Waspadai Cara Penularan Difteri

Oleh dr. Atika pada 24 Jun 2019, 08:00 WIB
Agar dapat mencegah penularan difteri, ketahui cara penyebaran penyakit yang menyerang organ pernapasan tersebut di sini.
Waspadai Cara Penularan Difteri (Foto: newslens.pk)

Klikdokter.com, Jakarta Akibat munculnya kelompok yang dengan sengaja menolak vaksinasi, penularan difteri diperkirakan berisiko kembali merebak di Indonesia. Tentunya, kalangan yang lebih berisiko tertular penyakit ini adalah kelompok anak-anak yang belum lengkap imunisasinya, serta orang dewasa yang sudah berkurang kadar kekebalannya terhadap difteri.

Agar penyebaran difteri tersebut dapat dihindari, pengetahuan akan cara penularannya menjadi hal yang sangat penting. Oleh sebab itu, untuk lebih mengetahuinya, simak penjelasan berikut.

Difteri, penyakit lama yang muncul kembali

Sejak 1990, kasus difteri di Indonesia sempat dinyatakan hampir tidak ada. Hal ini dapat terjadi berkat pemberian imunisasi difteri yang gencar digalakkan pemerintah.

Namun pada 2009, difteri mulai muncul kembali. Pada 2015, diketahui terjadi juga Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri. Kabar terakhir terkait kemunculan difteri secara masif adalah pada akhir 2017.

Penyakit yang utamanya menyerang saluran pernapasan ini disebabkan oleh bakteri bernama Corynebacterium diphteriae. Gejala yang paling sering muncul adalah:

  • Suara serak
  • Muncul bunyi seperti mengorok saat bernapas
  • Nyeri menelan
  • Demam dan menggigil
  • Bengkak pada kelenjar getah bening leher
  • Tubuh lemah dan tidak nafsu makan
  • Sesak napas.

Selain itu, biasanya muncul juga lapisan tebal berwarna putih abu-abu yang menutupi dinding belakang tenggorokan. Gejala ini paling ditakuti karena dapat menutup saluran pernapasan, yang bisa menyebabkan penderita tidak dapat bernapas.

Sayangnya, sebagian besar kasus difteri terlambat diketahui dan sudah memasuki tahap lanjut. Pada tahap lanjut, racun dari bakteri dapat menyebabkan kerusakan jantung, ginjal, dan sistem saraf.

Cara penularan difteri

Mengingat kuman difteri berdiam dan menyebabkan peradangan pada saluran pernapasan, maka cara utama penularan difteri adalah lewat percikan (droplet) air liur dan lendir pernapasan dari penderita difteri sebelumnya.

Ketika droplet pernapasan tersebut terhirup masuk ke dalam tubuh orang yang tidak memiliki kekebalan, kemungkinan terjadinya infeksi sangat tinggi. Adapun kalangan usia yang paling sering tertular dan mengalami komplikasi adalah kelompok usia anak-anak.

Untuk itu, apabila sudah terkonfirmasi bahwa terdapat penderita difteri di sekitar Anda, pemberian jarak pada penderita dan pemakaian masker yang mumpuni menjadi hal wajib.

Namun, saat percikan droplet pernapasan penderita difteri mengenai orang yang sudah mendapatkan vaksinasi difteri, kemungkinan tertular penyakit ini menjadi lebih kecil. Atau paling tidak, gejala yang timbul akan jauh lebih ringan.

Hal itu disebabkan karena vaksinasi difteri sudah terbukti aman dan ampuh untuk mencegah penularannya. Maka dari itu, sesungguhnya sama sekali tidak ada alasan untuk menolak vaksin difteri.

Untuk mendapatkan kekebalan terhadap penyakit difteri, perlu diberikan vaksinasi yang digabungkan bersama vaksin untuk penyakit tetanus dan pertusis. Nama dari vaksin tersebut adalah DTP (Difteri, Tetanus, dan Pertusis). Vaksin ini diberikan pada usia 2, 3, dan 4 bulan.

Sementara imunisasi lanjutannya (booster), diberikan pada saat si Kecil berusia 18 bulan dan 5 tahun. Booster sebaiknya juga diberikan kembali ketika si Kecil telah berusia 10 tahun dan 18 tahun. Booster tetap diperlukan karena kekebalan bisa berkurang seiring berjalannya waktu, sehingga harus terus diperbaharui.

Kesimpulannya, karena penularan difteri terjadi lewat droplet pernapasan, menjaga jarak saat berinteraksi dengan penderita dan menggunakan masker yang mumpuni sangat dibutuhkan ketika ada penderita difteri di sekitar Anda. Namun yang terpenting, pastikan Anda dan keluarga sudah terlindungi dari difteri dengan mendapatkan vaksinasi secara lengkap dan tepat.

[MS/ RVS]