Plus Minus Alat Kontrasepsi Pria

Oleh dr. Resthie Rachmanta Putri. M.Epid pada 30 Jul 2019, 09:00 WIB
Pilihan kontrasepsi tak hanya tersedia untuk kaum wanita saja, tetapi juga untuk pria. Ketahui alat kontrasepsi pria dan plus minusnya.
Plus Minus Alat Kontrasepsi Pria (Norrabhudit/Shutterstock)

Klikdokter.com, Jakarta Kontrasepsi sering diidentikkan dengan urusan wanita. Saat pasangan suami istri berniat untuk menunda atau mencegah kehamilan, wanitalah yang kerap menggunakan kontrasepsi seperti pil, KB suntik, implan, kontrasepsi steril, dan sebagainya. Namun sebenarnya, tersedia juga alat kontrasepsi pria dengan tingkat efektifitas yang sama baiknya.

Setidaknya, terdapat tiga jenis kontrasepsi pria yang mudah ditemui di fasilitas kesehatan, yaitu:

  1. Kondom

Kondom merupakan alat kontrasepsi pria yang paling mudah didapatkan dan dapat digunakan sendiri tanpa bantuan dari tenaga kesehatan. Jika digunakan dengan tepat, efektivitas kondom dalam mencegah kehamilan mencapai 98 persen.

Selain untuk mencegah kehamilan, kondom juga memiliki manfaat lain, yaitu untuk mencegah infeksi HIV dan beberapa jenis infeksi menular seksual lainnya.

Namun demikian, sebagian pria enggan untuk menggunakan kondom karena meyakini ada sensasi yang hilang saat digunakan untuk hubungan intim. Hal ini tidak tepat. Sebab, kondom yang tersedia di pasaran saat ini menggunakan bahan yang sangat tipis. Studi telah membuktikan bahwa mayoritas pengguna kondom dan pasangannya tak memiliki keluhan saat hubungan intim.

Agar kondom efektif untuk mencegah kehamilan, dibutuhkan kedisiplinan dari penggunanya untuk selalu menyediakan kondom terlebih dahulu sebelum hubungan intim dan menggunakannya sebelum penetrasi penis ke dalam vagina.

  1. Vasektomi

Vasektomi atau dikenal dengan istilah sterilisasi merupakan kontrasepsi pria yang bersifat permanen. Oleh karena itu, jenis kontrasepsi ini menjadi pilihan bagi pasangan yang sudah tak menghendaki memiliki anak. Selain permanen, vasektomi juga memiliki efektivitas yang sangat tinggi untuk mencegah kehamilan, yaitu mencapai 99 persen.

Prosedur vasektomi biasanya dilakukan oleh dokter bedah urologi. Dalam prosesnya, dokter akan memotong saluran di dalam organ reproduksi pria, sehingga tidak terdapat sperma di dalam air mani saat ejakulasi.

Dibandingkan dengan sterilisasi pada perempuan (secara medis disebut tubektomi), vasektomi lebih sederhana dan lebih cepat prosedurnya. Tindakan yang dilakukan hanya merupakan pembedahan kecil yang membutuhkan waktu tidak sampai 1 jam.

Pria yang menjalaninya bisa langsung pulang ke rumah setelah tindakan selesai dilakukan, tak perlu dirawat di rumah sakit. Lebih lanjut, vasektomi tidak memengaruhi gairah dan kenikmatan seksual. Warna, bau, dan penampilan air mani juga tidak akan berubah setelah dilakukan tindakan ini.

  1. Senggama terputus

Senggama terputus atau coitus interuptus merupakan metode kontrasepsi zaman dahulu ketika obat dan peralatan medis belum banyak berkembang. Tanpa menggunakan alat atau obat tertentu, senggama terputus dilakukan dengan menarik penis keluar sebelum ejakuasi terjadi.

Meski memiliki beberapa kelebihan seperti tidak membutuhkan biaya dan tidak ada efek samping apa pun, efektivitas senggama terputus terbilang cukup rendah, yaitu sebesar 70 persen.

Artinya, dari 100 pasangan yang melakukan praktik kontrasepsi ini, 30 pasangan tetap mengalami kehamilan. Oleh karena itu, kontrasepsi ini tak terlalu dianjurkan oleh kalangan medis.

Selain ketiga jenis kontrasepsi di atas, terdapat kontrasepsi lain yang dikembangkan untuk pria, yaitu kontrasepsi hormonal berupa suntikan atau pil. Jenis kontrasepsi ini mencegah kehamilan dengan cara menurunkan produksi sperma di testis.

Namun demikian, kontrasepsi hormonal pria ini masih dalam tahap uji klinis dan membutuhkan waktu setidaknya 1-2 tahun lagi sebelum dirilis untuk umum. Jadi, jika pasangan suami istri ingin mencegah atau menunda kehamilan, alat kontrasepsi pria bisa dipertimbangkan untuk digunakan.

[NP/ RVS]