Penurunan Berat Badan Terlalu Cepat Picu Pembentukan Batu Empedu?

Oleh dr. Reza Fahlevi pada 13 Jun 2019, 12:00 WIB
Siapa yang tak ingin berat badan cepat turun? Hati-hati, penurunan berat badan terlalu cepat akibat diet ekstrem bisa picu batu empedu.
Penurunan Berat Badan Terlalu Cepat Picu Pembentukan Batu Empedu? (Isaree/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Berat badan ideal merupakan impian hampir semua orang. Tak hanya penting untuk alasan kesehatan, tetapi juga penampilan. Tak sedikit orang yang ingin menurunkan berat badan secara drastis dalam waktu cepat untuk mencapai target berat badan yang diinginkan. Bahkan, tak jarang yang rela menyiksa diri dan menghindari makanan. Cara diet seperti ini tak sehat. Salah satu yang bisa diakibatkan diet seperti ini adalah pembentukan batu empedu.

Hubungan antara penurunan berat badan dan batu empedu

Sudah ada beberapa penelitian yang membuktikan bahwa penurunan berat badan yang terlalu cepat dapat mengubah saturasi kolesterol dalam kantong empedu, sehingga dapat memicu pembentukan batu empedu.

Batu empedu adalah gumpalan material atau kristal padat yang terbentuk dalam kantong empedu. Kantung empedu itu sendiri berfungsi untuk membantu tubuh dalam mencerna lemak, dengan cara menyimpan dan melepaskan empedu ke usus kecil. Selain itu, empedu juga dapat membantu menghilangkan kolesterol dalam tubuh.

Satu data penelitian membuktikan, 10-25 persen individu yang mengalami penurunan berat badan drastis dalam jangka waktu cepat melalui diet kalori rendah, mengalami batu empedu.

Pada beberapa penelitian lainnya, dilaporkan bahwa pada pasien obesitas mengalami batu empedu sebanyak 38-52 persen dalam 1 tahun, setelah melakukan operasi untuk menurunkan berat badan (secara drastis).

Target penurunan berat badan harus rasional dan bertahap

Melihat berbagai hasil penelitian di atas, itulah kenapa Anda disarankan menjalani cara yang benar dan aman jika ingin menurunkan berat badan. Targetnya harus rasional agar tidak menimbulkan dampak yang berbahaya bagi kesehatan.

Hingga saat ini, pengaturan pola makan, olahraga, dan perubahan kebiasaan hidup merupakan cara yang paling aman untuk menurunkan berat badan. Konsumsi obat-obatan dan tindakan operasi dilakukan atas dasar indikasi medis tertentu.

Perlu diingat, penurunan berat badan yang baik terjadi secara bertahap dan pelan-pelan. Patokan amannya adalah 0,5-1 kg per minggu.

1 of 2

Setelah berat badan turun, inilah tips untuk mempertahankannya

Fokus Anda pun tak hanya dalam menurunkan berat badan, tetapi juga mempertahankannya. Tak jarang orang-orang yang sudah mencapat target berat badan idealnya frustrasi karena berat badan kembali naik setelah berhenti diet. Malahan, ada pula kasus setelah berhenti diet, berat badannya terus naik melebihi bobotnya sebelum diet. 

Untuk mencapai kestabilan berat badan yang ideal, hal terpenting yang harus Anda lakukan adalah:

  • Membangun kebiasaan untuk menjalankan pola hidup sehat. Anda bisa memulainya dengan membatasi jumlah asupan kalori, terutama yang mengandung karbohidrat dan lemak yang tinggi.
  • Kurangi dan batasi mengonsumsi camilan, makanan cepat saji, serta minuman bersoda atau minuman kemasan lainnya yang mengandung kadar gula tinggi.
  • Perbanyak asupan protein untuk membangun otot, serta serat lewat buah dan sayur untuk membuat Anda merasa kenyang lebih lama.
  • Olahraga secara teratur sebanyak 4-5 kali seminggu selama 30-60 menit per sesi sesuai minat atau kemampuan.
  • Hentikan kebiasaan seperti ngemil sambil menonton televisi, serta perbanyak kebiasaan baik seperti jalan kaki, naik turun tangga, bersepeda, serta beristirahat dengan cukup.

Diet ekstrem agar berat badan turun secara drastis memang tidak disarankan, karena berbahaya bagi kesehatan. Salah satunya, penurunan berat badan yang terlalu cepat bisa picu pembentukan batu empedu. Diet yang dianjurkan para ahli adalah pengaturan pola makan yang sehat, olahraga, dan perubahan kebiasaan hidup. Targetnya pun harus rasional, dengan penurunan berat badan secara bertahap. Sehingga, tak hanya berat badan turun secara aman dan sehat, tetapi Anda pun dapat mempertahankannya dalam jangka waktu panjang.

(RN/ RVS)

Lanjutkan Membaca ↓