Lama Vakum Aktivitas Seks, Ini Akibatnya

Oleh Krisna Octavianus Dwiputra pada 12 Jun 2019, 14:00 WIB
Ada masa ketika frekuensi seks berkurang, bahkan terhenti. Ternyata, dampaknya tak menyenangkan baik pada pria maupun wanita. Apa saja?
Lama Vakum Aktivitas Seks, Ini Akibatnya (vgstudio/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Seks memegang peranan penting dalam kehidupan rumah tangga dan keintiman dengan pasangan. Tanpa kualitas dan kuantitas seks yang memadai, hubungan dengan pasangan bisa menjadi taruhannya. Meski seks nikmat dan menyenangkan, tetapi ada periode dalam hidup ketika frekuensinya berkurang, terhenti dalam jangka waktu tertentu, atau berhenti sama sekali. Nah, ada beberapa hal yang terjadi pada tubuh ketika Anda menghentikan aktivitas seks.

Ada beberapa alasan seseorang menghentikan aktivitas seks. Mulai dari alasan agama atau nilai-nilai kesucian, jasmani (menghindari kehamilan atau penularan infeksi menular seksual), psikososial (depresi, kecemasan), trauma, dan lain-lain. Apa pun alasannya, kurangnya seks secara mengejutkan dapat berdampak pada tubuh dan jiwa secara umum.

Inilah yang terjadi ketika Anda menghentikan seks

Dilansir dari berbagai sumber, berbagai masalah di bawah ini bisa terjadi saat rutinitas seks Anda berkurang atau terhenti.

  • Berbahaya bagi jantung

Penelitian menemukan bahwa orang-orang yang berhubungan seks sebulan sekali atau kurang, kemungkinannya lebih besar mengalami penyakit jantung dibandingkan dengan orang-orang yang berhubungan seks dua kali seminggu.

Salah satu alasannya mungkin seks bisa berperan sebagai olahraga (dikatakan bisa membakar kalori sekitar 5 kalori per menit) dan bisa menurunkan kecemasan atau depresi. Alasan lainnya, jika Anda lebih sering berhubungan seks, dipercaya kondisi fisik dan mental lebih baik.

Dikatakan oleh dr. Dyan Mega Inderawati dari KlikDokter, hormon endorfin turut berperan.

“Hormon endorfin yang dilepaskan tubuh saat melakukan aktivitas seksual juga nyatanya mampu menjaga kesehatan sel dan menangkal radikasl bebas penyebab kerusakan organ, termasuk jantung,” jelas dr. Dyan.

  • Mudah gelisah

Saat sedang stres, seks mungkin adalah hal terakhir yang ingin dilakukan. Padahal, seks saat sedang stres dapat membantu menurunkan kecemasan.

Seks tampaknya mengurangi jumlah hormon yang dikeluarkan tubuh sebagai respons terhadap stres. Nah, aktif secara seksual bisa membuat Anda lebih bahagia dan lebih sehat, yang mungkin dapat membantu mencegah kecemasan.

Selain itu, seks yang dilakukan secara rutin dipercaya dapat menjadi penghilang stres, sedangkan mereka yang aktivitasnya kurang aktif dilaporkan mengalami lonjakan tekanan darah sebagai respons terhadap stres.

Kata dr. Dyan, rasa nyaman ketika berhubungan seks mampu membuat tubuh melepaskan endorfin si pengusir stres. Dalam sebuah penelitian, ditemukan bahwa mereka yang melakukan seks secara rutin terbukti memiliki tingkat stres yang lebih rendah ketimbang mreka yang tidak melakukannya sama sekali.

“Efek relaksasi ini umumnya langsung dapat dirasakan setelah selesai berhubungan seksual. Sebagian bahkan merasakan efek relaks yang setara seperti saat sedang meditasi,” ungkap dr. Dyan.

1 of 3

Selanjutnya

  • Mudah lupa

Anda sering lupa menaruh kunci? Bisa jadi ini tanda kurang seks. Seks secara teratur dihubungkan dengan peningkatan daya ingat, khususnya pada usia 50-89 tahun. Meski demikian, ini masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.

  • Kekebalan tubuh mudah menurun

Dokter Dyan mengutarakan, bahwa penelitian di Pennsylvania, Amerika Serikat, membuktikan bahwa seks 1-2 kali seminggu membuat pelakunya memiliki daya tahan tubuh yang lebih baik. Secara kuantitatif, kadar immunoglobulin A-nya 30 persen lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang tidak berhubungan seks sama sekali. Imunoglobulin merupakan zat yang diperlukan untuk menjaga tubuh tetap sehat dan terlindungi dari serangan kuman penyebab penyakit.

Meski demikian, terlalu sering berhubungan seks juga tidak disarankan. Lewat penelitian yang sama, disebutkan bahwa seks lebih dari 2 kali dalam seminggu bisa menurunkan daya tahan tubuh, sehingga pelakunya justru lebih rentan terhadap serangan penyakit.

  • Memengaruhi hubungan Anda dan pasangan

Otak seakan “bermandikan” kimia perasaan senang yang bisa bertahan hingga 2 hari, serta dapat membantu mempererat ikatan Anda dan pasangan dalam jangka panjang. Tanpanya, Anda bisa kehilangan kepuasan dalam hubungan yang telah Anda bina. Hubungan seksual yang sehat dan bahagia dapat membangun kepercayaan rasa pengertian antara Anda dan pasangan.

2 of 3

Selanjutnya

  • Kehilangan libido

“Pada beberapa orang yang menghentikan seks, mereka merasa lebih lesu, vitalitas berkurang, begitu juga dengan dorongan seks,” kata Sari Cooper, LCSW, terapis seks asal Amerika Serikat kepada Reader’s Digest.

  • Dinding vagina menipis

Biasanya, ini terjadi pada wanita yang memasuki masa menopause. Dikatakan oleh Sari, tanpa frekuensi seks yang teratur seiring bertambahnya usia, dinding-dinding vagina akan menipis, sehingga bisa mengakibatkan rasa sakit saat berhubungan seks.

  • Mungkin akan kehilangan pelumas

Efek samping lainnya jika menghentikan seks pada wanita yang lebih tua, vagina bisa bermasalah dalam memproduksi pelumas saat kembali berhubungan seksual setelah lama absen. Penyebabnya, seperti dinding vagina yang menipis, adalah kurangnya hormon estrogen.

“Pada wanita usia 20-30 tahun yang masih punya banyak estrogen, jaringan dalam vagina akan tetap sehat, elastis, serta tetap terlubrikasi meski tidak sedang berhubungan seks,” kata Dr. Lauren Streicher seperti dikutip di Mirror UK. “Namun jika wanita usia 60-an dan tak punya estrogen, artinya ia sudah kehilangan lubrikan alami tersebut,” tambahnya.

  • Prostat bisa menjadi kurang sehat

Meski alasannya tidak jelas, tetapi ada studi yang menemukan bahwa pria yang ejakulasi kurang dari 7 kali dalam sebulan lebih mungkin mengalami kanker prostat, dibandingkan dengan pria yang melakukannya setidaknya 21 kali dalam sebulan.

  • Sulit tidur

Tanpa seks, Anda tak memiliki pasokan hormon yang menunjang kualitas tidur seperti prolaktin dan oksitosin. Untuk wanita, seks bisa merangsang lonjakan estrogen yang bisa makin membantu Anda untuk tidur nyenyak.

  • Mengusir rasa nyeri

Seks bisa mengalihkan pikiran dari rasa sakit yang Anda rasakan. Lebih dari itu, orgasme menyebabkan tubuh melepaskan endorfin dan hormon lainnya yang dapat membantu meringankan nyeri di kepala, punggung, serta kaki. Ini bisa dimanfaatkan untuk meredakan kondisi seperti artritis dan kram perut saat menstruasi.

  • Disfungsi ereksi lebih mungkin terjadi

Dilansir dari Bustle, menghentikan aktivitas seksual dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya disfungsi ereksi pada pria. Studi mengenai ini tampaknya cenderung fokus pada pria yang berusia lebih tua, tetapi peneliti sepakat bahwa aktivitas seksual yang reguler memiliki efek sehat pada ereksi pria.

Mengutip dari WebMD, beberapa penelitian mengatakan bahwa pria yang berhubungan seks kurang dari satu kali seminggu, risikonya dua kali lebih mungkin mengalami disfungsi ereksi dibandingkan mereka yang rutin melakukannya seminggu sekali.

Apa pun penyebab Anda menghentikan aktivitas seks, itulah hal-hal yang bisa terjadi pada tubuh baik secara fisik maupun mental. Jika Anda sudah berumah tangga, seks punya peranan penting. Bukan hanya untuk merencanakan kehamilan, tetapi juga krusial dalam menjaga keharmonisan dan keintiman bersama pasangan. Selain itu, manfaat seks secara rutin dan berkualitas pun beragam dan sayang untuk dilewatkan.

(RN/ RVS)

Lanjutkan Membaca ↓