Antara Minat dan Bakat Anak, Mana yang Perlu Diutamakan?

Oleh dr. Astrid Wulan Kusumoastuti pada 14 Jul 2019, 09:00 WIB
Minat dan bakat anak terkadang adalah dua hal yang berbeda. Kalau ini yang terjadi, manakah yang perlu Anda utamakan?
Antara Minat dan Bakat Anak, Mana yang Perlu Diutamakan? (Sergey-Novikov/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Salah satu fase tumbuh kembang anak pada saat mulai mengenali berbagai aktivitas di sekitarnya adalahnya munculnya minat dan bakat anak. Sudah menjadi suatu kewajiban bagi orang tua untuk mengenali minat dan bakat tersebut karena akan menjadi bekal penting saat anak beranjak dewasa.

Minat dan bakat anak perlu difasilitasi dengan baik. Kelak kedua hal tersebut bisa  menjadi landasan dalam menjadi orang yang sukses dalam berbagai aspek kehidupan.

Namun terkadang, orang tua merasa kebingungan dalam memfasilitasi minat dan bakat jika keduanya adalah hal yang berbeda. Misalnya, anak berbakat dalam hal menyanyi, tapi lebih menyukai olahraga fisik. Perbedaan ini, meski terkesan sepele, sering membuat anak lebih tertarik melakukan hal yang disuka dibandingkan mengembangkan bakat yang dimiliki.

Bahkan, pada kasus yang lebih ekstrem, anak cenderung dipaksa untuk meminati hal yang diinginkan oleh orang tuanya. Meski maksud dan tujuan orang tua adalah demi kebaikan anak, tak jarang anak malah merasa tertekan dan menjadi tidak bahagia.

Pahami dulu minat dan bakat anak

Sebelum melangkah lebih jauh, alangkah baiknya orang tua memahami dengan pasti terlebih dahulu apa yang menjadi minat dan apa bakat yang dimiliki anak. Minat adalah keinginan dan ketertarikan yang muncul dari dalam diri anak sendiri untuk menguasai dan mendalami sesuatu.

Minat biasanya muncul saat anak mulai banyak mengenal berbagai hal dalam kesehariannya. Dari berbagai hal tersebut, biasanya ada satu yang sangat disukai oleh anak bahkan dilakukan berulang-ulang kali—yang sering kali disebut sebagai hobi.

Di sisi lain, bakat adalah kemampuan dasar anak dalam mempelajari suatu hal yang lebih menonjol jika dibandingkan dengan anak-anak lain. Kelebihan ini dapat berupa aktivitas fisik, seperti cabang olahraga tertentu atau menari, kemampuan matematis dan logika lainnya, keahlian seni seperti bermain musik atau menggambar, dan banyak lagi yang lainnya.

Jika orang tua sudah mengenal dengan baik minat dan bakat anak, langkah pertama yang patut dicoba adalah dengan mencoba mengembangkan bakat yang sudah dimiliki anak. Temukan hal-hal menyenangkan dari kegiatan yang melibatkan bakat anak.

Kemudian, berikan apresiasi kepadanya jika telah melakukannya dengan baik agar anak merasa bahagia dengan bakat yang dimilikinya. Dengan begitu, anak akan merasa antusias untuk mengembangkan kemampuannya.

Anda boleh mencoba menumbuhkan minat dari bakat anak tersebut, tentunya diskusikan juga dengan anak apa yang ingin dia lakukan, ketahui, dan pelajari. Berikan motivasi dan pendampingan dengan cara mengajak anak berkumpul dengan komunitas, yang sesuai dengan minat dan bakatnya, bertemu dengan ahli di bidang tersebut, hingga mengikuti perlombaan agar anak semakin percaya diri.

Tidak perlu frustrasi

Namun, jika dengan berbagai cara ternyata anak tetap kurang menyukai hal yang berkaitan dengan bakatnya,  orang tua tidak perlu frustrasi. Ingatlah bahwa memaksakan anak melakukan hal yang tidak disukai justru dapat melukai psikologis anak.

Sebagian orang tua memaksakan kehendak karena khawatir apa yang ditekuni oleh anak pada saat ini dianggap tidak dapat dijadikan penunjang kesuksesan di masa depan. Padahal, di era saat sekarang ini dengan semakin maraknya media sosial dan beragam media lainnya untuk berekspresi, lapangan pekerjaan sangatlah beragam. Definisi sukses pun dapat beragam, tentunya banyak tolok ukur yang sudah bergeser seiring berkembangnya zaman.

Oleh karena itu, sebagai orang tua berusahalah percaya pada kemampuan anak. Setiap hal yang dilakukan, asalkan dilakukan dengan tekun, diasah dan dibimbing dengan baik, minat dan bakat anak itu niscaya akan menghasilkan dampak  yang positif.

[HNS/ RVS]