Cara Tepat Diet Sehat untuk Cegah Hepatitis

Oleh Ayu Maharani pada 27 Jul 2019, 10:00 WIB
Hepatitis masih saja banyak terjadi di Indonesia. Padahal, penyakit ini dapat dicegah dengan menerapkan diet sehat.
Cara Tepat Diet Sehat untuk Cegah Hepatitis (Antoniodiaz/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Masih segar di ingatan bahwa beberapa waktu lalu kasus hepatitis A di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur ditetapkan sebagai kejadian luar biasa (KLB). Selain hepatitis A, ancaman juga datang dari hepatitis B. Bahkan, hepatitis B disebut-sebut sebagai silent killer karena cenderung tidak memberikan gejala di awal, tapi berpotensi menjadi kanker hati. 

Atas dasar itu, setiap orang perlu terus waspada dan berhati-hati. Selain menerapkan gaya hidup bersih dan sehat, masyarakat juga dianjurkan untuk melakukan diet sehat agar terhindar dari hepatitis.

Diet sehat untuk hindari hepatitis

Dikutip dari Everydayhealth.com, penderita hepatitis maupun orang yang belum terkena penyakit tersebut wajib menerapkan gaya hidup sehat untuk menghindari kerusakan pada organ hati. 

Menurut Ahli Diet dan Juru Bicara American Dietetic Association, Keri Gans, RD, untuk mencegah hepatitis dan menjaga kesehatan hati, Anda dianjurkan untuk mengonsumsi makanan yang rendah lemak jahat, seperti: 

  • Buah dan sayur-sayuran.
  • Biji-bijian utuh, misalnya oatmeal, beras merah, dan quinoa.
  • Protein tanpa lemak, misalnya ayam tanpa kulit, putih telur, kacang-kacangan yang tidak digoreng dan ikan.
  • Produk susu rendah lemak atau non-lemak.
  • Minyak zaitun.

Sebaliknya, Anda wajib menghindari makanan-makanan berikut agar hepatitis tidak terjadi dan hati senantiasa terjaga kesehatannya.

  • Makanan yang mengandung banyak gula.
  • Makanan yang dibakar.
  • Makanan tinggi garam.
  • Minuman beralkohol.
  • Makanan mentah atau setengah matang. 
  • Makanan olahan yang mengandung beragam zat kimia.

Lalu, bagaimana dengan porsi makan yang mesti diterapkan? Dalam sekali makan, piring Anda harus diisi dengan seperempat karbohidrat yang tinggi serat, seperempat protein tanpa lemak, dan setengahnya lagi diisi oleh sayur maupun buah. 

Jangan lupa untuk selalu mencukupi kebutuhan cairan tubuh, agar makanan yang dikonsumsi bisa terproses dengan sempurna. Cairan yang dimaksud di sini bukanlah minuman bersoda ataupun minuman berkafein, melainkan air putih. 

Panduan minum air putih sehari-hari, yaitu 1 ons cairan untuk 1 kilogram berat badan Anda. Misalnya, jika Anda memiliki berat badan 50 kilogram, maka cairan yang diminum setiap hari harus berjumlah 50 ons atau sama dengan 1,4 liter. 

Bisa konsumsi suplemen, asalkan …

Bagi Anda yang sudah telanjur terkena hepatitis, salah satu suplemen yang dapat mempercepat proses penyembuhan penyakit adalah vitamin B. Agar benar-benar aman dan manfaatnya sesuai dengan harapan, pastikan Anda mengonsumsi suplemen vitamin B sesuai dosis yang dianjurkan dokter.

Di sisi lain, Anda sebaiknya membatasi diri dari paparan vitamin A, B3, C, D, serta zat besi terlalu banyak. Sebab, zat-zat tersebut justru dapat memperparah kerusakan hati yang dialami. 

Nah, itu dia diet sehat yang bisa Anda terapkan untuk mencegah hepatitis. Hal ini bisa memberikan manfaat yang signifikan jika Anda juga telah mendapatkan vaksin hepatitis A saat kecil dan vaksin hepatitis B ulangan ketika dewasa.

Seperti diungkapkan oleh dr. Reza Fahlevi dari KlikDokter, orang dewasa boleh mendapatkan vaksin hepatitis B, apalagi jika dirinya berisiko terinfeksi penyakit tersebut.

“Pemberian vaksin pada orang dewasa diperlukan bagi para petugas kesehatan atau orang-orang yang berisiko terinfeksi hepatitis B seperti memiliki penyakit ginjal, hati, atau HIV, memiliki pasangan seks lebih dari satu, homoseksual, tinggal bersama orang dengan hepatitis B, dan melakukan perjalanan ke daerah wabah hepatitis B,” tutur dr. Reza.

Menyambut Hari Hepatitis Sedunia,  cobalah ikuti tips sehat yang disarankan di atas. Dengan menerapkan gaya hidup sehat yang diikuti diet sehat dan vaksinasi, penyakit hepatitis niscaya tidak akan terjadi. Kalaupun nantinya terinfeksi penyakit tersebut, gejala yang dialami umumnya tidak terlalu parah dan lebih mudah diobati agar bisa sembuh kembali.

(NB/ RVS)