Fase Menstruasi yang Wanita Perlu Tahu

Oleh dr. Atika pada 18 Jul 2019, 10:00 WIB
Siklus menstruasi yang dijalani wanita tidaklah sesederhana yang dibayangkan. Setiap bulannya ada 2 fase menstruasi yang harus dilalui.
Fase Menstruasi yang Wanita Perlu Tahu (Branislav Nenin/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Siklus menstruasi dialami wanita rata-rata berlangsung selama 28 hari. Siklusnya  dimulai dari hari pertama keluarnya darah menstruasi hingga berakhir tepat sebelum siklus berikutnya datang. Umumnya, rentang siklus menstruasi normal bisa berkisar antara 25-30 hari.

Siklus menstruasi meliputi proses-proses perubahan alami yang terjadi pada sistem reproduksi wanita. Dalam siklus ini melibatkan 3 organ sekaligus, yakni otak, rahim, dan indung telur.

Di dalamnya terdapat proses penting berupa pematangan hingga pelepasan sel telur (proses ovulasi), yakni proses penting yang memungkinkan seorang wanita untuk memiliki keturunan.

Fase menstruasi wanita

Proses terjadinya menstruasi sesungguhnya cukup rumit dan melibatkan beberapa fase. Yuk, simak apa saja fase-fase menstruasi tersebut!

  1. Fase folikuler

Sekitar 14 hari pertama yang merupakan setengah bagian awal dari siklus menstruasi, terdapat fase folikuler. Dalam tahap ini terjadi proses pematangan folikel, yang berakhir pada pelepasan sel telur di dalamnya. Folikel ini bisa dikatakan sebagai “cangkang” dari sel telur tersebut.

Pada fase ini, hormon Follicle-Stimulating Hormon (FSH) yang memicu pematangan folikel mengalami peningkatan. Hormon ini akan menstimulasi tumbuhnya 15-20 folikel. Meskipun ada banyak folikel yang distimulasi, nantinya hanya 1 folikel dalam 1 ovarium yang akan menjadi dominan dan matang.

Bersamaan dengan peningkatan hormon FSH, hormon Luteinizing Hormon (LH) juga meningkat. Hormon LH adalah hormon yang memicu proses pelepasan sel telur hingga siap untuk dibuahi.

Kembali pada proses yang terjadi pada fase folikuler. Naiknya hormon FSH dan LH selanjutnya memicu produksi hormon estrogen, yang memiliki efek menekan produksi hormon FSH. Dengan begitu terdapat suatu keseimbangan hormon, yang memungkinkan tubuh membatasi jumlah folikel yang dimatangkan.

Ketika di fase ini terdapat sperma di dalam tubuh wanita, maka kemungkinan terjadinya kehamilan sangat tinggi. Tak ayal, periode ini disebut sebagai masa subur.

Namun, bukan berarti hal ini selalu terjadi. Ada kondisi di mana menstruasi berlangsung rutin setiap bulan, namun tidak disertai proses pelepasan sel telur. Kondisi ini disebut sebagai anovulatoir.

  1. Fase luteal

Merupakan fase yang terjadi setelah fase folikuler dan terjadi secara bervariasi pada setiap orang. Fase luteal bagi sebagian orang bisa lebih lama, yang menyebabkan siklus menstruasi setiap orang berbeda-beda.

Setelah terjadi ovulasi, sisa folikel akan berubah menjadi korpus luteum, yang memproduksi hormon progesteron. Bila terjadi pembuahan, hormon ini akan mendukung kehamilan.

Progesteron akan mempersiapkan rahim untuk proses implantasi sel telur yang sudah dibuahi oleh sperma. Kemudian, dinding rahim akan menebal. Tujuannya untuk memberikan nutrisi pada embrio yang akan terbentuk setelah terjadinya implantasi.

Namun ketika tidak terjadi kehamilan, korpus luteum akan berdegenerasi. Bersamaan dengan menurunnya kadar hormon progesteron, dinding rahim akan meluruh dan terlepas. Peluruhan dinding rahim ini akan keluar sebagai darah menstruasi, yang kemudian berlanjut ke periode menstruasi berikutnya.

Demikianlah dua fase pada siklus menstruasi yang dijalani wanita setiap bulannya. Keduanya merupakan suatu proses yang kompleks dan melibatkan interaksi banyak hormon serta organ. Tidak heran, adanya gangguan sedikit saja pada proses di dalamnya rentan mengganggu siklus menstruasi, yang pada akhirnya menyebabkan sulitnya memperoleh kehamilan.

[NP/ RVS]