Tips Deteksi Gangguan Kesehatan Lewat Mata

Oleh dr. Nabila Viera Yovita pada 10 Jul 2019, 17:15 WIB
Tahukah Anda, bahwa ternyata deteksi gangguan kesehatan bisa dilakukan lewat pemeriksaan mata? Yuk, simak penjelasan medisnya!
Tips Deteksi Gangguan Kesehatan Lewat Mata (Africa-Studio/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Mata tak hanya jendela hati, namun juga menggambarkan kondisi kesehatan secara menyeluruh. Anda mungkin tidak menyadari adanya gangguan kesehatan sebelum dilakukan pemeriksaan mata. Dalam beberapa kasus, deteksi gangguan kesehatan ini bisa dilakukan lewat pemeriksaan mata.

Mata berkaitan dengan organ vital

Hal ini terjadi karena mata memiliki jaringan mikroskopis yang sama dengan organ vital tubuh lain, juga memegang peran besar akan sistem saraf manusia. Sehingga, adanya kejanggalan pada mata juga dapat menandakan terjadinya perubahan pada bagian tubuh lainnya.

Contohnya, seorang dokter spesialis mata dapat mendeteksi adanya diabetes mellitus pada seseorang lewat pemeriksaan mata dengan mengamati perubahan maupun adanya kerusakan pada pembuluh darah retina, yang dikenal sebagai retinopati diabetikum.

Dalam kasus ini, penyakit yang terdeteksi dari pembuluh darah mata mungkin sudah dapat dilihat terlebih dahulu sebelum kelainan muncul pada tes kadar gula darah. Dengan adanya deteksi dini pada pemeriksaan mata, individu dengan diabetes tahap dini dapat mencegah penurunan penglihatan serta komplikasi serius lainnya.

Waspada penyakit serius akibat gangguan pada mata

Hilangnya kemampuan penglihatan mata bagian samping yang dapat menjadi gejala glaukoma ini juga dapat mengindikasikan masalah kesehatan serius lainnya. Hal ini dapat mengacu kepada masalah pada bagian otak tertentu, dan menandakan adanya kemungkinan stroke, cedera kepala, tumor, maupun perdarahan otak.

Multiple sclerosis (MS) juga sering kali terdeteksi ketika seseorang kehilangan penglihatan secara mendadak. Terdapat perubahan warna dan penampakan pada saraf penglihatan. Hal ini selanjutnya dapat dikonfirmasi melalui tes lainnya untuk menentukan diagnosis MS.

Selain itu, infeksi menular seksual seperti klamidia, herpes, sifilis, serta HIV juga dapat dideteksi dari suatu infeksi berulang pada mata, seperti konjungtivitis.

Pada seseorang dengan mata kering, penyakit tiroid akibat gangguan dalam produksi hormon juga dapat berpengaruh pada produksi air mata. Penyakit ini mengakibatkan otot mata bagian luar yang mengontrol gerakan mata menjadi membesar dan kaku.

Jadi, jika Anda melihat seseorang dengan mata yang menonjol, kemungkinan ia memiliki penyakit Graves, yang disebabkan oleh gangguan tiroid.

Ada pula suatu infeksi yang bersifat sistemik atau menyebar di seluruh tubuh, yang akan tampak pada mata sebagai uveitis, yakni mata terlihat merah dan bengkak, akibat lupus maupun penyakit autoimun lainnya.

Bahkan, kondisi yang menyebabkan peradangan pada tubuh juga akan menyebabkan kondisi peradangan yang sama pada mata. Walaupun gejala lain pada umumnya lebih awal terdeteksi sebelum pemeriksaan mata, kanker pada payudara, kulit, leukemia serta limfoma juga dapat terdeteksi.

Yuk, lakukan pemeriksaan mata!

Akademi Optalmologi Amerika merekomendasikan seluruh orang dewasa untuk melakukan pemeriksaan mata awal dari dokter spesialis mata pada usia 40 tahun, ketika dapat ditemukan tanda dini suatu penyakit dan munculnya perubahan pandangan.

Jika Anda memiliki riwayat penyakit mata maupun faktor risiko untuk mengalaminya, seperti diabetes mellitus, tekanan darah tinggi, maupun riwayat penyakit mata dalam keluarga, usahakan lakukan pemeriksaan sebelum usia 40 tahun.

Hal yang berbeda pun berlaku bagi Anda yang berusia 65 tahun ke atas. Sebaiknya lakukan pemeriksaan mata secara menyeluruh setiap 1 hingga 2 tahun, atau sesuai yang direkomendasikan dokter mata Anda.

Pemeriksaan mata rutin per tahunnya dengan dokter spesialis mata ternyata bukan sekadar untuk memeriksa ketajaman pandangan mata, namun juga dapat digunakan sebagai deteksi gangguan kesehatan lain yang mungkin lebih berbahaya. Jadi, jangan malas periksa mata, ya!

[NP/ RVS]