Apa Perbedaan Bayi Tabung dan Inseminasi Buatan?

Oleh dr. Andika Widyatama pada 26 Jun 2019, 12:30 WIB
Bayi tabung dan inseminasi buatan sama-sama bagian dari teknologi reproduksi berbantu. Apa sih perbedaannya?
Apa Perbedaan Bayi Tabung dan Inseminasi Buatan? (Apiwat Tumanil/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Memiliki keturunan adalah harapan semua pasangan suami istri. Sayangnya, masih ada sebagian pasangan yang kesulitan untuk mendapat kehamilan akibat mengalami infertilitas. Untuk itu, beragam cara pun ditempuh pasangan suami istri untuk memperoleh keturunan. Dua di antaranya yang cukup populer adalah bayi tabung dan inseminasi buatan.

Terapi untuk infertilitas

Infertilitas (ketidaksuburan) didefinisikan sebagai kondisi pasangan suami istri tidak mencapai kehamilan dalam setahun setelah berhubungan seksual secara teratur tanpa menggunakan kontrasepsi. Saat ini, pilihan terapi untuk infertilitas terus berkembang.

Misalnya saja, teknologi reproduksi berbantu (TRB) atau assisted reproductive technology (ART). Bayi tabung dan inseminasi buatan masih menjadi teknologi reproduksi berbantu yang kerap digunakan oleh pasangan suami istri untuk memiliki keturunan.

Meskipun sama-sama merupakan teknologi reproduksi berbantu, sebenarnya terdapat perbedaan antara bayi tabung dan inseminasi buatan. Nah, sebelum Anda dan pasangan menentukan pilihan, sebaiknya kenali dulu lebih jauh mengenai bayi tabung dan inseminasi buatan.

Bayi tabung, apa itu?

Bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF) merupakan prosedur medis dengan pengambilan sperma dari pria dan sel telur dari wanita untuk dipertemukan di luar organ wanita (laboratorium) agar terjadi proses pembuahan. Prosedur mempertemukan sperma dan sel telur untuk proses pembuahan tersebut dilakukan di sebuah media khusus, yaitu cawan.

Setelah pembuahan terjadi, hasilnya (embrio) dimasukkan ke dalam rahim wanita dengan harapan dapat berlanjut menjadi kehamilan. Prosedur IVF memberi kesempatan dalam memilih sperma dengan kualitas terbaik dari pasangan pria.

Eksperimen IVF dimulai sejak 1960-an oleh ilmuwan Robert Edwards dan dokter spesialis kandungan Patrick Steptoe yang bertugas di King’s College London. Setelah melewati serangkaian eksperimen, lahirlah untuk pertama kalinya bayi yang melalui prosedur IVF pada tahun 1978.

Di Indonesia, IVF sudah ada sejak tahun 1988. Sejak itu, IVF menjadi harapan baru dalam penanganan infertiliitas sampai saat ini. Meskipun begitu, angka keberhasilan IVF bervariasi, yakni berkisar 30-40%, dan dipengaruhi oleh beberapa faktor. Jika IVF dilakukan di atas usia 35 tahun, angka keberhasilannya akan menurun secara signifikan.

Dalam proses bayi tabung ada beberapa tahapan yang harus dijalani. Di antaranya, pemeriksaan USG, hormon, saluran telur dan sperma, penyuntikan obat pembesar sel telur, penyuntikan obat penekan hormon, pengambilan sel telur.

Selanjutnya, pembuahan sel telur oleh sperma, pengembangan dan penanaman embrio, serta menunggu hasilnya hingga terjadi kehamilan. Durasi yang dibutuhkan untuk menjalankan prosedur IVF kurang lebih selama 2 minggu.

Terdapat beberapa kondisi di mana pasangan dapat menjalankan program bayi tabung. Yaitu, pria dengan infertilitas berat, wanita tanpa saluran sel telur (tuba falopi) atau terhambat, usia yang lebih tua, dan berbagai kasus infertilitas yang gagal dengan pengobatan lainnya.

Prosedur inseminasi buatan

Inseminasi buatan atau intrauterine insemination (IUI) merupakan prosedur medis berupa pemasukan sel sperma pria dengan kualitas terbaik ke dalam rahim wanita untuk memudahkan proses pembuahan sperma pada sel telur wanita. Sperma tersebut dicuci dan dipadatkan terlebih dahulu sebelum dimasukkan ke rahim dengan menggunakan kateter melalui leher rahim.

Untuk meningkatkan kemungkinan pembuahan, inseminasi buatan biasanya dilakukan sekitar periode ovulasi wanita (pelepasan sel telur matang dari indung telur). Tingkat keberhasilan inseminasi buatan dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya usia wanita dan penyebab infertilitas. Jika dilakukan setiap bulan, inseminasi buatan memiliki tingkat keberhasilan hingga 20% per siklus.

Melalui beberapa pemeriksaan, seperti USG, dokter akan melihat tanda-tanda ovulasi. Selain itu, ada kalanya dokter akan memberikan suntikan hormon yang dapat merangsang pelepasan sel telur pada waktu yang diharapkan.

Prosedur IUI membutuhkan waktu yang relatif singkat, yaitu sekitar 15-20 menit. Selanjutnya, dokter akan meminta Anda kembali 2 minggu kemudian untuk memastikan adanya kehamilan atau tidak setelah prosedur IUI.

Inseminasi buatan umum dilakukan pada beberapa kondisi, seperti jumlah sperma yang rendah pada pria atau penurunan motilitas sperma. Selain itu, inseminasi buatan juga dapat dilakukan jika pasangan mengalami infertilitas yang tidak diketahui jelas penyebabnya, endometriosis, penurunan kualitas lendir serviks (leher rahim), hingga alergi pada air mani.

Secara umum tingkat keberhasilan bayi tabung memang lebih besar daripada inseminasi buatan. Namun, ada prinsipnya, dokter akan menyesuaikan terapi infertilitas yang cocok dengan kondisi Anda dan pasangan. Tak jarang pada prosesnya, inseminasi buatan dicoba terlebih dahulu sebelum melakukan prosedur bayi tabung. Faktor-faktor lainnya juga perlu dipertimbangkan, seperti biaya dan efek samping. Karena itu, diskusikanlah sebaik mungkin kondisi Anda dengan dokter agar dapat memperoleh terbaik.

[HNS/ RVS]