Cegah Siswa Stres Akibat PPDB Sistem Zonasi

Oleh Ayu Maharani pada 25 Jun 2019, 16:20 WIB
Sistem zonasi sekolah tengah menjadi topik hangat di masyarakat. Agar siswa tak stres akibat sistem tersebut, coba cegah dengan cara ini.
Cegah Siswa Stres Akibat PPDB Sistem Zonasi (Herman Zakharia/Liputan6)

Klikdokter.com, Jakarta Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, kini penerimaan siswa baru di sekolah negeri menggunakan sistem zonasi. Dilansir dari beberapa sumber, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendi mengatakan bahwa alasan digunakannya sistem zonasi dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2019 adalah untuk menemukan solusi atas permasalah pendidikan di Indonesia. Adapun permasalahan yang dimaksud adalah kesenjangan antarsekolah.

Meski sistem zonasi dapat membuat pemerintah daerah meningkatkan kualitas sekolah-sekolah di daerahnya, penerapan sistem ini masih menuai pro dan kontra. Hal ini terutama dari pihak orang tua dan murid itu sendiri. Pasalnya, tidak semua zona memiliki sekolah negeri yang cukup untuk menampung siswa di wilayah tersebut. Sehingga, adanya sistem zonasi justru rentan membuat siswa menjadi stres.

Mencegah stres akibat sistem zonasi

Agar stres yang dialami para siswa akibat sistem zonasi dapat dicegah, beberapa langkah yang bisa dilakukan sebagai berikut:

  • Atur ekspektasi bersama agar tidak terlalu kecewa

Sebagian besar anak maupun orang tua memiliki sekolah negeri impiannya masing-masing. Namun, apa mau dikata. Adanya sistem zonasi memupuskan harapan tersebut.

Oleh sebab itu, atur ekspektasi Anda bersama dengan anak agar tidak terlalu kecewa. Menurut dr. Sepriani Timurtini Limbong dari KlikDokter, cobalah kenali sekolah-sekolah yang berada di wilayah tempat tinggal sebaik mungkin. 

“Sebab, terkadang Anda terlalu memandang kualitas sekolah hanya dari luarnya saja. Siapa tahu setelah sudah masuk, kondisinya cenderung baik-baik saja,” jelas dr. Sepriani.

Ketimbang Anda terlalu memusingkannya, lebih baik ajak anak untuk berdamai dengan keadaan. Intinya adalah dicoba terlebih dulu dan jalani saja. Ketika sudah mendapatkan sekolah tetapi anak merasa tidak nyaman, Anda bisa berdiskusi lagi dengannya untuk mendapatkan pilihan lain yang lebih baik.

  • Sedari awal sudah memilih sekolah swasta yang disuka

Ketika Anda dan anak memilih untuk masuk ke sekolah negeri yang murah namun berkualitas, ada sejumlah konsekuensi yang mesti dihadapi. Mulai dari batasan nilai, sistem zonasi dan lain sebagainya. Alhasil, tingkat stres bisa menjadi lebih tinggi.

Jika Anda tak masalah dengan biaya pendidikan yang agak mahal dan tak mau terlalu ambil pusing dengan sistem zonasi, cobalah untuk mengambil opsi sekolah swasta. Kini cukup banyak pilihan sekolah swasta yang kualitasnya baik serta dapat mengembangkan potensi maupun bakat si buah hati.

  • Tetap tenang

Hal ini yang sering dilupakan oleh orang tua ketika hendak mencegah stres pada anak. Mereka tidak menyadari bahwa yang membuat si Kecil stres adalah tekanan dari orang tuanya sendiri.

Mungkin, anak tidak terlalu masalah terkait tempatnya sekolah nanti. Yang terpenting, ia tetap bisa melanjutkan jenjang pendidikan sambil belajar serta bermain. Lagi pula, anak-anak sekarang mungkin lebih memfokuskan di mana dia nanti akan berkuliah ketimbang bersekolah. Karena biasanya, untuk mewujudkan cita-cita, kampus jauh lebih berpengaruh.

Oleh sebab itu, Anda sebagai orang tua tidak boleh terlihat terlalu ribet, selalu menyalahkan pencetus kebijakan atau merasa panik. Hal ini perlu diperhatikan, agar buah hati juga tidak ikut-ikutan menjadi panik dan stres. Percayalah, bila Anda tetap tenang, si Kecil akan jauh lebih percaya diri untuk melanjutkan jenjang pendidikan di mana pun ia berada. 

Itu dia yang bisa dilakukan orang tua untuk mencegah siswa stres akibat PPDB sistem zonasi. Ingat, berusahalah tanpa harus terlihat panik. Karena bagaimanapun, anak Anda pasti akan mendapatkan sekolah yang terbaik untuknya kelak. Apabila si Kecil nantinya mendapat sekolah negeri dengan pengemban kurikulum yang belum semaksimal sekolah impian, ia masih bisa mendapatkan pengembangan keterampilan serta edukasi yang diinginkan di jalur pendidikan non-formal.

(NB/ RVS)