Sakit Kepala pada Anak, Ini yang Perlu Anda Tahu

Oleh Krisna Octavianus Dwiputra pada 14 Jun 2019, 09:00 WIB
Sakit kepala tak hanya menyerang dewasa, tetapi juga anak. Berikut ini adalah hal-hal yang perlu Anda tahu mengenai sakit kepala pada anak.
Sakit Kepala pada Anak, Ini yang Perlu Anda Tahu (Marco Mayer/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Sakit kepala bukanlah penyakit khusus orang dewasa. Sakit kepala juga umum dirasakan anak-anak, dan lebih sering lagi terjadi pada anak laki-laki sebelum pubertas dan pada anak perempuan setelah pubertas (akibat perubahan hormon yang berhubungan dengan siklus menstruasi). Sebagai orang tua, ketahuilah hal-hal yang menyangkut sakit kepala pada anak.

Pertama-tama, orang tua bisa tak menyadari bahwa anak mengalami sakit kepala. Dijelaskan oleh dr. Nadia Octavia dari KlikDokter, anak-anak bisa mengalami tipe sakit kepala seperti yang dialami oleh orang dewasa, tetapi gejalanya bisa berbeda.

“Gejala sakit kepala sering kali terabaikan orang tua, karena anak (khususnya pada usia dini) belum bisa mengungkapkan keluhannya. Misalnya anak bisa merespons rasa sakit dengan menangis terus-menerus. Bukan tak mungkin orang tua akan menyalahartikannya sebagai rewel semata, padahal ia sakit kepala,” ungkap dr. Nadia.

Meski banyak orang tua yang khawatir akan kemungkinan bahwa sakit kepala menandakan kondisi yang lebih serius, seperti tumor otak, tetapi kebanyakan sakit kepala bukan didasari penyakit serius. Dilansir dari Verywell Health, faktanya penyebab tersering sakit kepala pada anak adalah penyakit jangka pendek biasa seperti flu atau pilek.

Tipe sakit kepala yang bisa terjadi pada anak

Ada dua kategori utama sakit kepala pada anak-anak, yaitu:

  • Sakit kepala primer, yaitu yang tidak disebabkan oleh kondisi medis. Misalnya migrain, sakit kepala tipe tegang, dan sakit kepala tipe cluster.
  • Sakit kepala sekunder, yang terjadi sebagai produk sampingan dari beberapa kondisi lain seperti penyakit akibat virus atau sinus, infeksi telinga atau mata, meningitis, cedera kepala, tumor otak, stres, kecemasan, depresi, atau efek samping dari beberapa jenis obat.

Berikut di bawah ini adalah penjabaran lengkap mengenai jenis sakit kepala yang bisa dialami anak.

  1. Migrain

Dikatakan oleh dr. Nitish Basant Adnani, BMed, MSc, dari KlikDokter, menurut penelitian sekitar 3,5-5 persen dari anak-anak pernah mengalami migrain. Diketahui juga bahwa faktor genetik berperan dalam terjadinya migrain. Sebagian besar dari anak yang menderita migrain memiliki setidaknya satu anggota keluarga dengan riwayat keluhan serupa.

Seperti halnya orang dewasa, pemicu migrain pada anak bervariasi, meliputi:

  • Konsumsi makanan olahan
  • Konsumsi daging yang diasinkan (cured meat)
  • Konsumsi aged cheese
  • Konsumsi kacang-kacangan
  • Konsumsi cokelat
  • Konsumsi buah sitrus
  • Konsumsi minuman bersoda
  • Kelaparan
  • Dehidrasi
  • Kelelahan
  • Gangguan pada pola tidur normal
  • Terlalu banyak beraktivitas
  • Stres dan kecemasan
  • Mabuk perjalanan (motion sickness)
  • Konsumsi obat-obatan tertentu

Dibandingkan dengan orang dewasa, pada anak-anak durasi migrain dilaporkan lebih pendek, kadang-kadang hanya berlangsung selama 2 jam. Gejala migrain pada anak termasuk:

  • Adanya aura (periode waktu sesaat sebelum sakit kepala, yang mana anak mungkin melihat kilatan cahaya atau warna).
  • Sakit kepala berdenyut atau berdenyut di kedua sisi kepala (sakit kepala pada satu sisi lebih sering terjadi pada orang dewasa).
  • Sakit kepala di dahi atau pelipis.
  • Peningkatan rasa sakit saat beraktivitas fisik.
  • Peka terhadap cahaya, suara, atau keduanya. Anak-anak mungkin mengalami kesulitan untuk mengartikulasikan ini.
  • Sensitivitas terhadap bau.
  • Gejala otonom seperti hidung atau mata berair.
  • Sakit perut.
  • Mual dan muntah.
  • Sakit kepala ringan.
  • Kesulitan berpikir. 
1 of 3

Selanjutnya

  1. Sakit kepala tipe tegang

Anak yang mengalami sakit kepala jenis ini menggambarkannya seperti ada yang mengikat kepalanya, dan sering kali disertai nyeri di leher dan bahu. Sakit kepala tipe tegang bisa dirasakan anak saat ia sedang di bawah tekanan, atau mengalami kesulitan dalam menghadapi kecemasan atau situasi emosional. Durasi sakit kepala bervariasi, bisa hanya 30 menit atau kurang dari itu, tetapi bisa juga sampai berhari-hari.

  1. Sakit kepala tipe cluster

Meski jarang terjadi, tetapi kemunculannya pada anak dapat mengganggu kemampuan anak untuk berfungsi secara normal. Sakit kepala tipe cluster digambarkan seperti nyeri seperti ditusuk pada satu sisi kepala. Meski nyerinya tergolong parah, tetapi umumnya sakit kepala ini akan menghilang dalam waktu sekitar 3 jam.

Kapan harus membawa anak ke dokter?

Sebagian sakit kepala pada anak memang tidak berbahaya dan bisa diatasi dengan mudah. Namun, dr. Nadia mengingatkan, jika sakitnya memburuk dan disertai gejala lainnya, bisa jadi itu pertanda gangguan kesehatan yang lebih serius.

Anda harus segera menemui dokter jika sakit kepala anak diikuti dengan gangguan penglihatan, muntah-muntah, demam, leher nyeri atau kaku, atau kelemahan pada otot.

“Nantinya dokter akan memeriksa dan menanyakan beberapa pertanyaan seputar sakit kepala tersebut, seperti jenis sakit di kepala, seberapa sering anak mengalami sakit kepala, dan sebagainya,” kata dr. Nadia mengingatkan.

2 of 3

Tips agar anak terhindar dari sakit kepala

Supaya anak terhindar dari sakit kepala, biasakan untuk menerapkan pola hidup sehat sedini mungkin. Anda sebagai orang tua pun perlu memberikan contoh dengan turut menerapkannya.

Selain itu, jika anak sering sakit kepala, pertimbangkan untuk mencatatnya dalam jurnal. Tulis detail mengenai apa saja yang terjadi saat dan sebelum sakit kepala, sehingga pemicunya bisa diidentifikasi.

“Tidur cukup, aktif berolahraga, pola makan sehat, dan menghindari kafein adalah hal-hal yang harus diperhatikan. Stres juga dapat menjadi pemicu sakit kepala, sehingga penting untuk mencermati apakah anak sedang tertekan,” tambah dr. Nadia. “Selain itu, ketahui dan hindari pencetus sakit kepala pada anak, misalnya makanan atau minuman tertentu,” lanjutnya.

Pengobatan sakit kepala di rumah

Di rumah, sediakan selalu obat-obatan analgesik yang dijual bebas di pasaran seperti asetaminofen atau antiinflamasi nonsteroid untuk meredakan sakit kepala. Penting untuk diingat, jangan memberikan aspirin atau obat yang mengandung aspirin pada anak remaja untuk infeksi virus (dengan atau tanpa demam) karena itu dapat meningkatkan risiko penyakit serius seperti sindrom Reye.

Pada kasus migrain anak, usianya harus diperhatikan, begitu juga resistensi sakit kepala dan frekuensinya. Dokter mungkin akan meresepkan obat-obatan tertentu untuk mengatasi migrain pada anak remaja.

Sakit kepala juga bisa terjadi karena stres. Karenanya, jika anak terlihat cemas atau tertekan yang saat ia mengeluh sakit kepala, usahakan untuk membuatnya relaks. Jika perlu, pertimbangkan terapi kognitif untuknya. Tujuannya untuk mengajarkan anak untuk menggantikan pikiran negatif, stres, dan pola perilaku dengan lebih positif.

Itulah beberapa hal yang perlu Anda ketahui seputar sakit kepala anak. Jika anak sering mengeluh sakit kepala, bantu cari tahu tipe sakit kepala apa yang ia rasakan, begitu juga kemungkinan pemicunya. Umumnya sakit kepala pada anak bisa diatasi sendiri. Namun, jika menemukan tanda bahaya seperti yang disebutkan sebelumnya, segera bawa anak ke dokter, ya!

(RN/ RVS)

Lanjutkan Membaca ↓