Bolehkah Balita Makan Telur Setengah Matang?

Oleh dr. Astrid Wulan Kusumoastuti pada 08 Jul 2019, 10:00 WIB
Menyantap telur setengah matang memang nikmat, namun, amankah jika disantap oleh balita?
Bolehkah Balita Makan Telur Setengah Matang? (Foong Kok Leong/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Telur setengah matang kerap menjadi salah satu menu andalan untuk sarapan. Menyantap telur setengah matang dengan kuning telur yang belum mengeras atau disebut “runny eggs” bagi sebagian orang terasa nikmat. Namun apakah makanan ini juga aman jika dikonsumsi anak dan balita?

Hidangan telur memang banyak disukai masyarakat. Meski demikian, ada beberapa batasan yang perlu dipatuhi agar konsumsi telur – terutama bagi anak dan balita – menjadi lebih bermanfaat.

Kandungan nutrisi telur

Sejak lama, telur sudah dikenal sebagai asupan yang sehat, enak, dan murah. Dalam sebutir telur, Anda dapat memperoleh gizi makro sekaligus mikro.

Gizi makro dalam sebutir telur terdiri atas protein, lemak, dan karbohidrat. Dalam 100 gram telur, terkandung 10-14 gram protein, 10-15 gram lemak, dan 0,7-3,3 gram karbohidrat.

Adapun, kandungan zat gizi mikro untuk setiap 100 gram telur antara lain 49-120 mg kalsium dan 160-200 mg fosfor. Selanjutnya, ada 1,3-3 mg zat besi; 900-2800 IU vitamin A; dan 0,1-0,2 mg vitamin B.

Manfaat lainnya, makan telur dapat membantu Anda merasa kenyang. Telur ditambah beberapa iris roti gandum adalah sarapan rendah kalori yang membuat Anda kenyang hingga jam makan siang.

Bagaimana dengan telur setengah matang?

Meski enak dan bergizi, Anda harus berhati-hati karena cara Anda mengolah telur dapat memengaruhi seberapa baik nutrisi telur yang dikonsumsi. Telur setengah matang, misalnya, kurang dianjurkan diberikan pada balita.

Mengonsumsi telur yang belum matang dapat meningkatkan risiko terkena penyakit dari bakteri bawaan makanan yang disebut Salmonella. Bakteri ini bisa menyerang siapa saja, tapi risikonya akan lebih besar terjangkit pada balita, lansia, atau orang yang sistem kekebalan tubuhnya rendah, seperti ibu hamil dan orang sakit.

Dalam banyak kasus, tidak diperlukan perawatan medis khusus saat terjangkit Salmonella. Gejalanya pun akan hilang dengan sendirinya dalam waktu sekitar satu minggu. Namun, dalam beberapa kasus, dibutuhkan antibiotik untuk mengurangi risiko komplikasi.

Infeksi Salmonella terhitung terjadi hingga 142.000 kasus menurut badan POM Amerika Serikat (FDA). TIdak hanya diakibatkan oleh telur yang dimasak setengah matang, bahkan telur yang terlihat bersih dengan cangkang yang tidak retak pun dapat mengandung bakteri penyebab Salmonella. Ini adalah penyebab paling umum keracunan makanan di AS.

Telur matang lebih baik

Menyediakan menu telur untuk anak memang dapat berisiko, tapi jangan sampai kekhawatiran ini membuat Anda sama sekali tidak memberikan telur kepada balita. Masaklah telur hingga matang sempurna atau gunakan telur yang telah dipasteurisasi saat memberikan menu telur untuk anak Anda. Panas yang digunakan saat memasak mampu membunuh bakteri sehingga aman dikonsumsi balita.

Berikan balita berbagai variasi olahan menu dengan cara memasak telur yang beragam, mengingat nutrisi yang terkandung di dalamnya sangat bermanfaat. Variasi olahan telur akan membuat anak senantiasa antusias mengonsumsinya, serta memudahkan Anda karena telur termasuk ke dalam bahan makanan yang mudah didapat di mana saja.

Anda dapat menyajikan telur rebus, telur goreng, telur dadar, atau telur ceplok. Anda dapat menambahkan berbagai irisan daging dan sayuran yang digemari buah hati agar mereka semakin lahap menyantapnya.

Pastikan juga Anda tidak memberikannya secara berlebihan karena setiap telur mengandung sekitar 187 miligram kolesterol. Jumlah ini hampir dua pertiga dari batas yang disarankan untuk anak di atas 2 tahun, yaitu 300 miligram kolesterol makanan per hari. Penting bagi Anda untuk menjaga batas ini, khususnya jika anak punya riwayat kolesterol tinggi atau sedang berjuang melawan obesitas.

Tak cuma telur setengah matang, hindari memberikan balita Anda makanan apa pun yang belum matang. Makanan yang dimasak setengah matang dapat menyisakan kuman hidup di dalamnya, sehingga dapat mengganggu sistem pencernaan anak yang belum sempurna. Selain itu, variasikan menu harian anak untuk meningkatkan wawasannya akan makanan.

[HNS/ RVS]