8 Kiat agar Anak Tidak Takut ke Dokter Gigi

Oleh Tamara Anastasia pada 24 Jul 2019, 15:00 WIB
Membawa anak mengunjungi dokter gigi bisa berubah jadi mimpi buruk. Orang tua bisa melakukan 8 cara ini agar anak tak takut ke dokter gigi.
8 Kiat agar Anak Tidak Takut ke Dokter Gigi (Rawpixel.com/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Takut saat harus ke dokter gigi bisa dialami siapa saja, termasuk anak-anak, apalagi jika pengalaman pertamanya sudah buruk. Namun jangan khawatir, ada beberapa cara yang bisa dilakukan agar anak tidak takut ke dokter gigi.

Pengalaman buruk ke dokter gigi kerap berujung pada trauma berkepanjangan anak terhadap dokter gigi. Orang tua dan dokter gigi memainkan peran penting dalam membuat kunjungan pertama anak ke dokter gigi menjadi pengalaman positif. Kecemasan yang ditunjukkan orang tua bisa “dideteksi” oleh anak, dan dokter gigi yang tidak ramah bisa menciptakan rasa takut pada anak yang tak perlu.

Tips agar anak tidak takut ke dokter gigi

Jika anak memperlihatkan ketidaksukaan, bahkan ketakutan saat diajak ke dokter gigi, Anda bisa melakukan cara-cara di bawah ini:

1. Perkenalkan anak dengan dokter gigi sedini mungkin

Semakin awal anak dibawa mengunjungi dokter gigi, semakin baik. “Ini akan memberi anak dental home (tempat anak menerima perawatan gigi yang konsisten, komprehensif, dan penuh kasih sayang) yang mana kebutuhannya—apakah itu adalah kunjungan pencegahan berkala atau kunjungan darurat akan ditangani dengan baik,” kata Rhea Haugseth, D.M.D., dari American Academy of Pediatric Dentistry seperti dikutip di Parents.

Menurutnya, waktu paling baik untuk memulainya adalah saat si Kecil sudah menginjak 1 tahun atau ketika gigi pertamanya sudah terlihat.

2. Jangan langsung melakukan tindakan

Menurut drg. Callista Argentina dari KlikDokter orang tua sebaiknya menghindari langsung melakukan tindakan. “Agar anak tidak ketakutan dan histeris saat ke dokter gigi, alangkah lebih baiknya orang tua memberi contoh terlebih dahulu pada anak,” sarannya.

Orang tua bisa duduk di bangku pemeriksaan, lalu minta dokter berpura-pura untuk memeriksa gigi. Kalau anak melihat orang tuanya tidak takut, tetap tenang, dan tidak merasa cemas saat diperiksa giginya, anak juga bisa setenang dan seberani orang tuanya,” jelas drg. Callista.

1 of 3

Selanjutnya

3. Lakukan tindakan minimal terlebih dulu

“Setelah memberikan contoh, berikan kesempatan kepada anak untuk mengenal alat-alat yang akan digunakan untuk memeriksa giginya terlebih dahulu. Pada tahap awal, biasanya dokter gigi akan memasukan kamera (intra oral camera) ke dalam mulut anak untuk mengambil gambar giginya.

Menurut drg. Callista, Anda bisa mengalihkan perhatiannya dengan mengajaknya melihat layar di atas kepalanya, dan beri tahu bahwa giginya sedang difoto oleh dokter.

4. Bawa mainan favoritnya

Ciptakan suasana yang relaks dan menyenangkan saat berkunjung ke dokter gigi. Bila mungkin, bawa boneka atau mainan kesayangan anak agar ia merasa aman dan nyaman.

5. Jangan bicara yang tidak-tidak

Saat bersiap-siap membawa anak ke dokter gigi, khususnya untuk yang pertama kalinya, Anda tak perlu menceritakan detail yang tak perlu. Ini akan membuat anak bertanya-tanya, dan menambahkan lebih banyak informasi misalnya tentang penambalan gigi yang mungkin ia butuhkan bisa menimbulkan rasa cemas yang tak perlu.

Menceritakan pengalaman buruk yang pernah Anda alami saat berkunjung ke dokter gigi sama sekali bukanlah hal yang tepat. Tetap bersikap positif saat mendiskusikan kunjungan dokter gigi, tetapi jangan memberikannya harapan palsu.

“Hindari mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Karena jika pada akhirnya anak butuh perawatan gigi, ia akan kehilangan kepercayaan pada Anda dan dokter gigi,” kata Joel H. Berg, D.D.S., M.S., dari Direktur Departemen Kesehatan Gigi di Rumah Sakit Anak Seattle kepada Parents.

6. Dampingi anak

Selama proses pemeriksaan berlangsung, temani si Kecil di ruang pemeriksaan dokter gigi, supaya anak lebih nyaman dan percaya diri, apalagi jika itu adalah kunjungan pertamanya. Jangan lupa untuk memberikan pujian atas keberaniannya.

2 of 3

Selanjutnya

7. Bermain peran

Juga dari KlikDokter, drg. Wiena Manggala Putri turut menambahkan, bahwa Anda juga perlu bermain peran dengan anak sebelum membawanya ke dokter gigi, supaya anak tidak atau canggung saat sudah berada di ruang pemeriksaan.

“Anda bisa berpura-pura menjadi dokter, sedangkan anak menjadi pasien. Berikan informasi mengenai prosedur apa saja yang biasa dilakukan dokter gigi, saat sedang berada di kursi pasien. Setelah itu, Anda juga bisa bergantian peran agar anak juga ikut merasakan menjadi seorang dokter gigi yang sedang merawat pasiennya, ” papar drg. Wiena.

8. Jangan menyogok anak

Banyak ahli yang tidak merekomendasikan menjanjikan anak suguhan istimewa jika berperilaku baik di klinik gigi. Melakukannya hanya akan meningkatkan kekhawatirannya.

Mengatakan,”Kalau kamu tidak rewel atau tidak menangis, nanti akan dibelikan permen,” bisa membuat berpikir, “Apa, ya, yang mengerikan dari dokter gigi yang membuatku ingin menangis?”

Menjanjikan hadiah yang manis-manis juga bisa bikin anak bingung setelah dokter gigi mengedukasinya untuk menjaga kesehatan dan kebersihan gigi dengan menghindari makanan manis yang bisa bikin gigi berlubang. Daripada menyogok anak dengan hadiah, apalagi dengan makanan atau minuman manis, puji ia misalnya dengan memberikan stiker atau mainan kecil sebagai dorongan.

Jangan bosan mengingatkan anak tentang pentingnya kebersihan mulut

Ajarkan anak bahwa mengunjungi dokter gigi adalah sebuah kebutuhan, bukan pilihan, dan dokter gigi gigi akan membantu menjaga gigi anak sehingga tetap sehat dan kuat. Anda mungkin juga perlu menjelaskan bahwa dokter bisa mencegah gigi anak jadi berlubang dan memastikan para pasiennya memiliki senyum yang indah.

Selain itu, jadilah contoh yang baik. Misalnya dengan merawat gigi dengan baik di rumah serta tidak malas (apalagi mengungkapkan ketakutan) untuk cek gigi rutin tiap 6 bulan sekali.

Itulah cara-cara yang bisa Anda lakukan agar anak tidak takut ke dokter gigi—baik itu merupakan kunjungan pertama atau kunjungan kedua yang sebelumnya anak mengalami pengalaman buruk. Selamat mencoba!

(RN/ RVS)

Lanjutkan Membaca ↓