Hati-hati, Diet Buruk dan Jarang Olahraga Picu Demensia

Oleh Krisna Octavianus Dwiputra pada 22 Jun 2019, 14:30 WIB
Penelitian terbaru menyebutkan bahwa diet buruk dan jarang olahraga menjadi faktor penyebab demensia.
Hati-hati, Diet Buruk dan Jarang Olahraga Picu Demensia (SpeedKingz/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Usia lanjut adalah salah satu faktor risiko demensia. Orang dengan demensia akan mengalami penurunan daya ingat secara bertahap seiring waktu. Akan tetapi, bukan hanya usia, menurut satu penelitian terbaru, diet buruk dan jarang olahraga turut menjadi faktor risiko demensia.

Demensia sering disalahartikan sebagai penyakit pikun. Namun sebenarnya, demensia bukanlah penyakit, melainkan gejala suatu penyakit. "Demensia adalah sekumpulan gejala yang menunjukkan penurunan kemampuan kognitif secara bertahap. Dalam kondisi itu, seseorang mengalami gangguan pada daya ingat, kemampuan berpikir, berlogika, dan merencanakan sesuatu,” ujar dr. Fiona Amelia, MPH dari KlikDokter.

Keadaan ini, dr. Fiona menambahkan, semakin lama semakin memburuk dengan berjalannya waktu. Pada akhirnya, seseorang menjadi tidak mampu untuk melakukan aktivitas sehari-hari.

Bagaimana keduanya memengaruhi demensia?

Sebuah penelitian baru yang diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Endocrinology memperingatkan bahwa apa yang Anda makan mungkin berdampak negatif pada kesehatan jangka panjang secara keseluruhan, termasuk otak.

Nicolas Cherbuin sebagai penulis utama studi ini beserta timnya menganalisis lebih dari 200 studi internasional. Ini termasuk studi yang melacak kesehatan kognitif lebih dari 7.000 orang. Dia menyimpulkan bahwa beberapa gaya hidup saat ini bisa dengan cepat memperburuk otak manusia.

"Orang-orang dapat melemahkan kinerja otak mereka karena makanan cepat saji yang sangat buruk dan sedikit berolahraga," kata Kepala Pusat Penelitian tentang Penuaan, Kesehatan, dan Kesejahteraan di Universitas Nasional Australia itu, seperti dikutip dari bestlifeonline.com.

"Kami telah menemukan bukti kuat bahwa orang yang punya kebiasaan makan tidak sehat dan kurang olahraga berisiko serius terkena diabetes tipe 2 dan penurunan fungsi otak yang signifikan, seperti demensia dan penyusutan otak," ungkap Cherbuin.

Menurut laporan tersebut, saat ini, rata-rata orang mengonsumsi 650 kalori lebih banyak per hari daripada mereka pada tahun 1970-an. "Jumlah kalori yang dikonsumsi orang setiap hari meningkat drastis dibandingkan 50 tahun lalu. Itu artinya, banyak orang melakukan diet yang tidak sehat," kata dia.

“Orang-orang yang terlalu banyak mengonsumsi jenis makanan yang salah, seperti makanan cepat saji, sangat rentan terkait hal ini,” Cherbuin menambahkan.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), persentase anak dan remaja yang terkena obesitas meningkat tiga kali lipat sejak tahun 1970-an. Selain itu, satu dari 5 anak antara berusia 6-19 saat ini mengalami obesitas.

Kehilangan minat berolahraga

Hal tersebut diperparah oleh fakta bahwa semakin banyak anak yang tidak aktif bergerak. Sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa anak-anak tampaknya kehilangan minat dalam berolahraga pada usia yang jauh lebih muda daripada generasi sebelumnya.

“Karena itulah, kami mendesak semua orang untuk makan sehat dan berolahraga sedini mungkin untuk menghindari demensia,” kata Cherubin.

“Salah satu peluang terbaik yang Anda miliki untuk menghindari masalah otak adalah dengan konsumsi makanan yang sehat dan berolahraga sejak usia muda. Mungkin terdengar sederhana, tapi ini akan membawa perubahan positif,” dia memungkasi.

Tentu Anda tidak ingin mengalami demensia, terlebih di usia muda, bukan? Oleh karena itu, lekas perbaiki gaya hidup Anda! Pilih makanan sehat bergizi seimbang, serta hindari makanan kemasan dan cepat saji. Selain itu, yuk mulai susun jadwal olahraga. Berolahragalah setidaknya 2-3 kali seminggu dengan durasi 1 jam setiap sesinya. Kebiasaan ini dapat meningkatkan kualitas hidup, sekaligus menjaga keoptimalan otak Anda.

[HNS/ RVS]