Heboh Pernikahan Sedarah, Ini Dampaknya pada Kondisi Anak

Oleh Ayu Maharani pada 05 Jul 2019, 15:40 WIB
Lagi-lagi publik dihebohkan dengan terjadinya pernikahan sedarah. Ada dampak buruk yang mengintai pada kondisi anak nantinya.
Heboh Pernikahan Sedarah, Ini Dampaknya pada Kondisi Anak (Maksym-Fesenko/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Publik tengah dihebohkan dengan kabar pernikahan sedarah pria asal Bulukumba, Sulawesi Selatan, dengan adik bungsunya sendiri di Kalimantan Timur. Pernikahan sedarah alias inses bukan hanya dianggap melanggar adat, hukum, dan agama, tetapi secara medis hubungan seksual sedarah juga bisa berdampak buruk pada anak yang dilahirkan kelak.

Kakak adik tersebut dikabarkan menikah siri secara diam-diam, yang akhirnya dilaporkan ke pihak berwajib oleh istri dari pria yang menikahi adiknya tersebut. Setelah diusut, sang adik ternyata sudah hamil 4 bulan. Lantas, bagaimana dampak pernikahan sedarah terhadap kondisi anak mereka kelak?

Ada kemungkinan cacat fisik serta kelainan darah

Inses atau hubungan seksual sedarah disebut-sebut dapat memengaruhi kondisi genetik keturunannya, sehingga risiko bayi terlahir cacat fisik maupun mental meningkat. Pelaku inses yang memiliki hubungan sedarah mempunyai materi genetik yang mirip, sehingga penyakit tertentu akan lebih mudah diturunkan.

Menurut dr. Devia Irine Putri dari KlikDokter, pernikahan sedarah memang memungkinkan bayi nantinya terlahir dengan kecatatan fisik, meski tidak 100 persen pasti. Sebab, yang perlu diingat di sini adalah, pasangan yang tidak sedarah pun bisa memiliki anak yang cacat karena adanya mutasi genetik.

  • Talasemia

“Iya, kemungkinan terlahir cacat fisik memang ada. Tapi sebenarnya pernikahan sedarah lebih berpotensi menimbulkan kelainan darah (masalah kesehatan yang tidak terlihat mata) pada keturunannya. Misalnya saja kondisi talasemia,” ungkap dr. Devia.

Talasemia adalah kelainan darah yang diturunkan dari orang tua. Kelainan tersebut membuat penderitanya mengalami anemia atau kurang darah karena sel darah merahnya terus-menerus pecah.

  • Hemofilia

Hemofilia adalah gangguan pembekuan darah, yang mana proses tersebut berjalan lebih lambat dari seharusnya. Akibatnya, perdarahan rentan terjadi. Dikatakan oleh dr. Nadia Octavia dari KlikDokter, hemofilia merupakan penyakit genetik resesif.

“Artinya, jika kedua orang tua memiliki gen pembawa (carrier) hemofilia, maka risiko keturunannya mengalami penyakit tersebut sangat tinggi,” katanya.

1 of 2

Kelainan pada fisik

Selain terjadinya kelainan darah, anak keturunan dari pasangan inses juga bisa mengalami:

  • Mikrosefali

Pada kasus ini, terjadi gangguan tumbuh kembang otak sejak dalam kandungan, sehingga mengakibatkan lingkar kepala anak lebih kecil daripada ukuran rata-rata. Pertumbuhan dan kecerdasan anak pun tidak bisa sama dengan anak lain pada umumnya.

Pada sebuah penelitian yang dilakukan di Pakistan, pernikahan antara sepupu yang terjadi suatu daerah di Pakistan Utara telah menyebabkan 43 persen anak yang lahir mengalami mikrosefali. Penyebabnya adalah antar sepupu memiliki 1/8 materi genetik yang sama dari kakek neneknya. Risiko ini tentu saja semakin tinggi jika hubungan inses dilakukan oleh saudara kandung atau orang tua dengan anak.

  • Albinisme

Albino adalah penyakit yang diturunkan secara genetik oleh kedua orang tua. Pada albino, tubuh tidak bisa menghasilkan pigmen melanin, sehingga tubuh tidak mengalami kerusakan akibat sinar tersebut. Melanin juga pembentuk warna kulit, rambut, dan mata

“Sama seperti hemofilia, albino merupakan penyakit genetik resesif, sehingga hubungan inses dapat meningkatkan risiko keturunan inses mengalami albino,” kata dr. Nadia.

  • Bibir sumbing

Bibir sumbing merupakan kelainan berupa celah pada bibir atas. Celah ini bisa terjadi pada bagian langit-langit rongga mulut (cleft palate), bagian bibir saja (cleft lip), atau keduanya. Namun pada umum, hampir separuh kasus bibir sumbing melibatkan celah pada bibir atas serta rongga mulut.

“Meski penyebab pasti bibir sumbing belum diketahui, para ahli menduga bahwa gabungan antara faktor genetik dan lingkungan ikut berpengaruh. Jika orang tua menderita bibir sumbing, risiko anak untuk memiliki kelainan ini akan semakin tinggi,” ujar dr. Nadia.

  • Dagu mandibular prognathism

Kelainan fisik ini menyebabkan rahang bawah tumbuh lebih panjang daripada rahang atas. Jika diperhatikan, dagu akan terlihat memanjang.

Heboh pernikahan sedarah di kakak adik asal Bulukumba di Kalimantan Timur tak hanya dianggap melanggar adat, hukum, dan agama, tetapi juga bisa berdampak buruk pada anak yang akan dilahirkan kelak. Penyimpangan semacam ini berisiko menimbulkan sejumlah gangguan kesehatan seperti talasemia, hemofilia, mikrosefali, albinisme, bibir sumbing, dagu mandibular prognathism, atau mungkin penyakit genetik lainnya.

(RN/ RVS)

Lanjutkan Membaca ↓