. Bagi anak sendiri, terdapat dua faktor penting yang membantunya beradaptasi terhadap lingkungan hidup baru setelah perceraian orang tuanya.

Yang pertama, adanya hubungan yang bermakna dan rutin dengan kedua orang tuanya. Selanjutnya, anak terlindung dari konflik di antara orang tuanya.

1 of 2

Cara agar co-parenting sukses

Jadi, sebagai pasangan bercerai bagaimana menerapkan pola asuh co-parenting agar berhasil?

Yang pertama adalah memisahkan antara emosi dan tindakan Anda. Wajar jika Anda masih menyimpan sakit hati akibat proses perceraian, tapi tindakan Anda tidak perlu menunjukkan hal tersebut. Carilah pelampiasan emosi negatif Anda, seperti curhat dengan teman atau keluarga, berolahraga, dan menjalani hobi.

Namun, jangan lampiaskan rasa tersebut kepada anak. Hindari pula menempatkan anak dalam posisi sulit, misalnya dengan menjadikan anak perantara. Lakukan komunikasi dengan mantan melalui tatap muka langsung, email, chat, dan telepon. Selain itu, hindari menjelekkan mantan di depan anak.

Yang kedua adalah memperbaiki komunikasi dengan mantan. Anggap mantan sebagai business partner dalam usaha membesarkan anak. Anda dapat berkomunikasi selayaknya dengan rekan usaha (selalu sopan dan netral), menjadi pendengar yang baik, serta mengekang diri untuk bereaksi berlebihan terhadap mantan.

Anda bisa berkomitmen untuk berkomunikasi secara rutin dengannya. Namun, pastikan komunikasi tersebut terbatas pada kepentingan anak saja.

Yang ketiga, bekerja samalah sebagai satu tim. Anda perlu menerapkan konsistensi kepada anak, misalnya untuk urusan jadwal kegiatan sehari-hari, aturan yang harus dipatuhi, serta tindakan mendisiplinkan anak. Usahakan untuk mengambil keputusan bersama mengenai hal penting, seperti pendidikan dan kesehatan.

Yang terakhir, bantu anak untuk menjalani transisi kehidupan di dua rumah. Misalnya saat anak akan tinggal di tempat mantan, ingatkan sejak beberapa hari sebelumnya atau bantu anak mengepak barangnya (terutama untuk anak yang lebih kecil).  

Saat anak akan kembali ke rumah Anda, usahakan membuat rutinitas khusus (misalnya menyiapkan makanan kesukaannya), memberikan waktu tenang terlebih dahulu (seperti membaca buku bersama), atau berikan anda ruang untuk sendiri jika dirasa diperlukan.

Tak hanya bagi Anda, perceraian dan masa setelahnya adalah waktu yang sulit bagi anak. Karena itu, menerapkan co-parenting adalah salah satu solusi bagi mereka. Dengan pola asuh ini, anak tetap merasa memiliki keluarga dan orang tua. Mengasuh anak dengan pola co-parenting juga dapat membuat mereka menjalani hidup lebih positif dan bahagia.

[HNS/ RVS]

Lanjutkan Membaca ↓