Peran Ayah dalam Mengatasi Anak yang Tantrum

Oleh dr. Fiona Amelia MPH pada 11 Jul 2019, 14:30 WIB
Peran ayah ternyata tak kalah penting dalam mengatasi anak yang tantrum. Yuk, cari tahu seperti apa di sini.
Peran Ayah dalam Mengatasi Anak yang Tantrum (Eggeegg/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Kini makin disadari bahwa figur ayah memiliki peran yang tak kalah penting dari ibu dalam pengasuhan dan tumbuh kembang anak. Khususnya, ketika anak mulai mengalami tantrum.

Mengapa anak mengalami tantrum?

Periode batita (bawah tiga tahun) adalah masa-masa di mana kesabaran Anda sangat diuji. Namun demikian, periode ini sangat penting bagi tumbuh kembang si Kecil.

Dalam periode ini, batita sedang belajar menjadi individu yang mandiri. Namun sayang, kemampuan berbahasa dan strategi untuk menyampaikan keinginan serta kebutuhannya belum efektif. Karena itulah, yang bisa dilakukan anak adalah mengamuk atau mengalami tantrum.

Sesungguhnya, tantrum adalah bagian normal dari proses tumbuh kembang. Hal ini kerap terjadi antara usia 1-3 tahun dan puncaknya pada tahun kedua. Pada usia dua tahun tersebut kemampuan berbahasa si Kecil baru mulai berkembang.

Karena belum bisa menyampaikan keinginan dengan jelas, beberapa situasi yang membuat anak frustrasi dapat memicu tantrum. Misalnya saja kelelahan, mengantuk, lapar, atau rasa tidak nyaman.

Sebelum betul-betul mampu berbahasa, tantrum menjadi cara bagi anak untuk mencoba mendapatkan apa yang diinginkan. Seiring dengan kemampuan berbahasa yang semakin baik, frekuensi tantrum perlahan akan berkurang.

Peran ayah saat anak tantrum

Ayah dan ibu merupakan pilar perkembangan emosi anak yang penting. Meski demikian, ayah adalah sosok yang melindungi dan umumnya lebih cakap dalam mendisiplinkan anak.

Terkait hal tersebut, para pakar menemukan bahwa figur ayah memberikan efek yang berbeda ketimbang ibu saat si Kecil sedang tantrum. Kalau ibu membantu anak tenang dari stres, kehadiran ayah mencegah anak dari perilaku agresif, terutama pada anak laki-laki. Mengapa demikian?

Kehadiran ayah memberi rasa aman pada anak, baik secara fisik maupun emosional. Salah satunya adalah melalui interaksi ayah saat bermain dengan anak.

Dalam sebuah studi ditemukan bahwa angka interaksi one-to-one ayah dengan bayi atau batita dalam menstimulasi dan aktivitas bermain, jauh lebih tinggi ketimbang para ibu. Melalui interaksi yang intens ini, anak belajar mengembangkan rasa percayanya pada figur ayah.

Berikutnya, ada kecenderungan bahwa seorang anak ingin membuat ayahnya bangga. Oleh karena itu, anak akan lebih mudah ditenangkan dari tantrum bila sang ayah terlibat dalam proses pengasuhan.

Dalam jangka panjang, figur ayah yang baik juga membuat anak laki-laki hanya menunjukkan sedikit agresivitas dan lebih mampu mengendalikan diri. Adapun anak perempuan cenderung memiliki harga diri yang lebih tinggi.

Melalui peran ayah, anak juga terpicu untuk mencapai tingkat pendidikan yang lebih tinggi dan memiliki karier yang sukses. Selain itu lebih percaya diri, si Kecil juga akan lebih sejahtera secara psikologis serta memiliki hubungan sosial yang lebih baik.

Walaupun tantrum adalah normal, tetap saja tak elok dilihat. Karena itu, si Kecil harus belajar untuk mengendalikan diri dan emosi. Dalam hal ini, peran ayah tak boleh disepelekan. Kehadiran dan keterlibatan ayah saat anak tantrum teramat penting bagi tumbuh kembang dan kesehatan jiwa mereka.

[HNS/ RH]