Seberapa Sering Penderita Diabetes Harus Kontrol ke Dokter?

Oleh dr. Resthie Rachmanta Putri. M.Epid pada 14 Jun 2019, 13:30 WIB
Agar dapat mengatur gula darah dengan baik, penderita diabetes perlu kontrol ke dokter. Tapi, harus seberapa sering?
Seberapa Sering Penderita Diabetes Harus Kontrol ke Dokter? (Wavebreakmedia/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Jumlah penderita diabetes mellitus di Indonesia semakin meningkat tiap tahunnya. Menurut data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, hingga tahun 2018 terdapat lebih dari 12 juta kasus diabetes. Untuk penanganannya, penderita pun harus rutin memeriksakan kondisinya ke dokter. Namun, seberapa sering? Simak penjelasannya berikut ini.

Sebagian kasus diabetes juga disertai dengan komplikasi kronik seperti penyakit jantung koroner, stroke, penyakit arteri perifer, kerusakan retina, gagal ginjal kronik, dan kerusakan syaraf. Sementara itu, salah satu hal yang menyebabkan pengobatan diabetes sering tak berhasil dengan baik adalah karena diabetes umumnya tak menunjukkan gejala tertentu.

Oleh karena itu, kerap kali penderita diabetes tak memiliki motivasi yang cukup untuk menjalani pengobatan dengan teratur. Sehingga, akhirnya muncul berbagai komplikasi dan membuat diabetes jadi lebih sulit lagi untuk ditangani.

4 hal penting dalam pengobatan diabetes

Berdasarkan panduan diabetes yang dibuat oleh Perhimpunan Endokrinologi Indonesia (PERKENI), terdapat empat hal yang esensial dalam pengobatan diabetes mellitus, yaitu:

  1. Pengetahuan mengenai diabetes

Penderita diabetes, atau sering disebut sebagai diabetesi, harus memiliki pengetahuan yang cukup mengenai gejala komplikasi diabetes dan bagaimana mencegahnya, penanganan diabetes pada kondisi khusus (misalnya saat puasa atau sakit), cara memantau gula darah, cara minum obat, perawatan kaki, dan sebagainya.

Informasi tentang berbagai hal tersebut akan diberikan oleh dokter atau perawat khusus diabetes secara bertahap saat diabetesi memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.

  1. Pengaturan makan

Diabetesi harus memiliki disiplin dalam mengatur makannya, terutama dalam keteraturan jadwal makan, serta jenis dan jumlah kalori yang dikonsumsi.

Hal tersebut terutama jika diabetesi mendapat pengobatan suntikan insulin atau obat yang berfungsi untuk meningkatkan insulin di dalam darah. Diabetesi dianjurkan untuk membatasi jumlah karbohidrat dan lemak, serta memperbanyak konsumsi serat dan protein.

  1. Latihan jasmani

Diabetesi dianjurkan untuk memiliki latihan jasmani yang dilakukan dengan teratur. Hal ini bermanfaat untuk menurunkan berat badan, memperbaiki sensitivitas insulin dalam sel-sel tubuh, serta menjaga kebugaran.

Latihan jasmani yang efektif bagi diabetesi adalah latihan yang bersifat aerobik seperti jalan cepat, jogging, bersepeda, dan berenang. Latihan tersebut dianjurkan untuk dilakukan sebanyak 3-5 kali per minggu dengan durasi masing-masing 30-45 menit. Selain itu, jeda antar latihan sebaiknya tidak lebih dari dua hari.

  1. Obat-obatan

Diabetesi tidak dianjurkan untuk menentukan jenis dan dosis obat bagi dirinya sendiri. Dokterlah yang harus menentukan dan mengatur pengobatannya.

Pengobatan diabetes pun bisa bervariasi dari waktu ke waktu. Terkadang dosis obat harus dinaikkan atau diturunkan, terkadang jenis obat juga harus ditambah, dikurangi, atau diubah.

Hal tersebut sangat tergantung pada kadar gula darah, kondisi diabetesi, komplikasi yang dialami, dan sebagainya. Pertimbangan dokter sangat diperlukan dalam menentukan pengobatan yang tepat.

Seberapa sering diabetesi harus ke dokter?

Khusus untuk latihan jasmani, umumnya diabetesi memang dapat mengaturnya sendiri. Namun, kontrol secara berkala ke dokter tetap perlu dilakukan agar diabetesi bisa mendapatkan info yang tepat tentang poin-poin pengobatan lainnya.

Pada masa awal pengobatan, umumnya pasien harus kontrol ke dokter setiap 1-3 bulan sekali hingga gula darahnya stabil terkontrol. Selanjutnya, kontrol bisa dilakukan setiap 4-6 bulan sekali. Namun, bila gula darah belum terkontrol atau ada komplikasi diabetes yang memburuk, maka kontrol lebih sering perlu dilakukan.

Pengobatan diabetes sendiri dapat dilakukan oleh dokter umum atau dokter penyakit dalam, tergantung pada kondisi pasien. Kasus diabetes yang tak memiliki banyak komplikasi dapat ditangani secara paripurna oleh dokter umum. Sedangkan kasus diabetes yang berat atau memiliki komplikasi, harus ditangani dokter penyakit dalam.

Selain kontrol rutin, setidaknya setiap tahun sekali, penderita diabetes juga perlu menjalani pemeriksaan kesehatan secara keseluruhan, terutama untuk melihat fungsi ginjal, ada tidaknya penyempitan pembuluh darah di jantung, kondisi retina di mata, serta ada tidaknya gangguan saraf.

Diabetes adalah penyakit yang harus selalu diawasi perkembangan kondisinya dan penderitanya pun harus selalu mendapat informasi yang tepat tentang pengobatannya dari dokter. Oleh karena itu, para diabetesi tak boleh malas untuk kontrol rutin ke dokter demi mencegah timbulnya komplikasi yang lebih fatal.

[MS/ RVS]