Awas, Bahaya Terobsesi dengan Makanan Sehat!

Oleh Ayu Maharani pada 18 Jun 2019, 14:20 WIB
Rutin mengonsumsi makanan sehat memang baik. Namun kalau sudah terobsesi, ini menandakan adanya masalah psikis.
Awas, Bahaya Terobsesi dengan Makanan Sehat! (Richard-M-Lee/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Sebagai orang yang peka dengan isu kesehatan, Anda tahu betul konsekuensi akibat konsumsi makanan yang tidak sehat, seperti kolesterol tinggi, hipertensi, diabetes, obesitas, dan masih banyak lagi. Jika Anda disiplin dengan pola makan sehat, bagus! Namun, jika konsumsi makanan sehat ini sudah menjadi obsesi, kemungkinan ini adalah tanda dari adanya gangguan psikis. Kegemaran ekstrem terhadap makanan sehat disebut sebagai orthorexia nervosa.

Belum banyak yang menyadarinya

Dilansir dari laman WebMD, Jennifer Mills, profesor kesehatan di Universitas York, Kanada, menyebutkan bahwa orthorexia lebih dari sekadar gemar makan makanan sehat.

Kegemaran penderitanya dalam mengonsumsi makanan sehat sangat tidak terkendali, sehingga mulai menimbulkan masalah bagi orang-orang di sekitarnya. Jennifer dan rekannya Sarah McComb melihat faktor-faktor risiko dan hubungan antara orthorexia dan gangguan mental lainnya. Benar saja, tidak seperti gangguan makan lainnya, orthorexia belum dikenali dalam buku psikiatri standar.

Makanan yang mungkin dihindari oleh penderita orthorexia sama dengan makanan yang mungkin dihindari penggiat pola makan sehat pada umumnya, yaitu makanan dan/atau minuman tinggi gula, garam, lemak, produk olahan susu, makanan yang dimodifikasi secara genetik, serta makanan yang tidak organik. Karena terbatasnya makanan yang bisa masuk ke dalam kriteria “sehat”, alhasil yang bisa dimakan pelaku sangat sedikit.

Terancam kekurangan gizi dan mengalami gangguan mental

Orang-orang dengan orthorexia lebih banyak menghabiskan waktu untuk memikirkan makanan sehat apa yang mesti mereka beli, serta bagaimana cara mengolahnya agar sesehat mungkin. Bukan tak mungkin itu semua berdampak pada psikologis mereka. Kalau sudah begitu, bukannya sehat, penderita orthorexia nervosa justru bisa kekurangan gizi atau mengalami penurunan berat badan karena tidak ada makanan yang dianggapnya benar-benar sehat dan sedikitnya makanan yang bisa dimakan.

Tak hanya berhenti di situ. Orang dengan orthorexia akan sangat fokus terhadap bagaimana makanan itu disiapkan. Otomatis, hampir sebagian besar makanannya dibuat sendiri di rumah.

“Hal tersebut bisa membuat penderita terisolasi, karena dia pasti akan menolak bila diajak makan di restoran. Ia akan ketakutan kalau makanannya itu disiapkan di tempat yang tidak higienis, bahan-bahannya tidak segar, dan sebagainya,” kata Jennifer. Dengan demikian, obesesi terhadap makanan sehat sudah benar-benar mengambil alih hidup penderitanya.

1 of 2

Siapa saja yang bisa mengalami orthorexia nervosa?

Meskipun banyak yang menganggap gangguan makan yang satu ini sebagai masalah yang memengaruhi wanita muda, tetapi baik pria maupun wanita dapat mengalaminya. Bahkan, dipercaya bahwa pelaku diet vegetarian atau vegan berada pada risiko yang lebih tinggi. Selain itu, orang-orang yang dari awalnya sudah memiliki gangguan kecemasan juga berisiko. Sebab, isi pikiran mereka dipenuhi oleh kekhawatiran tentang sakit, sakit, dan sakit!

Orthorexia tidak boleh dianggap remeh. Penderitanya harus berkonsultasi dengan dokter dan psikolog. Jika sudah terjadi kekurangan gizi dan pengaruh fisik lainnya terkait gangguan makan ini, dokter harus memberikan pengobatan dan perbaikan gizi terlebih dulu. Selanjutnya, peran psikolog adalah untuk mengontrol kecemasan yang membuat pelaku terobsesi dengan makanan sehat.

Psikolog juga dapat membuat penderitanya mengubah pandangan tentang citra tubuh, sehingga dia bisa sedikit demi sedikit menghargai penampilan sekaligus kesehatannya dengan cara yang lebih rasional.

Disiplin dalam mengonsumsi makanan sehat memang baik untuk kesehatan, tetapi jangan sampai berlebihan, apalagi sampai terobsesi. Dikatakan oleh dr. Andika Widyatama dari KlikDokter, pola makan sehat bisa diupayakan untuk tetap nikmat, yaitu dengan cara:

  • Memilih bahan makanan yang segar.
  • Memperhatikan cara pengolahannya. Pilihan sehatnya adalah direbus atau dikukus, bukan digoreng ataupun dibakar. Hindari makanan yang digoreng menggunakan minyak bersuhu tinggi, atau minyak yang sudah digunakan berkali-kali.
  • Menentukan variasi makanan sesuai selera supaya tidak bosan.
  • Jadwalkan makan secara teratur.
  • Jauhi makanan olahan, makanan siap saji, atau makanan kemasan.
  • Ajak orang terdekat untuk melakukan pola makan sehat.
  • Beri penghargaan diri jika sudah mencapai target yang dipasang.

Dengan mengikuti panduan di atas, diharapkan kebiasaan baik Anda makan makanan sehat tak menjadi berlebihan, yang bisa berujung pada kondisi orthorexia nervosa. Ingat, makan sehat akan lebih bisa dinikmati tanpa harus khawatir berlebihan terhadap apa yang Anda makan.

Mengonsumsi makanan sehat berguna untuk menunjang pola hidup sehat yang Anda jalankan. Namun ingat, apa pun yang berlebihan justru akan berdampak tidak baik. Alih-alih tubuh sehat, justru penderita orthorexia nervosa malah bisa mengalami kekurangan nutrisi serta gangguan kecemasan yang makin parah.

(RN/ RVS)

Lanjutkan Membaca ↓