Sering Naik Ojek Bisa Picu Kanker Paru?

Oleh Krisna Octavianus Dwiputra pada 09 Jul 2019, 16:45 WIB
Selain merokok faktor risiko pemicu kanker paru lainnya adalah polusi udara. Jika sering naik ojek, Anda mesti waspada.
Sering Naik Ojek Bisa Picu Kanker Paru? (Helmi-Fithriansyah/Liputan6)

Klikdokter.com, Jakarta Merokok adalah faktor risiko utama yang bisa picu kanker paru. Namun, tak merokok bukan jaminan bebas kanker paru. Polusi udara turut berkontribusi atas kemunculan kanker. Untuk yang sering berkendara motor atau naik ojek, Anda mesti waspada.

Masyarakat Indonesia berduka dan kembali disadarkan akan bahaya kanker paru ketika Kepala Pusat Data Informasi dan Humas (Kapusdatin) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho meninggal dunia pada hari Minggu (7/7) silam. Lewat berbagai wawancara, ia mengaku seumur hidupnya tak pernah merokok.

Fakta tersebut pun membuat banyak orang tercengang. Tak pernah merokok seumur hidupnya, kok, bisa terkena kanker paru?

Kanker paru tak hanya menyerang perokok aktif

Dikatakan oleh dr. Sepriani Timurtini Limbong dari KlikDokter, merokok adalah faktor risiko utama kanker paru.

“Sekitar 80 persen kasus kanker paru berhubungan dengan kebiasaan tersebut,” ungkap dr. Sepriani.

Meski begitu, tidak merokok bukan berarti jaminan bebas ancaman kanker paru. Fakta menunjukkan bahwa kanker paru bisa terjadi pada bukan perokok seperti mendiang Pak Sutopo. Bahkan, dr. Sepriani mengatakan bahwa di Amerika Serikat, sekitar 20 persen pasien kanker paru mengaku tak pernah merokok seumur hidupnya.

Nyatanya, menurut dr. Sepriani ada beberapa faktor risiko lainnya yang dapat memicu terjadinya kanker paru selain rokok, yaitu:

  • Perokok pasif, yang ternyata memiliki risiko sama besarnya dengan perokok aktif. Tiap tahunnya, sekitar 7.000 perokok pasif meninggal dunia karena kanker paru.
  • Paparan radon, yang telah ditetapkan sebagai karsinogen pernapasan. Radon adalah gas radioaktif yang diproduksi secara alami ketika uranium, torium, dan radium terurai di tanah, bebatuan, dan air. Meski begitu, zat ini baru bisa jadi bahaya jika dihirup dalam jangka panjang.
  • Polusi udara, udara yang tercemar oleh berbagai zat polutan seperti nitrit oksida juga meningkatkan risiko kanker paru. Badan Kesehatan Udara (WHO) sudah menetapkan polusi udara sebagai salah satu karsinogen.
  • Uap masakan. Peneliti di Cina menunjukkan, wanita bukan perokok yang kerap memasakan menggunakan kayu atau arang sebagai bahan bakar pada suhu tinggi berisiko mengalami kanker paru tipe adenokarsinoma.
  • Paparan asbes, misalnya pada pekerja di pertambangan. Asbestos memang sudah terbukti menyebabkan kanker paru.
1 of 2

Waspadai polusi udara

Dari penjelasan tersebut, lima hal di atas juga bisa memicu kanker paru. Untuk yang rutin berkendara motor atau sering naik ojek, sudah sewajarnya Anda ekstra waspada. Menurut dr. Sepriani, polusi sebenarnya tidak bisa langsung disebut menjadi penyebab kanker paru, melainkan polutannya.

"Kalau (polusi) dibilang menyebabkan langsung, itu tidak. Hanya saja, ada faktor risiko kalau sering menghirup polutan, udara yang kotor, bahwa itu salah satu pencetus kanker paru," jelas dr. Sepriani.

"Risiko kanker paru itu lebih tinggi pada perokok aktif. Mereka yang sering naik motor juga berisiko, tetapi tidak sebesar faktor risiko merokok. Namun, memang polusi ada di daftar utama karsinogenik,” ujar dr. Sepriani.

Seperti yang ramai diperbincangan beberapa minggu belakangan, kualitas udara di Jakarta sedang buruk-buruknya, dengan nilai indeks kualitas udara (AQI) sebesar 240. Kategori sangat tidak sehat berada pada rentang nilai AQI 200-300, yang mana dapat memengaruhi kesehatan masyarakat.

Oleh karena itu, dr. Sepriani menyarankan pengendara motor atau Anda yang sering naik ojek sehari-harinya untuk menggunakan masker. Lalu, pastikan mengganti masker tersebut setiap hari alias tidak dipakai berulang.

Setiap hari berkendara motor atau Anda yang sering naik ojek, menghirup polusi udara memang bisa picu kanker paru. Untuk mencegahnya, jangan pernah melupakan masker tiap bepergian dengan motor. Selain itu perkuat daya tahan tubuh dengan pola makan sehat yang tinggi antioksidan, olahraga teratur, istirahat cukup, dan jauhi stres.

(RN/ RVS)

Lanjutkan Membaca ↓