5 Penyebab Perdarahan Usai Hubungan Intim

Oleh dr. Sepriani Timurtini Limbong pada 20 Jun 2019, 10:30 WIB
Perdarahan yang timbul setelah melakukan hubungan intim tentu akan membuat khawatir. Inilah yang menyebabkan kondisi tersebut.
5 Penyebab Perdarahan Usai Hubungan Intim (Trybex/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Perdarahan pada organ kewanitaan setelah berhubungan intim bukan hal yang wajar. Tak heran bila banyak yang khawatir tatkala mengalaminya. Kondisi yang disebut post coital bleeding ini sebenarnya cukup sering terjadi pada wanita usia reproduksi. Meski bisa saja normal, kondisi ini bisa juga menandakan sebuah penyakit.

Penyebab perdarahan di vagina

Salah satu penyebab tersering dari perdarahan pasca hubungan seksual adalah iritasi vagina. Hal tersebut bisa terjadi karena baru pertama kali berhubungan atau jarang melakukan hubungan seksual, sehingga ketika penis penetrasi ke dalam vagina, gesekannya menimbulkan luka di saluran vagina. Meski demikian, perdarahan akibat iritasi ini biasanya tidak banyak dan cepat berhenti.

Selain karena iritasi, berbagai penyebab lain dari perdarahan pasca berhubungan intim di antaranya adalah:

  1. Peradangan leher rahim (servisitis)

Servisitis merupakan infeksi menular seksual yang dapat disebabkan oleh berbagai kuman seperti gonore, klamidia, trikomonas, dan herpes. Pada servisitis, serviks akan menjadi merah, bengkak, bernanah, dan mudah berdarah bila terkena benturan, misalnya saat melakukan hubungan seksual.

  1. Polip serviks

Polip serviks adalah benjolan yang terdapat di leher rahim. Benjolan tersebut berdiameter sekitar 1-2 cm dan berwarna ungu atau abu-abu.

Sifatnya rapuh dan mudah berdarah, sehingga ketika menstruasi atau usai melakukan hubungan intim, penderitanya dapat mengalami perdarahan yang cukup banyak. Meski demikian, benjolan ini sifatnya jinak.

  1. Radang panggul (pelvic inflammatory disease/PID)

Kondisi ini terjadi ketika organ kewanitaan bagian dalam di panggul mengalami peradangan, mulai dari indung telur, saluran telur,dan rahim. Peradangan tersebut menimbulkan beberapa gejala seperti nyeri perut bawah, demam, nyeri saat berhubungan intim, dan perdarahan setelah hubungan seksual.

  1. Vaginitis atrofi

Vaginitis atrofi adalah nama lain dari kekeringan vagina, di mana produksi cairan vagina mulai berkurang dan biasanya terjadi setelah menopause. Vagina kering menyebabkan mudah mengalami luka saat hubungan intim, sehingga timbul perdarahan yang serupa dengan perdarahan akibat iritasi, biasanya tidak banyak dan cepat berhenti.

  1. Kanker serviks

Ini merupakan penyebab paling serius dari perdarahan usai hubungan intim. Kanker serviks terjadi ketika sel serviks mengalami perubahan dan pertumbuhan yang tak terkendali hingga menjadi tumor.

Sel kanker tersebut mudah mengalami perdarahan, khususnya perdarahan di luar waktu menstruasi seperti setelah berhubungan seksual. Selain itu, kanker serviks juga menyebabkan gejala lalin seperti nyeri perut bawah, nyeri saat berhubungan seksual, keputihan yang berbau, mual, dan penurunan berat badan yang drastis.

Penanganan sesuai penyebab perdarahan

Bila mengalami perdarahan pasca hubungan intim, sebaiknya jangan tunda untuk menjadwalkan konsultasi dengan dokter kandungan Anda untuk mengetahui penyebabnya. Jika disebabkan oleh vagina yang kering, dokter mungkin akan menyarankan penggunaan lubrikan untuk menambah cairan vagina.

Bila polip adalah penyebab perdarahan usai hubungan intim, tindakan pengangkatan massa polip (ekstirpasi) mungkin akan disarankan untuk dilakukan. Apabila dokter menemukan tanda infeksi seperti pada servisitis, Anda akan diberikan obat untuk mengatasinya.

Namun, bila dokter mencurigai adanya keganasan, Anda mungkin akan disarankan untuk melakukan pemeriksaan tambahan seperti PAP smear.

Meski membuat kaget, jangan panik ketika Anda mengalami perdarahan usai hubungan intim. Periksakan diri Anda ke dokter untuk mendapat penanganan sesegera mungkin.

[NP/ RVS]