9 Kebiasaan Buruk yang Bisa Merusak Gigi Anak

Oleh drg. Wiena Manggala Putri pada 21 Jul 2019, 14:00 WIB
Jangan dibiarkan. Kebiasaan buruk yang sering dilakukan anak ini lama-lama bisa merusak gigi anak, lo!
9 Kebiasaan Buruk yang Bisa Merusak Gigi Anak (Singkham/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Kebiasaan buruk anak yang tak segera dideteksi bisa merusak gigi anak. Para orang tua perlu lebih mewaspadainya, agar kelak anak bisa memiliki deretan gigi yang sehat.

Beberapa orang tua mungkin enggan repot dan berpikir, “Toh gigi anak nanti akan digantikan dengan gigi permanen.” Namun percayalah, menjaga gigi anak tetap sehat sangat penting untuk kesehatan dan kesejahterannya secara keseluruhan.

Kebiasaan yang bisa merusak gigi anak

Coba perhatikan kebiasaan yang suka anak lakukan. Jika Anda mendapati kebiasaan buruk di bawah ini, segera hentikan dan atasi.

1. Minum susu dengan botol dot sebelum tidur

Untuk anak yang masih minum susu dari botol dot, kebiasaan meminumnya sebelum tidur bisa pelan-pelan merusak giginya.

Selain dapat menyebabkan maloklusi gigi (susunan gigi yang tidak rata), ketika susu tersebut menggenang sepanjang malam di dalam rongga mulut anak, gula dalam susu akan merusak lapisan pelindung gigi secara perlahan. Jika tidak segera dibersihkan, lama-lama bisa terjadi karies. Kondisi ini disebut juga sebagai nursing bottle caries atau karies botol.

Anda bisa mencegah dan mengatasinya dengan menyetop penggunaan botol dot dan mulai ajari anak menggunakan gelas dan sedotan untuk minum susu. Setelah minum susu, jangan bosan untuk mengingatkan anak untuk minum air putih dan menggosok gigi sebelum tidur.

2. Kebanyakan makan yang manis-manis

Kebanyakan anak-anak menggemari makanan yang manis-manis seperti permen, cake, cokelat, gulali, dan lain-lain. Kandungan gula yang tinggi pada makanan tersebut bisa merusak kesehatan gigi. Sisa gula yang tertinggal di dalam mulut akan diubah oleh kuman-kuman plak menjadi asam.

Selanjutnya, permukaan gigi yang terkena oleh asam akan larut dan menyebabkan gigi menjadi berlubang. Kondisi tersebut bisa makin parah jika anak tidak rajin menggosok gigi.

Oleh karena itu, ajari sekaligus beri contoh kepada anak untuk segera berkumur setelah makan atau minum yang manis-manis.

3. Sering menelan pasta gigi

Mungkin karena manis dan rasanya mirip buah-buahan, anak gemar menelan pasta gigi saat menyikat gigi. Menelan pasta gigi merupakan tindakan yang sepenuhnya berbahaya, tetapi bukan berarti ini aman dilakukan. Pasalnya, kebiasaan menelan pasta gigi bisa menjadi cikal bakal munculnya fluorosis atau mottled enamel.

Pada kondisi ini, garis-garis halus berwarna putih atau cokelat muncul akibat terlalu banyak mengonsumsi fluoride. Meski tidak berbahaya, tetapi kondisi ini bisa memengaruhi penampilan anak.

Sebagai solusi, Anda dapat memberikan pasta gigi rendah atau tanpa fluoride kepada anak. Jika ia tak sengaja menelan pasta gigi tersebut, Anda tak perlu terlalu khawatir.

1 of 3

Selanjutnya

4. Mengisap jempol

Tak sedikit orang tua yang membiarkan anaknya mengisap ibu jarinya karena bisa membuatnya nyaman dan tidak rewel. Kebiasaan ini umumnya sering dilakukan anak saat ia sedang tumbuh gigi. Namun jika didiamkan, kebiasaan yang disebut thumb sucking ini bisa membuat pertumbuhan gigi dan kontur rahang menjadi tidak proposional dan optimal, serta mengakibatkan maloklusi gigi.

Gigi atas akan terdorong ke arah depan, sehingga membuat gigi jadi maju dari seharusnya alias tonggos. Selain itu, langit-langit mulut berubah menjadi lebih dalam. Ini semua dapat memengaruhi proses mengunyah makanan pada anak. Karenanya, jika Anda sering mendapati anak mengisap jempolnya, segera larang.

5. Menggigit kuku atau benda lainnya

Kebiasaan menggigiti benda keras, misalnya kuku, pensil, atau benda lain, bisa menyebabkan kelainan struktur rahang. Gigi akan mengalami crossbite, yaitu kondisi posisi gigi bawah lebih maju dari gigi atas. Selain itu, kebiasaan ini juga bisa membuat gigi retak dan rapuh.

Untuk mengatasinya, Anda tak boleh bosan mengingatkan anak agar tidak memasukkan benda asing selain makanan dan minuman ke dalam mulut.

6. Mengemut makanan

Beberapa anak suka mengemut makanan, terutama nasi atau karbohidrat lainnya. Ini sama saja “memberi makan” bakteri di dalam mulut. Akibatnya, bakteri akan berfermentasi dan menghasilkan asam, yang perlahan dapat merusak gigi.

Selain itu, anak yang punya kebiasaan mengemut menyebabkan rahangnya tidak berkembang optimal. Menggerakkan rahang akan merangsang pertumbuhan rahang, sehingga sesuai dengan ukuran gigi tetap yang lebih besar daripada gigi susu. Gerakan rahang yang tidak optimal juga bisa menghambat kemampuan bicara.

Bantu anak dengan cara melatihnya makan makanan padat sesuai pertambahan usianya. Selain itu, biasakan anak makan di meja makan supaya ia terbiasa makan dengan baik, perhatiannya tak teralihkan hal lain, sehingga ia tidak mengemut makanannya.

2 of 3

Selanjutnya

7. Malas menggosok gigi

Ini sering terjadi pada balita. Ia sering menolak saat harus menyikat gigi, bahkan beberapa anak mengalami mual. Anda bisa mencegahnya dengan membiasakan gosok gigi sedini mungkin, bahkan sejak bayi.

8. Tidak menyikat gigi sesuai anjuran

Sebagian besar masyarakat menyikat gigi dua kali sehari, yaitu saat mandi pagi dan mandi sore. Padahal, waktu yang paling tetap untuk menyikat gigi adalah setiap selesai makan dan sebelum tidur. Hal ini dapat mengurangi risiko gigi berlubang sebanyak 50 persen.

Ajari pula anak untuk menyikat gigi dengan cara yang tepat, yaitu dari arah gusi ke gigi, sehingga tidak mengikis gusi. Untuk gigi geraham, permukaannya harus disikat.

9. Tidak periksa gigi secara rutin

Berdasarkan sebuah survei pada tahun 2015-2016, sebanyak 60,4 persen orang tua hanya akan mengajak anak ke dokter gigi apabila terjadi masalah pada gigi anak. Padahal, orang tua seharusnya sudah membiasakan kunjungan rutin anak ke dokter gigi sedini mungkin.

Anak-anak disarankan untuk ke dokter gigi tiap 3-4 bulan sekali. Ini karena anak masih berada dalam tahap tumbuh kembang, sehingga dokter gigi dapat melakukan tindakan preventif jika teridentifikasi masalah pada gigi anak.

Anda sebagai orang tua harus lebih peduli pada kesehatan gigi anak, dimulai dengan memperhatikan apakah anak punya satu atau beberapa kebiasaan buruk yang bisa merusak giginya. Jika ada, segera hentikan dan atasi. Ajari mereka untuk menjaga dan merawat kesehatan dan kebersihan rongga mulut dan jadilah contoh untuknya agar giginya bebas dari kerusakan.

(RN/ RVS)

Lanjutkan Membaca ↓