Cara Mengejan Saat Melahirkan, Adakah Aturannya?

Oleh dr. Atika pada 22 Jul 2019, 14:00 WIB
Apakah Anda sedang mempersiapkan diri untuk melahirkan secara normal? Ketahui dulu aturan cara mengejan saat melahirkan berikut.
Cara Mengejan Saat Melahirkan, Adakah Aturannya? (Gorodenkoff/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Hal yang wajar bila ibu dihinggapi perasaan khawatir dan takut dalam menghadapi momen melahirkan. Berbagai risiko mungkin mendera sang ibu maupun janin dalam proses itu. Untuk mengatasi perasaan tidak nyaman ini, calon ibu harus memperkaya ilmunya seputar proses persalinan, salah satunya mengenai cara mengejan saat melahirkan

Faktanya, cara mengejan yang tidak tepat membawa komplikasi yang tidak ringan pada ibu maupun bayi. Untuk itu, sudah sewajibnya semua ibu yang merencanakan persalinan normal untuk mengetahui aturan mengejan yang benar. 

Cara mengejan saat melahirkan

Mengejan adalah salah satu bagian paling melelahkan bagi ibu saat persalinan normal. Sebab, mengejan membutuhkan upaya aktif sang ibu agar bayi bisa keluar dengan selamat. Perlu tekad yang kuat dan sikap pantang menyerah dari ibu agar terus bisa mengejan hingga melahirkan sang bayi.

Kapan waktunya untuk mengejan? Mengejan hanya boleh dilakukan ketika pembukaan jalan lahir (serviks atau leher rahim) sudah lengkap. Hal ini dapat Anda ketahui melalui instruksi dari bidan atau dokter yang menemani Anda. 

Ketika dokter atau bidan telah menyatakan pembukaan sudah lengkap, yaitu mencapai 10 cm, barulah Anda bisa mengejan. Tanda lain telah datangnya waktu untuk mengejan adalah Anda merasakan dorongan yang semakin kuat di area vagina dan sekitar anus.

Jangan salah, sebelum pembukaan lengkap 10 cm, besar kemungkinan sudah akan muncul sedikit dorongan untuk mengejan. Rasa nyeri dan tekanan yang Anda rasakan di bagian bawah akan memicu Anda untuk mengejan, meski belum sampai waktunya. Tahanlah keinginan ini demi mencegah dampak buruk pada Anda dan bayi.

Ketika pembukaan sudah lengkap 10 cm, Anda bisa mengejan sesuai instruksi yang diberikan tenaga kesehatan. Instruksi ini akan disesuaikan dengan puncak kontraksi rahim (ketika rasa nyeri dan dorongan di bagian bawah muncul). Dengan begitu, proses pendorongan bayi keluar dari rahim dan vagina akan terjadi secara efektif dan lebih lancar.

Selain membutuhkan upaya dari ibu, dukungan dari keluarga juga sangat dibutuhkan. Keluarga diharapkan dapat membantu proses mengejan, misalnya dengan membantu ibu mengambil posisi yang nyaman untuk mengejan, memberikan minum, serta menyemangati ibu. Proses mengejan akan terasa menyakitkan dan melelahkan khususnya pada ibu yang pertama kali menjalani proses bersalin.

Bagaimana mengejan yang tepat? 

Ini merupakan topik yang sangat penting. Cara mengejan yang salah hanya akan menyebabkan ibu kelelahan tanpa efek yang berarti terhadap proses persalinan bayi. Beberapa ciri-ciri mengejan yang benar antara lain sebagai berikut:

  • Mengejan dilakukan seperti ingin mengeluarkan buang air besar, yaitu dorongan ditujukan untuk area dasar panggul.
  • Mengejan tidak dibarengi dengan teriakan yang berlebihan. Hal ini hanya akan menyebabkan ibu lebih cepat lelah akibat berteriak.
  • Tidak terlihat otot leher yang menegang secara berlebihan. Ketika ibu salah mengejan, bisa jadi tekanan hanya ditujukan di area leher, tapi kurang mendorong di bagian bawah.
  • Saat sedang tidak muncul kontraksi, ibu tidak perlu mengejan. Anda bisa beristirahat sejenak sambil minum air putih.
1 of 2

Akibat cara mengejan yang salah

Meskipun mengejan merupakan proses yang biasa dilakukan ketika buang air besar, tidak jarang dilakukan secara salah saat proses persalinan. Hal ini harus benar-benar dihindari, karena bisa menimbulkan beberapa dampak buruk terhadap ibu dan bayi, yaitu:

  1. Robekan leher rahim atau serviks

Ketika ibu mengejan saat pembukaan belum lengkap, dorongan yang terjadi ketika mengejan akan ditujukan pada leher rahim. Hal ini seakan-akan “memaksa” leher rahim untuk membuka. Akibatnya, bisa terjadi robekan pada leher rahim akibat dorongan paksa tersebut.

  1. Stres pada bayi

Mengejan yang dilakukan belum pada waktunya juga menimbulkan stres bagi bayi. Ini karena dorongan akan menyebabkan kepala janin “menabrak” leher rahim yang masih belum terbuka sempurna. Tekanan terus-menerus terhadap kepala bayi ini akan menyebabkan penumpukan cairan di bawah kulit kepala bayi (terbentuk kaput). 

Pembengkakan di kepala ini sangat mungkin menyebabkan bertambah sempitnya jalan lahir yang harus dilewati janin. Akibatnya, ada risiko macet saat proses melahirkan. Tentunya proses ini menambah tenaga yang dibutuhkan ibu dan memberikan risiko terhambatnya proses pengeluaran bayi.

  1. Ibu kehabisan tenaga

Bila mengejan sebelum waktunya, tenaga ibu akan banyak terkuras. Padahal, mengejan sebelum waktunya tidak mempercepat proses persalinan. Ketika tiba waktunya mengejan, yang ditakutkan adalah ibu sudah lelah dan tidak bisa mendorong dengan kuat. Padahal, saat itulah dibutuhkan dorongan yang begitu besar agar sang bayi bisa segera dikeluarkan.

Lalu, bagaimana bila ibu sudah tidak tahan untuk mengejan? Ibu sebaiknya mengalihkan perhatiannya dari dorongan untuk mengejan. Selain itu, praktikkan teknik pernapasan untuk menahannya. Caranya dengan menarik napas dalam setiap muncul dorongan ingin mengejan, ditahan sebentar (2-3 detik), dan dibuang perlahan-lahan.

Ketika belum datang waktunya mengejan, ibu sebaiknya mengambil posisi miring ke kiri. Hal ini akan sedikit mengurangi nyeri kontraksi dan mencegah ibu dari mengejan sebelum waktunya. Untuk menambah pengetahuan serta membiasakan diri terhadap cara mengejan yang tepat, ibu hamil disarankan untuk mengikuti kelas hamil. 

Itulah seluk beluk dan aturan mengenai cara mengejan saat melahirkan. Cara mengejan yang tepat akan membuat proses persalinan Anda lebih efektif dan lancar. Sebaliknya, banyak dampak buruk yang bisa timbul dari cara mengejan yang salah.

[HNS/ RVS]

Lanjutkan Membaca ↓