Kurang Aktif secara Sosial Bisa Picu Osteoporosis?

Oleh Krisna Octavianus Dwiputra pada 17 Jul 2019, 15:00 WIB
Anda yang kurang aktif secara sosial perlu waspada. Pasalnya, studi menemukan bahwa perilaku tersebut bisa picu osteroporosis.
Kurang Aktif secara Sosial Bisa Picu Osteoporosis? (Syda-Productions/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Kehidupan sosial yang buruk kerap dikaitkan dengan kesehatan mental. Namun menurut sebuah studi, kurang aktif secara sosial bisa picu pengeroposan tulang alias osteoporosis. Bagaimana mekanismenya?

Berdasarkan penjelasan dari dr. Theresia Rina Yunita dari KlikDokter, osteoporosis adalah penyakit tulang yang ditandai dengan menurunnya massa tulang (kepadatan tulang) secara keseluruhan.

"Osteoporosis terjadi akibat dari ketidakmampuan tubuh dalam mengatur kandungan mineral dalam tulang. Kondisi ini disertai dengan rusaknya arsitektur tulang yang akan mengakibatkan penurunan kekuatan tulang. Dalam hal ini yang terjadi adalah pengeroposan tulang, sehingga risiko terjadinya patah tulang meningkat," kata dr. Theresia menjelaskan.

Kaitan antara kurang aktif secara sosial dan osteoporosis

Anda yang lebih memilih untuk menghabiskan waktu sendirian ketimbang berinteraksi, membaca judul artikel ini pasti khawatir.

Studi dari Universitas Arizona di Amerika Serikat dan beberapa institusi yang dipublikasikan di “Journal of Epidemiology & Community Health” mengidentifikasi penyebab perbedaan kualitas (bukan kuantitas) lewat hubungan sosial.

Faktor tersebut adalah bagian dari pengukuran stres psikososial, yang merupakan bentuk stres sebagai akibat dari peristiwa kehidupan yang signifikan atau memiliki tingkat optimisme, kepuasan hidup, atau pendidikan yang rendah.

"Stres psikososial dapat meningkatkan risiko patah tulang melalui penurunan kepadatan mineral tulang. Kondisi tersebut mengubah struktur tulang dan merangsang pembentukan ulang tulang melalui disregulasi sekresi hormon, termasuk kortisol, tiroid, hormon pertumbuhan, dan glukokortikoid," kata peneliti seperti dikutip di Medical News Today.

Ikatan sosial yang buruk, kehilangan tulang yang lebih besar

Peneliti menganalisis data kesehatan dan gaya hidup dari 11.020 wanita berusia 50-70 tahun yang terdaftar dalam studi jangka panjang Women's Health Initiative (WHI). Studi tersebut ditujukan untuk mengidentifikasi beberapa kondisi seperti penyakit jantung, kanker payudara, dan osteoporosis pada wanita.

Para peserta diperiksa kepadatan tulangnya. Para peneliti mengumpulkan data awal, pada saat pendaftaran, dan setelah 6 tahun.

Pada data awal, para peserta mengisi kuesioner yang menanyakan tingkat stres psikososial, khususnya terkait dengan tiga faktor:

  • Ketegangan sosial, merujuk pada buruknya kualitas hubungan sosial.
  • Dukungan sosial, mengacu pada hubungan sosial berkualitas baik.
  • Fungsi sosial, yang mengukur tingkat aktivitas sosial.

Para peneliti mengikuti peserta selama 6 tahun dan menemukan bahwa tingkat stres psikososial yang tinggi memiliki hubungan dengan kepadatan tulang yang lebih rendah. Asosiasi ini bertahan, bahkan setelah tim menyesuaikan dengan faktor pembaur termasuk usia, tingkat pendidikan, indeks massa tubuh (IMT), status merokok, dan konsumsi alkohol.

Pada waktu yang sama, beberapa stresor dampaknya lebih besar jika dihubungkan dengan hilangnya massa tulang. “Kami mengidentifikasi stresor psikososial spesifik, yang berkaitan dengan lingkungan sosial yang berhubungan dengan pengeroposan tulang,” tulis peneliti.

Para peneliti menghubungkan tekanan sosial yang lebih tinggi dengan hilangnya kepadatan mineral tulang yang lebih besar di pinggul, begitu juga di bagian punggung bawah dan tulang paha atas (femoral neck).

Sebagai tambahan, stres yang berasal dari tingkat fungsi sosial dihubungkan dengan hilangnya kepadatan tulang di pinggul secara keseluruhan, dan di tulang paha atas secara spesifik.

Namun, faktor yang paling berdampak adalah tekanan atau ketegangan sosial, yang diukur oleh para peneliti dari skala 1 hingga 5 dengan skor total 20 poin. Makin tinggi poin menunjukkan tekanan sosial yang lebih besar. Meski demikian, temuan studi ini hanya berupa pengawatan dan masih terlalu dini dan butuh penelitian lebih lanjut.

Wanita lebih berisiko

Menurut dr. Muhammad Iqbal Ramadhan dari KlikDokter, aktif atau tidak secara sosial, faktanya wanita lebih rentan mengalami osteoporosis. Salah satu faktor yang bertanggung jawab atas terjadinya osteoporosis adalah penurunan hormon estrogen akibat menopause.

“Hormon ini sangat berperan dalam proses produksi massa tulang, serta mampu mengendalikan aktivitas pembentuk dan penyerap tulang,” jelas dr. Iqbal.

Selain itu, wanita juga rentan mengalami osteoporosis karena postur tulang yang lebih kecil dan asupan kalsium yang kurang.

Itulah penjelasan tentang kaitan kurang aktifnya kehidupan seseorang secara sosial yang dikatakan bisa picu osteoporosis. Agar terhindar dari pengeroposan tulang, baik pria ataupun wanita disarankan untuk mencukupi asupan kalsium dan vitamin D, berolahraga secara rutin, dan berhenti merokok.

(RN/ RVS)