Prolaps Organ Panggul, Masalah Setelah Melahirkan

Oleh dr. Dyan Mega Inderawati pada 25 Jul 2019, 14:10 WIB
Prolaps organ panggul, hernia, atau turun berok kerap dialami seorang wanita setelah melahirkan. Apa saja tanda-tandanya?
Prolaps Organ Panggul, Masalah Setelah Melahirkan (Foto: girlsgonestrong.com)

Klikdokter.com, Jakarta Anda atau keluarga pernah mengalami keluhan sulit mengontrol buang air kecil setelah melahirkan? Bisa saja prolaps organ panggul jadi adalah biang kerok masalah tersebut. Walau tidak selalu terjadi, turunnya organ-organ, seperti rahim, kandung kemih, bahkan usus dari posisinya bisa dialami wanita yang baru saja melahirkan. 

Bukan hanya akan membuat tidak nyaman dalam keseharian, prolaps organ panggul juga dapat meningkatkan risiko infeksi bila tidak segera ditangani. Oleh karena itu, setiap wanita wajib mengetahui apa saja yang menjadi ciri gangguan yang disebut hernia atau turun berok ini.

Penyebab prolaps organ panggul

Di dalam panggul, terdapat berbagai organ penting seperti kandung kemih, saluran uretra, usus halus, usus besar, rahim, hingga leher rahim. Setiap organ ini disokong oleh otot dan jaringan ikat yang membuatnya tetap pada posisinya. 

Ketika prolaps organ panggul terjadi, otot atau jaringan pengikat organ ini robek dan rusak. Hal ini membuat organ-organ tersebut turun dari kedudukannya semula.

Wanita yang baru saja melahirkan rentan mengalami hal ini. Persalinan sulit, bayi besar, dan riwayat beberapa kali persalinan normal adalah berbagai faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan terjadinya masalah ini. 

Prolaps otot panggul bisa diketahui secara fisik karena adanya benjolan, tapi bisa juga tidak menunjukkan tanda-tanda yang kasat mata. Apa saja yang menjadi ciri dan tandanya?

Tanda dan gejala

Ada beberapa tanda yang dapat menjadi gejala seorang wanita mengalami prolaps organ panggul setelah melahirkan. Tanda tersebut berupa:

  • Rasa penuh atau berat di sekitar panggul. Sensasi ini akan bertambah ketika berdiri lama, mengangkat benda, atau saat batuk.
  • Nyeri tulang belakang.
  • Ada benjolan yang keluar dari vagina.
  • Buang air kecil tanpa disadari.
  • Infeksi saluran kemih berulang.
  • Keluhan dalam hubungan seksual.

Bila sudah cukup berat, organ-organ dalam panggul dapat keluar melalui vagina dan akan segera disadari oleh yang mengalaminya. Akan tetapi, tidak sedikit kasus prolaps organ panggul terjadi tanpa disadari dan baru terdeteksi ketika si ibu melakukan kontrol rutin pasca persalinan.

Pengobatan yang dapat dilakukan

Bila sudah terdiagnosis prolaps organ panggul, terapi dan serangkaian pengobatan mutlak diperlukan. Apakah pijat bisa jadi opsi? Tidak. Pijat tradisional tidak dianjuran menjadi modal utama pengobatan. 

Pijatan yang salah justru dapat memperparah keadaan, membuat organ semakin turun, bahkan mengalami peradangan setelah dipijat. Dalam pengobatan prolaps organ panggul, hal pertama yang harus dilakukan adalah konsultasi kepada dokter. 

Anda tidak perlu terlalu khawatir karena pengobatan prolaps organ panggul tidak melulu harus operasi. Dalam kondisi ringan, prolaps organ panggul dapat diperbaiki dengan gerakan-gerakan yang sifatnya penguatan otot panggul. 

Selain itu, pengobatan juga dapat dilakukan dengan pemasangan alat penyangga rahim di dalam vagina yang bekerja menahan organ yang turun, agar tetap berada di tempatnya. Namun, bila kedua cara ini tidak juga berhasil atau kondisi sudah telanjur berat, operasi jadi pilihan dalam pengobatan. 

Jangan pernah menyepelekan, prolaps organ panggul. Jika tidak tertangani dengan baik, organ yang turun rentan mengalami infeksi. Karena itu, perhatikan dengan saksama apa yang menjadi ciri dan tandanya. Segera berobat bila Anda menemukan gejala serupa pada diri Anda. Dengan pengobatan dan terapi yang tepat, komplikasi akibat prolaps organ panggul dapat dihindari.

[HNS/ RVS]