Kiat agar Berani Operasi Caesar Jika Tidak Bisa Melahirkan Normal

Oleh dr. Alberta Jesslyn Gunardi. BMedSc Hons pada 20 Jul 2019, 09:00 WIB
Kebanyakan wanita ingin melahirkan normal. Namun jika tidak bisa, ini kiatnya agar tidak takut operasi caesar.
Kiat agar Berani Operasi Caesar Jika Tidak Bisa Melahirkan Normal (Nasimi Babaev/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Kebanyakan wanita pasti ingin melahirkan normal. Namun terkadang kondisi tak mendukung. Maka operasi caesar sering menjadi pilihan.

Tak sedikit wanita yang khawatir dengan operasi caesar. Mereka takut mengalami rasa sakit, ada efek anestesi, dan lain-lain.

Namun jangan khawatir, ada tips agar Anda tetap tenang dan tidak takut menjalani operasi caesar. Operasi caesar tidak semenyeramkan yang dibayangkan, kok!

Kenali macam persalinan

Pada umumnya ada dua macam cara persalinan, yaitu normal dan caesar. Selain ditentukan preferensi pribadi ibu hamil, kadang metode persalinan bergantung pada kondisi ibu hamil dan janin.

Ada yang inginnya persalinan normal, tetapi karena kehamilan menghadapi berbagai kendala, operasi caesar pun menjadi satu-satunya pilihan. Tak sedikit wanita yang khawatir, bahkan takut menjalaninya.

Sesuai dengan sistem reproduksi, tubuh wanita mampu menjalani persalinan secara normal atau per vaginam. Janin tumbuh dan berkembang di dalam rahim. Selain itu ada juga cairan ketuban yang bertugas melindungi bayi di dalam rahim.

Rahim merupakan organ yang luar biasa. Normalnya, rahim berukuran sebesar buah pir. Namun seiring dengan pertumbuhan bayi, rahim dapat membesar hingga sebesar buah semangka. Rahim memiliki mulut rahim yang pada waktu persalinan akan membuka hingga sekitar 10 cm ketika lengkap. Pada persalinan normal, sang bayi akan keluar melalui mulut rahim tersebut dan melewati tulang panggul.

Beberapa kondisi perlu operasi caesar

Ada beberapa kondisi yang membuat wanita harus menjalani persalinan secara caesar. Berikut beberapa kondisi yang membuat wanita perlu menjalani prosedur operasi caesar:

  • Tulang panggul yang kecil atau deformitas.
  • Sindrom infeksi amniotik (amniotic band syndrome).
  • Eklampsia dan sindrom HELLP (hemolisis, meningkatnya kadar enzim yang dihasilkan hati akibat gangguan fungsi hati, dan rendahnya trombosit.
  • Kondisi kegawatan janin.
  • Prolaps (penurunan) tali plasenta.
  • Plasenta previa (posisi plasenta yang menutupi setengah jalan lahir).
  • Posisi bayi abnormal (sungsang dan lintang).
  • Pecahnya rahim.
  • Persalinan lama.
  • Riwayat caesar sebelumnya.
1 of 2

Sekilas mengenai prosedur operasi caesar

Pada operasi caesar, dilakukan prosedur pembedahan pada bagian perut (laparotomi) dan dinding rahim (histerotomi). Bayi dilahirkan dari insisi atau sayatan yang dibuat oleh dokter ahli dan tidak melalui mulut rahim dan tulang panggul.

Dengan cara tersebut bayi tidak mendapatkan tekanan fisiologis ketika melewati tulang panggul, sehingga terkadang tidak langsung menangis ketika dilahirkan jika dibandingkan pada persalinan normal.

Kondisi tersebut dapat berujung pada transient tachypnea of the newborn, yaitu masalah pernapasan yang cukup sering ditemukan pada bayi baru lahir. Gejalanya adalah  bayi bernapas cepat dan dalam, tampak sesak, dan diikuti oleh suara napas mirip dengkuran.

Persiapkan ini sebelum menjalani operasi ceasar

Jika Anda harus menjalani operasi ceasar, jangan takut karena tingkat keberhasilan operasi ini tinggi. Beberapa tips yang bisa Anda lakukan sebelum operasi caesar adalah:

  1. Persiapkan hati dan mental saat harus melakukan operasi caesar akibat indikasi medis

Adanya kendala medis dalam kehamilan bukan salah sang ibu. Masalah medis memang bisa terjadi, tetapi kehamilan tetap dapat dijalani. Sang ibu baiknya mempersiapkan hati dan mental agar persalinan berjalan lancar.

Dukungan dari pasangan dan keluarga juga dapat mengurangi ketakutan dan kecemasan sang ibu yang akan menjalankan operasi. Jika masih kurang, sang ibu dapat berkonsultasi kepada dokter spesialis kejiwaan mengenai kekhawatirannya menjalani operasi caesar.

  1. Mencari tahu mengenai operasi caesar

Mengetahui operasi caesar, prosedur, indikasi, risiko, dan informasi penting lainnya bisa membuat sang ibu lebih mengerti sehingga menghilangkan kekhawatiran. Hindari mengandalkan pencarian informasi di internet.

Tanyakan kepada dokter spesialis kandungan atau bidan di mana Anda melakukan pemeriksaan antenatal. Anda juga bisa menanyakan orang-orang yang pernah menjalani prosedur tersebut.

  1. Persiapan pembiusan

Terdapat beberapa pilihan jenis pembiusan untuk operasi caesar, yaitu spinal, epidural, dan umum. Pemilihan ini dilakukan oleh dokter anestesi sesuai dengan indikasi medis.

Teknik spinal adalah yang paling umum dilakukan. Pasien biasanya masih sadar dan tidak merasakan nyeri dari dada hingga ke kaki. Sehingga, pasien bisa mendengar apa yang terjadi di ruangan operasi.

Teknik epidural biasanya dilakukan ketika pasien sudah menjalani persalinan normal dengan teknik ini. Sedangkan bius umum dilakukan ketika terjadi keadaan darurat seperti kegawatan janin.

  1. Jaga kondisi tubuh

Tubuh yang fit dan bugar tentunya akan proses pemulihan berjalan lebih cepat. Konsumsilah makanan yang bernutrisi lengkap dan olahraga secara rutin ketika hamil dan sebelum operasi.

  1. Minta untuk langsung berkontak langsung dengan bayi

Hal ini bergantung pada kondisi bayi dan sang ibu. Jika kondisi bayi dan ibu sama-sama baik, bayi yang dilahirkan dari operasi caesar bisa langsung diberikan ke ibu untuk berkontak langsung (skin-to-skin) atau inisiasi menyusui dini (IMD). Hal ini sangat dianjurkan bagi ibu maupun bayi.

Bagi bayi, ASI pertama sang ibu punya banyak manfaat. Bagi sang ibu, kontak langsung dapat membantu meredakan stres yang dirasakan.

Apabila ada kendala medis membuat seorang wanita tidak bisa melahirkan normal, operasi caesar bisa jadi pilihan. Ibu hamil tidak perlu takut dengan prosedur ini karena tingkat keberhasilannya tinggi. Lakukan kiat di atas agar hati, mental, dan fisik siap pada hari persalinan nanti.

(RN/ RVS)

Lanjutkan Membaca ↓