Wanita Lebih Sulit Turunkan Berat Badan? Ini Alasannya

Oleh dr. Dyan Mega Inderawati pada 01 Jul 2019, 09:00 WIB
Sudah mati-matian diet, tapi angka di timbangan tidak juga berkurang. Benarkah memang wanita lebih sulit turunkan berat badan?
Wanita Lebih Sulit Turunkan Berat Badan? Ini Alasannya (India Picture/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Keluhan sulit turunkan berat badan rasanya jamak terdengar dari percakapan di antara kaum hawa. Belum lagi pengalaman angka timbangan sangat cepat kembali atau melebihi angka awal setelah memutuskan berhenti mengatur pola makan.

Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah memang benar wanita lebih sulit turunkan berat badan?

  • Perbedaan pola metabolisme pada wanita

Salah satu kenyataan yang harus diterima wanita adalah metabolismenya yang memang lebih rendah dan lapisan lemak yang lebih tebal dibandingkan pria. Metabolisme rendah berarti wanita hanya butuh sedikit energi untuk tubuhnya bekerja.

Sementara itu, kelebihan energi yang masuk melalui makanan akan dengan mudah disimpan di lapisan lemak. Pada dasarnya, lapisan lemak wanita memang lebih tebal dibandingkan pria. Inilah fakta pertama yang menjadi jawaban mengapa wanita lebih susah turun berat badan dibandingkan pria.

  • Proses kehamilan

Di samping pola metabolisme yang membuat lemak lebih banyak menumpuk, wanita juga harus menanggung “beban” lemak saat dirinya mengandung sang buah hati. Bayangkan saja, rata-rata wanita akan mengalami penambahan berat badan 10-20kg saat proses kehamilan.

Setelah melahirkan pun, berat badan tidak serta merta dapat langsung kembali ke angka normal. Diet yang dilakukan setelah melahirkan pun tidak boleh dilakukan dengan ketat. Bukan tanpa alasan, proses menyusui mengharuskan seorang wanita tetap menjaga variasi asupan gizi dan kecukupan jumlahnya untuk sang buah hati.

Bagaimana dengan wanita yang belum pernah hamil, tapi juga mengalami kesulitan menurunkan berat badan? Bisa jadi, salah satu penyebabnya adalah siklus haid.

  • Siklus haid setiap bulan

Peningkatan hormon progesteron menjelang haid ternyata memang mampu memengaruhi nafsu makan seorang wanita. Karena itulah, tidak heran saat pre menstrual syndrome atau PMS terjadi, beberapa wanita cenderung mengalami peningkatan nafsu makan.

Makanan yang ingin dikonsumsi pun umumnya bernilai kalori tinggi. Misalnya saja cokelat, es krim, atau keripik.

  • Menopause

Tidak berhenti saat haid dan hamil saja, saat memasuki menopause pun seorang wanita tetap terancam dengan timbunan lemak ekstra di tubuhnya. Perubahan hormon saat menopause membuat metabolisme seorang wanita jauh melambat dan lebih mudah menyimpan lemak, terutama lemak di perut.

Timbunan lemak di perut ini bahkan punya istilah sendiri, yakni “meno-pot”, potbelly yang terbentuk akibat tumpukan lemak setelah menopause.

  • Psikologis

Hal lain yang bisa jadi alasan di balik sulitnya wanita menurunkan berat badan adalah masalah psikologis. Sebagian besar wanita biasanya menginginkan penurunan berat badan dalam waktu cepat. Salah satu caranya adalah melakukan diet besar-besaran dengan memangkas habis jumlah makanan yang biasa dikonsumsi.

Faktanya, cara ini tidak sepenuhnya dapat dibenarkan. Metode tersebut sangat berpotensi menyebabkan fenomena yoyo. Yaitu, berat badan akan cepat kembali atau bahkan melebihi nilai awal setelah pola makan tidak lagi dijaga ketat.

Ternyata banyak alasan, baik fisik maupun psikologis, yang mendasari sulitnya seorang wanita turunkan berat badan. Akan tetapi, sebenarnya hal ini dapat Anda siasati. Salah satu caranya adalah dengan benar-benar menjaga pola makan teratur dan pemilihan menu yang sehat. Selain itu, usahakan untuk berolahraga secara teratur minimal 30 menit setiap hari dan istirahat cukup. Dengan usaha yang optimal, berat badan dan tubuh yang sehat akan dapat dipertahankan.

[HNS/ RVS]