Gangguan Tidur Dapat Picu Asam Urat Tinggi, Benarkah?

Oleh dr. Nitish Basant Adnani BMedSc MSc pada 26 Jun 2019, 15:10 WIB
Gangguan tidur dianggap dapat menjadi penyebab asam urat tinggi. Apakah medis setuju dengan anggapan ini?
Gangguan Tidur Dapat Picu Asam Urat Tinggi, Benarkah? (NamtipStudio/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Gout atau radang sendi yang terjadi akibat asam urat tinggi merupakan salah satu keluhan yang paling sering terjadi. Menurut data, kondisi ini terjadi pada lebih dari 8 juta orang dewasa setiap tahun.

Gout akibat asam urat tinggi lebih sering terjadi pada pria dibandingkan wanita. Selain itu, penelitian terbaru juga menyebut bahwa risiko terjadinya keluhan tersebut juga bisa meningkat apabila seseorang mengalami gangguan tidur sleep apnea, di mana terjadi henti napas sejenak pada saat tidur.

Mengenal gout

Gout dipicu oleh kristalisasi dari asam urat di dalam persendian. Tubuh memproduksi asam urat dari pemecahan purin, yang merupakan salah satu zat sisa alami dari sel.

Secara umum, asam urat larut di dalam darah dan melewati proses penyaringan di ginjal untuk dikeluarkan melalui urine. Namun, tubuh terkadang memproduksi asam urat berlebih atau mengalami hambatan dalam mengeluarkan zat tersebut sehingga terjadilah penumpukan.

Nah, asam urat yang menumpuk akibat peristiwa tersebut kemudian membentuk kristal pada sendi atau jaringan di sekitarnya. Alhasi, keluhan rasa nyeri, rasa panas, pembengkakan maupun kemerahan pada sendi dan sekitarnya bisa saja terjadi.

Menurut studi, persendian pada jempol kaki adalah bagian tubuh yang paling sering terlibat. Kendati begitu, gout sebenarnya dapat terjadi pada seluruh sendi di tubuh, termasuk pergelangan kaki, lutut, tangan, dan pergelangan tangan.

Gangguan tidur, asam urat tinggi dan gout

Menurut artikel yang dilansir dari laman Harvard Health, salah satu peneliitan yang dipublikasikan di jurnal kedokteran Arthritis & Rheumatology melakukan investigasi untuk mengetahui kaitan antara sleep apnea dengan gout.

Setelah satu tahun, penelitian yang melibatkan lebih dari 50.000 orang itu menemukan bahwa individu dengan gangguan tidur sleep apnea memiliki kemungkinan 50% lebih tinggi untuk mengalami serangan gout.

Alasan pasti terkait hubungan gout dan sleep apnea masih belum diketahui dengan pasti. Namun, para peneliti menduga bahwa kondisi tersebut saling berkaitan karena dua faktor.

  1. Berat badan berlebih

Faktanya, gout dan sleep apnea sama-sama bisa dilatari oleh berat badan berlebih. Meski belum dapat dijelaskan secara rinci, studi-studi sebelumnya sempat menemukan bahwa sebagian besar individu yang mengalami kondisi ini cenderung memiliki berat badan di atas normal.

  1. Hipoksia

Hipoksia adalah salah satu kondisi yang dapat timbul sebagai komplikasi dari sleep apnea, di mana kadar oksigen dalam tubuh menurun pada saat tidur. Menurut Dr. Robert Shmerling dari Beth Israel Deaconess Medical Center, hal tersebut dapat menyebabkan kerusakan sel dan jaringan, yang kemudian meningkatkan kadar asam urat di dalam tubuh.

Penelitian yang ada menyebut bahwa gangguan tidur seperti sleep apnea memiliki hubungan dengan terjadinya gout atau radang sendi akibat asam urat tinggi. Namun demikian, masih dibutuhkan studi lebih lanjut untuk memastikan kaitan antara dua hal tersebut, serta menentukan adanya hubungan sebab dan akibat.

Oleh karena itu, apabila Anda mengalami tanda dan gejala dari gangguan tidur sleep apnea, gout atau gejala yang sekiranya berkaitan dengan asam urat tinggi, jangan ragu untuk berkonsultasi lebih lanjut pada dokter. Tindakan ini dilakukan guna mengevaluasi lebih lanjut untuk menentukan penyebab dan penanganan yang paling tepat.

(NB/ RVS)