Populasi Meningkat Bikin Polusi Udara Makin Parah

Oleh Krisna Octavianus Dwiputra pada 11 Jul 2019, 16:15 WIB
Populasi global setiap tahun semakin meningkat. Populasi yang bertambah ini sejalan dengan kenaikan polusi udara yang semakin parah.
Populasi Meningkat Bikin Polusi Udara Makin Parah (Creativa-Images/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Peningkatan populasi global saat ini cukup pesat setiap tahunnya. Saat ini, dunia dihuni oleh sekitar 7 miliar penduduk. Sementara itu, setiap tahunnya terjadi peningkatan populasi sekitar 1% atau setara dengan 82 juta. Bahkan, menurut worldmeters, pada 2020 populasi dunia akan menjadi 9,7 miliar! Yang menjadi masalah, peningkatkan ini sangat berpengaruh pada polusi udara yang semakin parah.

Kaitan padatnya populasi dengan polusi udara

Menggunakan pengamatan satelit, para ilmuwan NASA mengukur polusi udara pada populasi di empat wilayah utama polusi udara, yakni Amerika Serikat, Eropa, Tiongkok, dan India. Studi ini menunjukkan hubungan antara polusi dan populasi bervariasi berdasarkan wilayah.

Misalnya, sebuah kota berpenduduk 1 juta orang di Eropa mengalami polusi nitrogen dioksida enam kali lebih tinggi daripada kota berjumlah 1 juta penduduk di India.

Menurut penelitian yang dipimpin Lok Lamsal, dari Pusat Penerbangan Antariksa Goddard, variasi itu merupakan cermin dari perbedaan regional seperti pengembangan industri, emisi per kapita dan geografi. Studi ini pernah dipublikasikan di Environmental Science and Technology.

Sebelumnya, para peneliti telah mengukur hubungan antara populasi dan beberapa karakteristik perkotaan, seperti infrastruktur, pekerjaan, dan inovasi. "Kami menunjukkan bahwa hubungan itu juga berlaku untuk polusi. Pengukuran hubungan itu bisa berguna untuk mengembangkan inventaris di masa depan dan merumuskan kebijakan pengendalian polusi udara," kata Lamsal.

Para peneliti fokus pada nitrogen dioksida (NO2) yang merupakan polutan umum hasil dari pembakaran bahan bakar fosil. Gas jenis ini dapat menyebabkan masalah pernapasan dan merupakan masalah di banyak wilayah metropolitan utama. NO2 juga tidak sehat untuk bernapas dalam konsentrasi tinggi.

Lok dan rekannya mempelajari data yang dikumpulkan oleh Ozone Monitoring Instrument pada satelit Aura NASA. Mereka mengukur NO2 di seluruh atmosfer pada siang hari di seluruh dunia.

Hasilnya, kontribusi terhadap polusi udara dari terkait NO2 di setiap wilayah lebih dari 2 kali lipat ketika populasi di kota-kota tersebut meningkat dari 1 juta menjadi 10 juta orang. Khusus di Tiongkok, peningkatannya ditemukan jauh lebih besar, yakni sekitar 5 kali lipat.

Meskipun kota-kota besar biasanya lebih hemat energi dengan emisi per kapita yang lebih rendah, tetap saja terlalu banyak orang menghasilkan lebih banyak polusi. Akan tetapi, penelitian ini mengungkapkan beberapa perbedaan regional yang patut diperhatikan.

"Pola penggunaan energi dan emisi per kapita sangat berbeda antara India dan Eropa. Meskipun terdapat populasi yang besar, kota-kota di India tampak lebih bersih dalam hal polusi NO2 daripada wilayah studi lainnya," kata Lamsal.

Para peneliti mengatakan, penyelidikan lebih lanjut diperlukan untuk mengklarifikasi penyebab di balik perbedaan di setiap regional tersebut. Hanya saja, penelitian awal ini cukup mengkhawatirkan.

1 of 2

Polusi udara picu sakit kepala

Penelitian di atas memang masih sangat awal. Namun yang pasti, terkait polusi udara, ini memang berbahaya.

"Kandungan substansi kimia dalam jumlah tertentu di atmosfer dapat membahayakan kesehatan. Polutan mikroskopis di udara dapat menyelinap melewati pertahanan tubuh, menembus masuk ke dalam sistem pernapasan, bahkan sampai ke peredaran darah. Akibatnya, polutan ini dapat merusak paru-paru, jantung, dan otak Anda," ujar dr. Alvin Nursalim, SpPD dari KlikDokter.

Tak lagi menyebabkan masalah pernapasan, polusi udara juga bisa menyebabkan beberapa masalah lain, seperti sakit kepala dan gangguan mental. Menurut dr. Alvin, hal ini perlu diperhatikan secara serius.

Beberapa faktor yang menyebabkan polusi udara picu sakit kepala adalah ozon, karbon monoksida, partikel-partikel debu, serta hal yang berkaitan dengan penggunaan gasolin dan bahan bakar lainnya.

Polusi udara membuat gangguan mental?

Sementara itu, satu penelitian lain menyebutkan bahwa polusi udara menyebabkan gangguan mental. Mungkin Anda merasa heran, bagaimana bisa berhubungan?

Menurut sebuah penelitian, efek racun dari polusi udara dapat menyebabkan berbagai gejala negatif psikologis. Antara lain, kecemasan, perubahan suasana hati, penurunan fungsi kognitif, dan perubahan perilaku.

Berdasarkan sebuah penelitian di Korea Selatan, beberapa orang dengan paparan polusi udara yang lebih tinggi, menunjukkan gejala depresi, bahkan memiliki niat untuk bunuh diri. Temuan ini khususnya didapatkan pada orang dengan umur di bawah 65 tahun. Efek negatif dari polusi ini dapat terjadi secara perlahan.

Terkait hal itu, dr. Avin mengatakan, "Polusi udara dapat juga dikaitkan dengan perubahan perilaku seorang, menghabiskan lebih sedikit waktu di luar, atau menjalani gaya hidup kurang aktif, dan mengalami isolasi sosial. Tekanan psikologis yang lebih berat juga berhubungan dengan keadaan polusi yang lebih berat."

Hasil penelitian soal hubungan populasi dan polusi udara di atas cukup mengkhawatirkan. Untuk itu, bila Anda sedang berada di kota yang memiliki kepadatan penduduk tinggi, jangan lupa menggunakan masker atau alat pelindung lainnya. Pencegahan seperti ini penting agar kesehatan Anda tetap terjaga.

[HNS/ RVS]

Lanjutkan Membaca ↓