Bahaya Infeksi Menular Seksual pada Ibu Hamil

Oleh dr. Nadia Octavia pada 12 Jun 2019, 11:00 WIB
Waspada, infeksi menular seksual (IMS) yang dialami ibu hamil bisa mengancam keselamatan diri dan janin di dalam kandungannya.
Bahaya Infeksi Menular Seksual pada Ibu Hamil (Blue Planet Studio/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Infeksi menular seksual alias IMS adalah penyakit yang berpindah dari satu orang ke orang lainnya melalui hubungan seksual. Proses penularan penyakit ini bisa terjadi akibat adanya aktivitas seksual melalui mulut, anus, penis maupun vagina.

Infeksi menular seksual merupakan penyakit serius yang bisa menyebabkan kemunculan berbagai komplikasi. Jika terjadi pada ibu hamil, penyakit ini bisa mengancam keselamatan ibu maupun janin yang ada di dalam kandungannya.

Bahaya IMS pada ibu hamil

Secara spesifik, infeksi menular seksual (IMS) yang terjadi pada ibu hamil bisa berakhir pada terjadinya:

  1. HIV/AIDS

HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah jenis virus yang dapat menular melalui melalui hubungan seksual atau bertukar jarum suntik dengan penderita HIV. Selain itu, jika Anda memiliki luka di kulit dan luka tersebut terpapar cairan tubuh penderita HIV, maka Anda juga sangat berisiko untuk tertular penyakit tersebut.

Calon bayi dari ibu penderita HIV juga berisiko mengalami penyakit yang sama. Ini karena HIV dapat menular melalui plasenta dan vagina, juga melalui ASI.

  1. Gonore

Gonore alias gonorrhoea adalah penyakit infeksi menular seksual yang terjadi akibat paparan bakteri Neisseria gonorrhoea. Jika penyakit ini terjadi pada ibu hamil, terjadinya keputihan berbau, rasa terbakar sewaktu berkemih atau nyeri perut tak bisa dihindari.

Tak hanya itu, ibu hamil yang mengalami gonore dan tidak ditangani dengan baik juga dapat mengalami keguguran, kelahiran prematur, kehamilan di luar kandungan dan gangguan kesuburan di masa mendatang.

Sementara itu, bayi yang lahir dari ibu dengan gonore sangat berisiko untuk mengalami kebutaan, infeksi sendi dan infeksi darah. Kesemua kondisi tersebut sangat mungkin mengancam nyawa.

  1. Klamidia

Infeksi klamidia – atau chlamydia – yang disebabkan oleh bakteri Chlamydia trachomatis sangat berbahaya jika dialami oleh ibu hamil. Pasalnya, penyakit ini bisa menyebabkan terjadinya keputihan abnormal, sering buang air kecil dan terasa nyeri, sakit perut, hingga perdarahan.

Bila tidak segera diobati, klamidia dapat menyebabkan komplikasi berat, seperti peradangan rongga panggul, kecacatan pada bayi, gangguan kesuburan, kehamilan di luar kandungan, kelahiran prematur, pecah ketuban dini, berat badan bayi lahir rendah, pneumonia, hingga kematian bayi.

  1. Sifilis

Sifilis adalah jenis penyakit infeksi menular seksual yang disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum. Penyakit ini dapat dengan mudah menular pada calon bayi jika dialami oleh ibu hamil.

Infeksi sifilis pada janin dapat dimulai sejak usia kehamilan 14 minggu dan risiko semakin meningkat seiring bertambahnya usia kehamilan. Terjadinya kondisi ini membuat bayi berisiko tinggi untuk lahir secara prematur dan mengalami masalah organ tubuh. Sekitar 40% wanita hamil yang mengalami sifilis dan tidak diobati dapat berakhir pada kematian bayi.

  1. Bakterial vaginosis

Bakterial vaginosis adalah jenis infeksi vagina yang paling sering terjadi pada wanita yang sudah aktif secara seksual. Beberapa penyebabnya adalah paparan bakteri Gardnella vaginalis, Mobiluncus, Mycoplasma hominis, dan Bacteroides.

Beberapa kasus bakterial vaginosis menyebabkan vagina berbau amis, terutama saat berhubungan seksual. Jika dialami ibu hamil, penyakit ini dapat memicu terjadinya infeksi cairan ketuban, infeksi pada masa nifas, penyakit radang panggul, kelahiran prematur dan kontraksi prematur.

  1. Herpes genitalis

Herpes genitalis adalah infeksi pada area genital yang disebabkan oleh virus Herpes simplex. Gejala penyakit ini berupa timbulnya lenting pada area genital, yang umumnya didahului dengan rasa terbakar dan gatal.

Bila dialami oleh ibu hamil, herpes genitalis perlu segera diatasi. Pasalnya, virus penyebab penyakit ini dapat masuk ke sirkulasi janin melalui plasenta. Jika hal tersebut terjadi, kerusakan organ hingga kematian pada janin tak bisa dihindari.

Faktanya, angka kematian janin akibat herpes genitalis mencapai 60%. Sedangkan, bayi yang mampu bertahan hidup setelah terinfeksi penyakit tersebut menderita cacat neurologis atau memiliki kelainan berupa mikrosefali (ukuran kepala kecil), hidrosefali, hepatitis dan infeksi pada mata.

Infeksi menular seksual alias IMS adalah penyakit yang tidak bisa dianggap sepele, apalagi bila terjadi pada ibu hamil. Atas dasar itu, jika Anda merasa mengalami gejala yang mengarah pada salah satu IMS, jangan tunda untuk berobat ke dokter. Ajak serta pasangan Anda untuk diperiksa, agar infeksi menular seksual di waktu mendatang bisa benar-benar dicegah.

(NB/ RVS)