Anak Makan Berlebihan Tanda Autisme?

Oleh Tamara Anastasia pada 28 Jul 2019, 13:00 WIB
Sebuah studi mengatakan bahwa anak makan berlebihan adalah tanda awal autisme. Benarkah pendapat ini?
Anak Makan Berlebihan Tanda Autisme? (Denizo71/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Penelitian terbaru mengatakan bahwa anak makan berlebihan bisa menjadi tanda awal autisme. Padahal orang tua mana yang tidak senang ketika melihat anaknya makan dengan lahap tanpa harus memilih-milih makanan? Selain tidak perlu repot memaksa anak untuk makan, orang tua juga tidak perlu keluar tenaga untuk mengomel jika anak tidak mau makan.

Lalu bagaimana dengan pendapat yang menyatakan bahwa anak yang makan berlebihan berarti menunjukkan tanda autisme? Apakah pernyataan ini benar?

Autisme pada anak

Istilah autisme sering disematkan pada anak yang memiliki perilaku maladaptif atau “aneh”. Tak jarang juga Anda mendengar autisme dikaitkan dengan perilaku acuh dan asyik sendiri.

“Sebenarnya, autisme adalah bagian dari gangguan perkembangan anak. Autisme atau gangguan spektrum autisme (Autism Spectrum Disorder/ASD) adalah gangguan perkembangan fungsi otak yang mencakup berbagai bidang, mulai sosial, emosional, dan komunikasi,” tutur dr. Sepriani Timurtini Limbong dari KlikDokter.

Disampaikan dr. Sepriani, menurut data dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), pada tahun 2012, sekitar 1 dari 68 anak mengalami autisme. Kondisi ini menurut data tersebut lebih sering terjadi pada anak laki-laki dibandingkan anak perempuan.

Sejauh ini, penyebab autisme belum diketahui dengan jelas. Namun, menurut dr. Sepri setidaknya ada tiga faktor yang diyakini memengaruhi terjadinya autisme, yaitu:

  • Faktor genetik. Anak yang memiliki saudara dengan autisme lebih berisiko mengalami autisme pula. Pada kembar identik, bila salah satu anak mengalami autisme, saudara kembarnya juga akan menunjukkan gejala autisme seiring berjalannya waktu.
  • Faktor neurobiologis. Anak dengan gangguan spektrum autisme cenderung mengalami masalah struktur dan fungsi otak yang sudah terjadi sebelum ia lahir.
  • Faktor lingkungan. Beberapa peneliti menyatakan bahwa faktor lingkungan seperti obat-obatan, makanan, zat kimia dapat memicu gejala autisme. Namun, hal itu masih butuh penelitian lebih lanjut.
1 of 2

Tanda autisme bisa dilihat dari kebiasaan makan?

Dilansir dari WebMD, perilaku makan yang tidak biasa umumnya muncul pada anak berusia 1 tahun. Sebuah studi terbaru menemukan perilaku makan seperti hipersensitivitas terhadap tekstur makanan atau mengemut makanan tanpa ditelan biasanya dilakukan oleh 70 persen anak yang mengidap autisme.

Untuk penelitian ini, para peneliti menganalisis deskripsi orang tua tentang perilaku makan anak mereka. Kira-kira, ada 2.000 anak  yang diuji dalam penelitian ini. Studi ini membandingkan antara perilaku makan anak yang normal dengan yang menderita autisme atau Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD).

Akan tetapi, pernyataan anak yang makan berlebih bisa menjadi tanda autisme dibantah oleh dr. Dyan Mega Inderawati dari KlikDokter. Menurutnya, mendiagnosis seorang anak terkena autisme tidak hanya dinilai dari cara mereka makan, tapi juga dari cara berperilaku dan bereaksi terhadap lingkungan sekitar.

“Autisme itu ketika anak punya dunia sendiri. Jadi kalau dinilai cuma dari kebiasaan makan, termasuk jika makannya berlebihan, ya jelas tidak,” kata dr. Dyan Mega.

Menurutnya anak yang menderita autisme itu bisa dilihat jika mereka tidak ada kontak mata dengan orang lain ketika berbicara. Selain itu anak juga susah diajak komunikasi dan perkembangannya lebih lambat jika dibandingkan dengan anak-anak lainnya.

“Misalnya, jika anak A sudah bisa ngomong atau menggambar, tapi yang anak B belum bisa. Nah itu bisa menjadi tanda anak terkena autisme, ” dr. Dyan Mega menambahkan.

Gejala autisme bisa dikenali

Umumnya, orang tua dapat mengenali gejala autisme pada anak sebelum mereka mencapai usia 3 tahun. Gejala ringan autisme bahkan bisa terdeteksi sejak anak berusia 9 bulan.

Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder Fifth Edition (DSM-5), anak dengan gangguan autisme akan mengalami dua gejala utama. Yang pertama, gangguan interaksi dan komunikasi sosial yang meliputi berbagai aspek. Yaitu komunikasi verbal, komunikasi non-verbal, serta kemampuan mempertahankan interaksi dengan orang lain.

Kedua, adanya perilaku yang terbatas dan repetitif. Misalnya, gerakan tangan atau kaki tertentu yang diulang-ulang atau berbicara satu kalimat secara berulang.

Hingga saat ini memang belum ada obat yang dapat menyembuhkan atau menghilangkan gejala autisme sepenuhnya. Terapi yang telah terbukti mengurangi dan memperbaiki gejala adalah terapi perilaku (behavioural therapy).

Tujuan terapi ini adalah memperbaiki kemampuan sosial, mengontrol perilaku maladaptif, serta membentuk perilaku yang baik agar anak dapat beradaptasi dengan lingkungan saat anak dewasa nanti.

Dengan demikian, anak makan berlebihan tidak selalu berarti tanda autisme. Dokter perlu memeriksa anak secara langsung. Bisa jadi, Anak yang makannya berlebihan adalah tanda porsi makan yang ia dapatkan terlalu sedikit atau kurang. Karena itu, pastikan Anda mengatur porsi makan si Kecil dengan tepat dan teratur setiap harinya. 

[HNS/ RVS]

Lanjutkan Membaca ↓