Penyebab Disfungsi Seksual pada Wanita

Oleh dr. Fiona Amelia MPH pada 20 Jun 2019, 08:00 WIB
Disfungsi seksual bukan hanya masalah pria, wanita pun bisa mengalaminya. Apa penyebabnya?
Penyebab Disfungsi Seksual pada Wanita (Aaron Amat/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Hasil penelitian di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, pada tahun 2018 menemukan bahwa 90 persen dari 300 wanita yang disurvei pernah mengalami disfungsi seksual. Hasil ini cukup mengejutkan karena ternyata angka disfungsi seksual pada wanita tergolong besar. Lalu apa penyebab kondisi tersebut?

Apa itu disfungsi seksual pada wanita?

Dalam arti yang luas, disfungsi seksual adalah ketidakmampuan menikmati hubungan seksual secara penuh. Gangguan ini bisa terjadi pada sebagian atau seluruh siklus bercinta yang normal.

Pada wanita, disfungsi seksual dibagi menjadi empat macam. Keluhannya pun bervariasi tergantung jenis disfungsi seksual yang dialami.

  • Gangguan pada libido atau gairah seksual. Ini merupakan disfungsi seksual tersering pada wanita, di mana minat untuk bercinta berkurang atau bahkan hilang. Wanita menjadi malas bercinta dan selalu berusaha menghindar saat pasangan mengajak untuk berhubungan seksual.
  • Gangguan rangsangan (arousal), di mana dorongan untuk bercinta tetap ada, tapi wanita tidak dapat terangsang atau mempertahankan kenikmatan selama aktivitas seksual.
  • Gangguan orgasme, yakni sulit atau tidak mampu mencapai orgasme meski perangsangan seksual cukup dan masih berlanjut.
  • Nyeri saat berhubungan seksual. Gangguan ini muncul kala terjadi penetrasi atau stimulasi ke dalam vagina dan bisa dirasakan hingga usai bercinta.

Seorang wanita bisa mengalami satu atau beberapa jenis disfungsi seksual sekaligus dalam waktu yang bersamaan. Gangguan ini bisa berlangsung seumur hidup, sejak awal seorang wanita mulai aktif secara seksual atau baru muncul di kemudian hari setelah sebelumnya tidak ada masalah.

Kenali penyebabnya

Secara umum, ada tiga hal yang memengaruhi kepuasan wanita terhadap kehidupan seksualnya, yakni kondisi fisik, psikologis, dan hubungan interpersonal dengan pasangannya. Karena ketiga hal ini kerap saling berhubungan, perlu didalami satu per satu.

  • Faktor fisik

Sejumlah penyakit, seperti kanker, diabetes, gagal ginjal, sklerosis multipel, penyakit jantung, gangguan kandung kemih; termasuk beberapa obat golongan antidepresan, obat darah tinggi, antihistamin dan kemoterapi, dapat menurunkan gairah seksual dan kemampuan untuk mencapai orgasme.

  • Faktor hormonal

Kala kadar hormon berubah, misalnya setelah melahirkan atau selama menyusui, gairah seksual wanita umumnya menurun. Vagina pun terasa kering sehingga semakin menurunkan keinginan untuk berhubungan seksual.

Saat menopause, penurunan kadar hormon estrogen akan memicu perubahan pada jaringan-jaringan di organ kelamin serta respons terhadap rangsang seksual. Karena itu, dibutuhkan lebih banyak waktu untuk membuat wanita terangsang hingga mencapai orgasme. Di samping itu, dinding vagina juga menjadi lebih tipis dan kurang elastis sehingga memicu nyeri saat penetrasi.

  • Faktor psikologis dan sosial

Gangguan cemas atau depresi yang tidak ditangani dapat memicu disfungsi seksual. Termasuk juga bila Anda mengalami stres dalam jangka panjang, pelecehan seksual, atau ada masalah pada citra tubuh. Adanya kekhawatiran tertentu saat hamil atau perubahan situasi seperti baru saja menjadi seorang ibu juga dapat memiliki efek serupa.

  • Kualitas hubungan dengan pasangan

Adanya konflik berkepanjangan dengan pasangan, baik seputar seks atau aspek lainnya, dapat menurunkan gairah dan respons seksual wanita.

Apa pun penyebabnya, disfungsi seksual baru dianggap sebagai sebuah kelainan apabila dirasa mengganggu kualitas hidup penderitanya. Berkaca dari hasil penelitian tadi, hanya 6 persen wanita yang merasa terganggu akibat disfungi seksual tersebut.

Dari sini bisa disimpulkan, sebagian besar wanita Indonesia masih enggan mengakuinya. Apalagi, untuk mengungkapkannya kepada pasangan atau bahkan mencari pertolongan medis.

Pada satu titik, seorang wanita pasti pernah mengalami disfungsi seksual, baik disadari maupun tidak. Bahkan, ada pula wanita yang merasa sulit mencapai kepuasan seksual sepanjang hidupnya. Bila memang dirasa mengganggu, jangan enggan untuk mengakuinya, bicarakan dengan pasangan dan segera cari pertolongan medis. Bagaimanapun, disfungsi seksual berpengaruh langsung pada kualitas psikologis dan emosional Anda dan pasangan.

[HNS/ RVS]