Angka Tekanan Darah Tinggi, Apakah Selalu Hipertensi?

Oleh Krisna Octavianus Dwiputra pada 09 Jul 2019, 15:10 WIB
Tekanan darah tinggi adalah kondisi yang dihindari oleh semua orang. Namun, apakah tekanan darah yang tinggi selalu berarti hipertensi?
Angka Tekanan Darah Tinggi, Apakah Selalu Hipertensi? (Sergei Domashenko/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Selain diabetes, masalah kesehatan yang semakin banyak dialami orang-orang saat ini adalah hipertensi. Hipertensi alias tekanan darah tinggi merupakan kondisi kronis yang ditandai dengan semakin meningkatnya tekanan darah.

Bila diabaikan, hipertensi dapat menimbulkan sejumlah komplikasi serius. Seperti penyakit jantung dan stroke. Akan tetapi, apakah tekanan darah yang tinggi selalu berarti bahwa Anda mengalami sakit hipertensi?

Seseorang dikatakan mengalami hipertensi jika tekanan darah sistolik (angka atas) lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastoliknya (angka bawah) lebih dari 90 mmHg. Biasanya, orang yang mengalami hipertensi akan mengeluhkan gejala pusing, sakit kepala parah, penglihatan buram, mual, detak jantung tak teratur, dan kelelahan.

Pada dasarnya, faktor pemicu hipertensi cukup beragam. Antara lain, berat badan yang tidak ideal, stres, faktor genetik, makanan berlemak, hingga pola hidup. Biasanya, jika sudah divonis mengalami hipertensi, Anda akan disarankan minum obat setiap hari untuk mengontrol tekanan darah Anda.

Tidak selalu hipertensi

Hipertensi memang lekat dengan tekanan darah tinggi. Akan tetapi, apakah kondisi tekanan darah yang tinggi selalu berarti hipertensi? Seperti dijelaskan dr. Sepriani Timurtini Limbong dari KlikDokter, tak semua angka tekanan darah tinggi adalah hipertensi.

"Kalau pasien baru sekali mengalami tekanan darah tinggi, dokter biasanya tidak akan langsung menyebut bahwa dia mengalami hipertensi," ujar dr. Sepriani saat dikonfirmasi. 

"Karena sebenarnya, tekanan darah itu bisa naik karena banyak hal, seperti capek, sehabis naik tangga, deg-degan.”

Menariknya, dr. Sepri menambahkan, ada juga kondisi yang disebut hipertensi jas putih. Hipertensi jenis ini biasanya disebabkan karena takut bertemu dokter atau petugas kesehatan lainnya. Selain itu, tensi juga bisa tinggi saat sedang merasa kesakitan atau sedang berada di ruang IGD.

Butuh beberapa kali pemeriksaan

Dokter pada umumnya akan melakukan beberapa kali pemeriksaan sebelum memutuskan Anda terkena hipertensi atau tidak.

"Biasanya, pemeriksaan akan diberi jeda setengah sampai satu jam untuk diukur ulang. Kalau setelah diukur ulang tensinya tetap tinggi dan pasien mengklaim belum pernah mengalami tekanan darah tinggi, biasanya dokter akan mengecek lagi di tangan kiri sekali, dan tangan kanan sekali," dr. Sepri menambahkan.

Akan tetapi, kata dr. Sepri, kalau prosedur di atas sudah dilakukan dan tekanan darah masih tinggi, dokter akan melakukan pemeriksaan setelah 4 minggu. Dalam 4 minggu itu dokter akan menganjurkan melakukan perubahan pola hidup, seperti olahraga dan mengurangi konsumsi lemak serta garam.

“Kalau tekanan darah turun, berarti itu bukan hipertensi murni yang harus diobati,” tutur dr. Sepri lagi.

Jadi, tidak semua angka tekanan darah tinggi adalah hipertensi. Untuk menegakkan diagnosis hipertensi, diperlukan pemeriksaan tekanan darah berulang oleh dokter. Bila Anda saat ini belum didiagnosis menderita hipertensi, jangan lengah. Jaga selalu pola makan dan gaya hidup Anda. Selain itu, jangan lupa untuk cek tekanan darah secara berkala dan lakukan aktivitas fisik secara rutin setiap hari.

[HNS/ RVS]